KISAH YATIM PIATU YANG MENGHARUKAN

Tidak jarang suatu keluarga kehilangan ayah atau ibu sebelum anak-anak bisa berdiri sendiri. Namun apa yang dialami Prihatin (nama samaran) agak lain.

Ibu dari ayahnya meninggal berturutan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Mereka ditinggalkan sendiri bertujuh waktu mereka semua belum bisa berdiri sendiri.

Bagaimana mereka berhasil mengelola tunjangan, bagaimana mereka mantu sendiri dan membagi tugas! Cerita wanita muda ini (23) mungkin akan meninggalkan kesan khusus bagi kita semua.

Nasib, umur dan jodoh memang hanya Tuhanlah yang tahu. Kita tidak dapat mengetahui, kapan tibanya hari kematian kita; seperti juga kita tidak tahu siapa yang bakal menjadi jodoh kita.

Begitu pula halnya dengan nasib; tidak ada yang dapat mengatakan dengan tepat, bagaimana nasib kita besok atau sepuluh tahun mendatang.

Tidak pernah terpikir oleh saya, bahwa dalam usia yang masih bisa dikatakan muda, saya sudah harus menjadi yatim piatu. Betapa cepatnya Tuhan merubah nasib manusia, sampai terkadang saya berpikir bahwa Tuhan tidak adil dan nasib saya amat buruk.

Saya dilahirkan sebagai anak ke empat dari tujuh bersaudara. Keluarga kami sangat bahagia, setidak-tidaknya begitulah menurut penilaian saya. Persaudaraan kami sangat erat, karena memang hal tersebut sudah ditanamkan orang tua kami sejak kanak-kanak.

Tidak pernah ada rasa iri atau dengki di antara kami. Scmua merasa mendapat perhatian dan kasih sayang yang sama besarnya dari ibu dan ayah. Memang kadang-kadang timbul perselisihan di antara kami, yang akhirnya menjadikan persaudaraan kami tambah erat saja.

 

Masa kecil saya lalui dengan penuh kebahagiaan. Dengan jumlah anggota keluarga yang sudah lebih dari cukup (karena zaman dulu ibu tidak mengenal istilah Keluarga Berencana), maka tanpa harus bermain ke rumah tetangga, kami sudah dapat menyelenggarakan permainan jenis apapun juga.

Hanya kadang-kadang sulit mengajak saudara laki-laki yang jumlahnya 5 orang untuk main pasar-pasaran. Sedangkan kakak wanita terlalu jauh perbedaan umurnya. Memang kami jarang bermain dengan tetangga. Bukan karena dilarang, tetapi kondisi kesehatan ibu kami tidak mengizinkan kami bermain terlalu lama di rumah orang lain.

Ibu menderita kelainan jantung yang sudah dideritanya sejak ia masih kanak-kanak. Tentu saja pada waktu itu ilmu kedokteran belum sehebat sekarang, jadi ibu tidak bisa disembuhkan.

Karena kelainan jantungnya itulah beliau sering sesak napas, wajahnya membiru. Dan kamipun akan bergantian mengurut punggung beliau, untuk sedikit mengurangi penderitaannya. Dengan penyakit yang dideritanya, ibu tidak mempunyai kegiatan di luar rumah.

Hanya terkadang, sebagai istri seorang pegawai negeri, ia berorganisasi dengan para istri pegawai lainnya.

Ayah yang sudah bekerja lama sekali pada sebuah bank pemerintah, mempunyai kedudukan yang lumayan. Kami tidak pernah hidup dalam kemewahan, karena ayah tidak mau dan beliau tidak ingin kami menjadi sombong dan manja.

Beliau kerap berkata, “Jangan melihat ke atas saja, tetapi lihat juga yang di bawah. Masih banyak orang yang lebih menderita dari kita.”

Dan beliau selalu menekankan bahwa tugas kami hanya belajar, sekolah yang tinggi, sehingga kami akan mempunyai cukup bekal untuk hidup sendiri di hari nanti.

