KISAH MENGHARUKAN SAYA BERSAMA AARON, PUTRA BAYU, KORBAN BOM SURABAYA

Senin 21 Mei 2018, pukul 18an, di rumah duka keluarga Bayu Gubeng Kertajaya 1 Surabaya

Setelah ngobrol lama dan mendalam bersama Pak Sis (Bapak Stefanus Hendro Siswanto), ayah dari mendiang Aloysius Bayu Rendra Wardana, saya duduk berbaur dengan para pelayat lain yang sore itu datang menyatakan simpatinya pada keluarga Bayu.

Seperti kita tahu, saat peristiwa bom di Gereja SMTB, Bayu menghadang laju motor pembawa bom yang akan masuk ke dalam Gereja. Di usia yang relatif muda, 38 tahun, Bayu gugur sebagai pahlawan yang mencegah korban lebih banyak lagi.

Bayu meninggalkan istri Monik Dewi Andini, dan 2 orang anak yang masih kecil-kecil, yaitu Cornelius Aaron Nata Dinindra (2 tahun 9 bulan) dan Birgitta Alyssia Nata Dinindra (10 bulan).

Dalam bagian obrolan saya yang lain dengan Monik, istri Bayu, Aaron mulai sering bertanya “Mana Papa Bayu ?

Hmmm, wajar saja kalau Aaron menanyakan papanya, karena biasanya tiap hari pasti ketemu untuk bercanda dan bermain. Tapi waktu itu sudah hampir 10 hari tidak pernah ketemu.

Papa Bayu sekarang ada di rumah sakit”, jawab Monik.

Papa Bayu sakit ? Sakit apa ? Kapan Papa Bayu pulang ?” tanya Aaron kembali dengan penasaran.

Monik menuturkan pada saya bagaimana pergumulannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan putra putrinya kelak.

Saat saya menidurkan Aaron di malam hari, kadang saya ajak dia bercakap-cakap tentang papanya. Saya berusaha menjelaskan bahwa papanya sudah di Surga bersama para malaikat.

Saya juga jelaskan, nanti ketika papanya pulang dari Rumah Sakit pun mungkin tidak bisa nampak seperti biasanya.

Papa Bayu nanti ditaruh di dalam kotak gitu Aaron…kita gak bisa lihat. Tapi papa Bayu bisa lihat kita” jelas Monik yang bikin saya semakin sedih mendengarnya.

Dalam bagian lain, saya pernah dikirim video dari keluarga yang tidak bisa saya share di sini, nampak Aaron mendekat pada peti jenasah Bayu.

Aaron bertanya terus “Mana Papa Bayu ? Papa di dalam kotak ? Gak bisa dibuka kotaknya ? Papa Bayu tidur di dalam ? Papa pakai baju ?”, demikian pertanyaan beruntun yang Aaron tanyakan sambil dia menggapai peti bagian atas dan menyingkapkan kain penutupnya.

Hmmm…..saya juga bingung harus jawab apa kalau ditanya begituan. Sedih….hiks….

Kamu harus bangga nak punya Papa Bayu yang rela mati sebagai martir, demikian kata saya dalam hati untuk meredam kesedihan mendengar cerita Monik.

Aaron punya kue. Ini kuenya !” demikian dengan cedal dan lucunya suara imut Arron menghampiri saya sambil menyodorkan kotak-kotak kecil berisi kue yang dibungkus dengan warna pink. Entah kue dari mana itu.

Looh…dikasih ke om kuenya ya ?” nanya saya pada Aaron. Tapi ia malah berlari ke tempat yang lain. Terus kembali menghampiri saya.

Ini coklat…” Aaron menunjukkan sebungkus permen coklat dengan bungkusan plastik yang nampaknya ia kesusahan untuk membukanya. Digigit-gigit pun tidak terbuka bungkusnya.

Sini om bukain !” saya menawarkan diri untuk membukakannya. Dengan girangnya Aaron langsung makan tuh permen coklat sampai cemot (belepotan) mulutnya. Hehehe…lucu bener nih anak pikir saya !

Ia berlari-larian di antara para relawan yang menyiapkan sound system untuk keperluan kegiatan doa setiap malamnya di rumah keluarga. Saya pikir daripada mengganggu dan nanti tersandung jatuh, saya alihkan perhatian Aaron dengan mengajaknya ngobrol.

