Klemben Klemben, Roti Roti! Biyen Biyen, Saiki Saiki!

Bagi yang mengenal saya dulu, dari usia kecil hingga kuliah, saya adalah pribadi yang katanya “mbencekno” gitu!

Minder, pemalu, tidak mudah bergaul, temannya sedikit, pelit, kutu buku ,senang menyendiri di kamar, pendiam.

Hmmm… Apalagi ya?

Mungkin ada teman-teman saya se-TK, SD, SMP, SMA, kuliah yang sedang membaca tulisan ini bisa menambahkan daftar image negatif tentang diri saya saat itu.

Tapi, proses kehidupan yang keras membuat saya harus memecahkan cangkang zona nyaman tersebut.

Saya harus tetap bisa cari nafkah sendiri di Surabaya, tanpa bantuan orang tua yang sedang “jatuh” secara ekonomi saat itu.

Saya harus bertemu dengan banyak orang tua murid, meyakinkan mereka bahwa saya sanggup mengajar les tambahan ke putra putri mereka yang sudah ada di bangku SMA.

Di situlah saya belajar berkomunikasi, mengirimkan sebuah ide pemikiran yang sederhana namun jelas ke para murid saya.

Kalau gak bisa ngomong, alamat deh saya gak bisa makan! Lha bagaimana lagi, emang duit mengalir ke kocek kalau saya pinter ngomong kok! Hehehe…

Berjalannya waktu, saya dibawa oleh Tuhan dalam sebuah dimensi kehidupan yang sama sekali asing buat saya.

Harus berbicara di depan mic radio, menghibur dan menyemangati orang. Tidak mudah untuk orang yang punya mental block seperti saya.

Apalagi tantangannya kalau diri sendiri susah dan lemah tak berdaya, namun harus tetap tertawa dan terlihat kuat di mata orang lain.

Sampai akhirnya waktu terus berjalan, saya harus bertemu dengan berbagai jemaat di banyak Gereja dan harus berbicara di mimbar untuk memberikan renungan Firman Tuhan.

OMG! Ngeri loh Saudara! Keringat bisa mengalir deras dan terus pengen pipis. Hahahaha.…!

Ah, bila kurenungkan sekarang, itu semua bagaikan kepompong yang menjadi kupu-kupu.
Sama sekali berbeda!

Begitu indah Tuhan membentuk hidup saya.

Kini, bahkan mimbar itu bukan hanya harus di Gereja saja. Tuhan bawa lebih jauh. 

Dalam banyak waktu, Tuhan bawa saya untuk berjumpa dengan banyak orang secara personal. Bahkan yang sama sekali tak kenal awalnya.
Empat mata!

Di sana ada pesan Tuhan pribadi yang harus saya sampaikan kepada mereka. Lebih melelahkan kalau mengandalkan kekuatan saya pribadi.

Tapi saya belajar bahwa melayani harus dengan setulus hati, tanpa berharap upah di dunia.

Tak jarang saya harus menjadi teman yang baik berjam-jam lamanya untuk mendengar setiap keluh kesah dan melihat setiap air mata yang tertumpah. Menjadi tempat pembuangan sampah mereka yang sering tak tersalurkan.

Segala lelahku, terbayar sudah ketika semua perbincangan menjadi sebuah solusi yang paling tidak membuat mereka plong dan melihat sebuah jalan keluar nan inspiratif.

Oh, terima kasih Tuhan!
Kau mengubah hidupku sedemikian drastis.
Yang awalnya terasa tragis, tapi kini berbuah manis.

Pesannya adalah, Tuhan sanggup mengubah keadaan seseorang. Meski bagian tersulit sekalipun, Ia selalu mampu! Tujuannya untuk mendatangkan kebaikan, sesuai kehendakNya. Amin!

Ini kesaksian hidupku, mana kesaksianmu?

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n