Masih terngiang di telinga saya ucapannya: “Mumpung ayah masih sanggup membiayai sekolah, belajarlah sunguh-sungguh. Saya tidak akan meninggalkan warisan yang berlimpah-limpah. Tetapi dengan bekal ilmu yang kalian dapat, kalian akan bisa menantang hidup yang keras ini.”

Kami menuruti nasihatnya, dan memang suasana belajar selalu tercipta di rumah kami. Masing-masing dari kami mempunyai cita-cita yang berbeda-beda.

Ayah dan ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya, bahwa kami harus jadi ini dan itu. Setiap pilihan kami selalu direstuinya, asalkan kami sungguh-sungguh menekuninya.

Ketika itu, banyak di antara kami yang bercita-cita menjadi dokter, karena kami beranggapan akan dapat menyembuhkan ibu yang tercinta.

 

Demikianlah waktu terus berjalan dan kebahagiaan tetap melingkupi keluarga kami. Sementara itu kesehatan ibu semakin memburuk. Berbagai cara pengobatan sudah dilakukan, dari yang bersifat ilmiah sampai ke mistik.

Kami hanya menginginkan kesembuhan ibu. Ayahpun berusaha agar ibu bisa dioperasi di luar negeri, walaupun harapan untuk hidup hanya 40%. Tetapi karena jantungnya yang semakin lemah, tidak mungkin baginya untuk naik pesawat terbang.

Kami semua hanya dapat berdoa agar beliau diberi kesempatan hidup yang lebih panjang lagi. Tetapi manusia hanya bisa berharap. Tahun 1973, hanya beberapa hari di rumah sakit, ibu kami menghadap Tuhan YME.

Sudah tentu kejadian ini merupakan pukulan yang amat hebat bagi kami semua, termasuk ayah, orang yang sekian tahun hidup bersamanya dalam susah dan senang. Dalam usia 16, saya tidak beribu lagi, sedangkan adik yang terkecil masih duduk di SD.

Belum pernah kami merasakan kehilangan yang amat besar seperti ketika itu. Hanya dengan nasihat tante-tantelah, kami dapat menerima kenyataan ini. Kami harus menyadari bahwa ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kami, telah pergi jauh dan tidak akan kembali lagi.

Di satu pihak kami merasa bersyukur, karena dengan demikian hilanglah sudah semua penderitaan yang harus ditanggungnya. Tetapi di pihak lain, kami merasakan kesedihan yang amat dalam.

Tidak ada lagi orang yang menyambut kedatangan kami sepulang sekolah, tidak ada lagi yang membuatkan kami masakan yang enak-enak, atau menunggui kami bila kebetulan kami sakit.

Rumah menjadi sepi sekali dengan kepergian ibu, terlebih ketika saudara-saudara yang melayat sudah kembali ke rumah masing-masing. Hidup berjalan terus, dan kami mulai disibukkan atau lebih tepat menyibukkan diri dengan pelajaran-pelajaran.

Untuk melepas kerinduan, kami mengunjungi makamnya secara teratur dan menaburkan bunga mawar di atas nisannya.

Banyak sekali perubahan yang terjadi di keluarga kami setelah ibu meninggal. Kakak yang tertua (wanita) kini bertugas sebagai pemegang uang. Dialah yang mengatur segala keperluan kami, dari masalah dapur sampai uang sekolah.

Memang sejak dulu ayah menyerahkan seluruh gajinya pada ibu dan sejak kecil kami semua diberi penjelasan berapa besar jumlah penghasilan beliau.

Dengan demikian kami sadar, bahwa kami tidak bisa begitu saja meminta uang. Terkadang, bila kakak wanita sedang sibuk ujian, sayalah yang bertugas mendampingi ayah dalam pesta-pesta perkawinan,. pertemuan di kantor dan lain lain, karena memang kami hanya berdua yang wanita.

 

Mungkin karena kesedihan yang begitu mendalam, setahun sesudah kehilangan orang yang dicintainya, ayah mendapat serangan jantung.