Nama kamu siapa ? Eh kamu udah mandi apa belum….Oh iya kamu ga boleh nakal-nakal ya….Ntar aku tembak loh kalau nakal, doooor….doooor…doooor !” kata saya ke Aaron dengan nada suara seperti anak kecil.

Mendengar suara anak kecil yang saya buat-buat itu, Aaron tertawa terbahak-bahak sambil kelihatan giginya yang masih kelihatan tempelan permen coklat bekas ia makan tadi.

Hihihihihihi….hihihihi….” Aaron terus ketawa ‘ngekel‘ (bahasa Jawa: terbahak-bahak) mendengar suara anak kecil yang saya buat-buat.

Door…dooor…dooor” Aaron balas menodongkan tangannya seolah menembak saya balik.

Aaron suka minum susu”, katanya ke saya. “Hah?? Susu apa?” tanya saya balik
Itu loh susu di sana”, sambil menunjuk arah ke depan gang rumahnya.

Kemudian Aaron lari ke depan gang. Karena kuatir jatuh maka saya ikuti dia. Tiba-tiba Aaron menggandeng tangan saya.

Itu loh susu di sana. Aaron mau beli susu di sana” suaranya yang imut sungguh membuat saya tersentuh menuruti keinginannya berjalan ke depan gang.

Sambil berjalan bergandengan, Aaron ngajak ngobrol beberapa kalimat yang saya kurang jelas maksudnya. Yang pertama memang artikulasi anak kecil kan belum jelas. Yang kedua situasi sore menjelang malam itu mulai ramai dengan pengunjung.

Ini loh beli susu di sini !” tunjuk Aaron sambil bersiap-siap masuk ke dalamnya.

Ohhhhhh, di Indomaret toh ! Ya ampun….saya pikir saya ini mau diajak ke mana.

Begitu masuk dalam toko, ia lepaskan gandengan saya dan berlari cepat menuju ke sebuah rak berisi susu yang memang kemasannya untuk anak-anak. Ia pilih 1 kotak rasa plain, kemudian lari ke depan ke arah kasir, kemudian balik lagi ke rak yang tadi. Seperti bingung begitu mau pilih yang mana. Akhirnya ia ambil lagi yang rasa coklat.

Udah ? Itu yang Aaron mau minum ? Yuk ke depan,  ke mbak kasir untuk bayar” kata saya.

Aaron lari ke depan di depan kasir. Saya kasih Aaron selembar uang 10ribuan untuk ia serahkan ke kasir. Setelah ia serahkan, ehhhh…Aaron lari lagi ke rak belakang yang tadi. Mbak kasirnya bingung, karena ada pembeli lain yang sudah antri untuk membayar belanjaannya.

Sebentar ya mbak….” kata saya kepada kasir yang bertugas.

Saya lari ke belakang, dan di sana Aaron bingung milih susu apalagi. Akhirnya dia ambil yang rasa strawberry.

Udah ya ? Yuk Aaron, kita bayar ke depan” suruh saya ke anak yang wajahnya mirip Bayu ini.

Begitu di depan kasir, saya berusaha menjelaskan “Mbak, minta maaf ya. Mohon maklum ya mbak kalau sedikit terganggu. Anak ini mbak tahu ? Papanya beberapa hari yang lalu meninggal kena bom sewaktu menjaga Gereja” jelas saya dengan harapan mbak kasirnya ini maklum dengan tingkah si Aaron.

Oh ini ya pak. Kasihan ya pak, lucu anaknya !”, kata mbaknya seolah paham dengan situasi yang terjadi.

Begitulah, yang saya tahu dalam psikologi anak. Ia akan sedikit ribut, sedikit nakal, dan cari perhatian ketika ia mulai terabaikan. Bayangkan, sudah 10 harian Aaron tidak ketemu papanya. Tidak bermain dan bercanda dengan papanya. Ia kehilangan figur papa yang selama ini bersamanya.

Duh Tuhan, sampai di sini bergejolak hati saya. Pengen nangis…Saya bisa bayangkan di usia sedini ini kalau saya sudah gak bisa ketemu dengan papa saya lagi bagaimana ya rasanya ?