Takut sekali kami mendengar penjelasan dokter waktu itu. Haruskah kami kehilangan lagi orang yang kami cintai dan hormati? Tidak ada kehilangan yang lebih besar daripada itu. Tidak, kami tidak menginginkannya.

Tuhan, biarlah ayah diberi usia yang panjang, agar ia dapat melihat anak-anaknya menjadi sarjana, menikah dan ia akan bermain dengan cucu-cucunya.

Serangan pertama terjadi ketika saya berusia 17. Masih terbayang di benak saya, ketika itu ayah terbaring di rumah sakit dan ia memberi saya sebuah cincin yang rupanya telah disiapkannya sejak lama.

Saya hanya bisa menangis terharu saat itu. Saya sadar, bahwa ayah tidak dapat memberi kami kasih sayang seperti halnya seorang ibu. Hanya dengan memberi kami benda-benda mahal, ia bermaksud untuk menunjukkan kasihnya pada kami.

Dan serangan jantung yang berikutnya terjadi pada malam menjelang lebaran. Sungguh merupakan hal yang amat mengharukan. Di malam takbiran itu, kami semua berjaga malam di rumah sakit, walaupun hanya di luar karena ayah dimasukkan dalam ruang ICCU.

Keesokan harinya, satu persatu kami bersujud di depannya, meminta ampun atas dosa-dosa yang kami buat. Aneh sekali rasanya berlebaran di rumah sakit, sementara orang lain saling kunjung mengunjungi dan bergembira.

Tetapi kamipun berusaha untuk menyembunyikan kesedihan kami, karena hanya akan menambah penderitaan ayah.

Serangan-serangan berikutnya tidak lagi mengejutkan kami. Kami sudah terbiasa dan hanya dapat berdoa. Menginjak usia ketiga kematian ibu, kakak saya yang tertua berniat menikah.

Dan bertepatan dengan hari ulang tahun ayah, acara lamaranpun dilaksanakan, sambil sekaligus menentukan hari perkawinan.

Kami semua sudah bersiap-siap dan ribut menentukan siapa yang akan berdiri di sebelah ayah pada saat upacara berlangsung. Tetapi segala rencana buyar, ayah mendapat serangan lagi dan ini untuk yang terakhir kalinya.

Hanya tiga tahun setelah kehilangan ibu, kini kami harus kehilangan satu-satunya orang tempat kami berlindung dan mengadu. Rencana perkawinan yang sedianya akan berlangsung dua bulan kemudian dibatalkan.

Sekali lagi kami mendapat pukulan hebat. Tetapi kami harus menghadapi kenyataan pahit ini. Dan atas persetujuan kami bersama, ayah dimakamkan satu liang dengan ibu.

Biarlah mereka berdampingan sehidup dan semati. Kami hanya bisa berdoa agar arwah mereka mendapat tempat yang layak di sisiNya.

 

Berbagai macam persoalan timbul silih berganti semenjak kami betul-betul tidak mempunyai orangtua lagi. Dan itu harus kami hadapi bersama. Ayah tidak banyak meninggalkan warisan pada kami, karena beliau memang tidak menginginkan kami memperebutkan harta warisan.

“Memalukan,” kata beliau. Dan setelah lewat 100 hari kematiannya, kami semua bersiap-siap menyelenggarakan pesta pernikahan kakak kami yang dulu tertunda.

Lucu sekali rasanya waktu itu. Seakan-akan kamilah yang akan mantu. Segala persiapan kami kerjakan bersama, dengan bantuan sanak saudara dan teman-teman kami sendiri.

Mulai dari menyusun acara, membuat naskah undangan, mengirim undangan dan segalanya, kami kerjakan sendiri. Dan ketika tiba hari pernikahan, rasa sedih tidak bisa dibendung lagi

Tidak ada upacara “sungkeman”, karena kakak saya hanya mau sungkem pada orangtua kandung saja. Dan syukurlah semua berjalan menurut rencana. Pesta yang kami adakan betul-betul dari dan untuk orang muda.

Tentu saja ada beberapa teman ayah ibu yang hadir. Tetapi rata-rata, teman-teman kamilah yang menghadiri pesta tersebut.

Dengan perkawinannya, berarti kakak saya harus tinggal di tempat lain. Karena memang kami sudah mengadakan perjanjian, bahwa yang sudah berkeluarga tidak boleh tinggal di rumah dan mencampuri urusan kami, toh mereka sudah cukup dipusingkan oleh keluarganya.

Pembagian tugas harus diperbaharui. Sekarang sayalah yang memegang uang (menteri keuangan, menurut istilah keluarga kami). Kakak laki-laki ditugaskan merawat mobil yang kami miliki dan sedapat mungkin memperbaiki sendiri bila terjadi kerusakan-kerusakan.

Dengan pemasukan uang yang tidak seberapa (karena sekarang tidak ada lagi yang memberi penghasilan), saya harus berusaha agar uang tidak tekor.

Kami tidak mendapat uang pensiun, karena ayah meninggal sebelum masa tugasnya berakhir. Kalau keluarga lain, mungkin masih bisa bergantung pada pensiun janda. Tetapi inipun tidak kami peroleh; ibu meninggal lebih awal dari pada ayah.

Uang yang kami terima setiap bulan, adalah uang tunjangan yatim piatu, dan ini hanya kami peroleh sampai kami berusia 23 tahun. Pengeluaran direncanakan seteliti mungkin, jangan sampai terjadi pemborosan.

Tetapi kami semua tetap bersekolah, karena kami masing-masing ingin mewujudkan keinginan orangtua kami; belajar untuk kemudian bisa berdiri sendiri.

Ketika itu kami berlima sudah menjadi mahasiswa di universitas negeri, jadi biaya tidak terlalu besar. Hanya dua adik kami yang masih membutuhkan biaya yang lumayan besarnya.

Tuhan yang adil kali ini mendengar doa kami. Kami tidak pernah dibuatNya sampai menderita kelaparan, diberiNya kami jalan untuk mendapatkan rezeki, sehingga kami tetap bisa melanjutkan sekolah.

 

Hanya pada saat-saat tertentu, kami sangat terenyuh. Pada hari Lebaran, misalnya. Kami semua, hanya dapat mengunjungi makam orangtua kami, sementara orang lain berbahagia bersama orangtua dan sanak saudaranya.

Juga bila melihat keadaan teman-teman kami yang beruntung masih memiliki orangtua. Begitu pula ketika keponakan kami yang pertama lahir. Kami semua membayangkan, alangkah bahagiahya bila ayah ibu masih ada, menimang cucu mereka.

Kemudian kakak yang kedua menikah. Sekali lagi kami “mantu”. Kali ini tidak terlalu “membingungkan”, karena kami sudah berpengalaman. Rumah makin bertambah sepi. Satu persatu meninggalkan rumah, walaupun pada akhir pekan kami berusaha untuk berkumpul.

Semua datang menginap di rumah, sehingga kegembiraan yang sejenak bisa menghapuskan kesepian.

Kini, setelah tiga tahun kami menjadi yatim piatu, terasa bahwa apa yang dinasihatkan orangtua kami sangat berguna. Dengan persaudaraan yang erat, musyawarah bersama, kami dapat mengatasi persoalan hidup yang datang silih berganti.

Masing-masing kini sudah mulai berdiri sendiri. Dengan keahlian yang kami miliki, kami mulai untuk tidak lagi menggantungkan diri pada keuangan keluarga.

Perjalanan hidup kami masih panjang, dengan segala rintangan dan kesenangannya. Tetapi kami sudah terbiasa dengan kehilangan-kehilangan dan kenyataan pahit yang harus dihadapi.

Hanya dengan bekal persaudaraan yang erat dan berusaha keras untuk menyelesaikan sekolah, kami akan terus berusaha untuk tetap menjaga nama baik orangtua kami. Karena hanya itulah yang dapat kami lakukan untuk membalas budi mereka, dan hanya di situlah letak kebahagiaan kami.

 

(Seperti pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Mei 1981)