Setelah menyelesaikan pembayaran, saya gandeng Aaron untuk pulang meninggalkan Indomaret. Sambil menenteng tas kresek berisi susu belanjaannya, Aaron terlihat senang sekali. Dia pengen minum susunya, tapi saya bilang entar di rumah saja.

Saking senengnya Aaron lari ke depan sampai ia jatuh. Saya pikir nangis. Tapi Aaron segera bangun sendiri dan tidak nangis sama sekali. Hanya sedikit kaget.
Begini ini jagoan papa Bayu. Ntar gede harus seberani dan sekuat papanya” kata saya dalam hati.

Kami bergandengan tangan lagi pulang ke rumah keluarga Bayu. Hanya kurang lebih 20 meteran saja dari Indomaret.
Sampai di rumah, Aaron digoda beberapa anggota keluarganya “Abis dari mana aja Aaron ? Busuk…busuk…busuk !” goda tante-tantenya.

Yang dimaksud adalah badannya bau karena belum mandi. Tapi yang saya tahu hanya digoda saja karena Aaron sudah mandi dan terlihat segar. Cuma sedikit keringatan saja di sekitar kepala karena berjalan kaki ke depan PP itu tadi.

Coba dibau busuk gak ?” kata beberapa orang keluarganya yang saya belum kenal. Langsung Aaron menyodorkan kepalaya untuk dicium. Dia pengen membuktikan kalau dirinya tidak bau seperti yang digodakan oleh orang-orang tadi.

Yang bikin saya kaget, Aaron juga menyodorkan kepalanya untuk saya cium. Tanpa diminta, ia beralih dan agak mendongakkan kepalanya dan segera saya sambut dengan mendekat dan mencium Aaron. Wangi dan segar, bau anak kecil yang tanpa dosa.
Tapi sedih, harus ditinggal pergi oleh papanya untuk selamanya…

Lagi-lagi saya ingin menangis…Orang Jawa bilang, ‘semendal ati saya’ !

Aaron ini tidak pernah kenal sebelumnya sama saya. Saya tidak pernah dekat juga sama Aaron dan keluarganya. Saya tahu Aaron juga hanya dari foto-foto wartawan yang banyak meliput. Tapi mengapa Aaron bisa secepat ini mau dekat dan akrab ama saya ?

Anda yang punya anak kecil, anda yang seorang pendidik anak, pasti tahu bukan kalau anak kecil itu belum tentu bisa dengan cepat dan nyaman berbaur serta bergaul dengan orang asing yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Lha ini ???

Tante Waty, anggota keluarga Bayu, bilang, “Bapak dipenuhi Roh Kudus, kasih Bapa Surgawi membuat Aaron mau dan nyaman sama anda. Saya juga heran kok Aaron secepat itu mau ama pak Gideon. Rekan-rekan jurnalis dan para tamu yang lain gak ada yang bisa sedekat itu loh !

Ah, saya ini masa seperti itu tante ?” , balas saya tak percaya

Yang saya lakukan hanya sesuatu yang sederhana kok !
Saya cuma berempati. Saya cuma bayangkan kalau saya ini Aaron.

Saya sudah tidak bisa ketemu papa lagi.
Saya sudah gak bisa ngajak ngomong dan bercanda gurau lagi sama papa.
Saya ga bisa berlindung dan mendekap papa lagi saat terasa sakit atau merasa tak aman.
Saya ga bisa menangis lagi mengungkapkan kesedihan lagi di depan papa.
Hanya itu saja yang saya rasakan.

Jadi selama saya bisa , sedikit saja, ya…sedikit tanpa arti mungkin, saya berusaha merepresentasikan kasih Bapa Surgawi yang juga pernah saya rasakan saat saya ditinggal mendiang papa saya.

Waktu itu saya kehilangan rasa aman, tidak ada lagi tempat berlindung, tidak ada lagi kehangatan kasih papa yang menyelimuti hati yang gundah. Tapi saat itu kasih Tuhan hadir. Kehilangan papa membuat Tuhan hadir sebagai Bapa yang menggantikan mendiang papa saya.

Ia Bapa yang selalu mengasihi saya tanpa syarat.
Ia Bapa yang mengirimkan makanan untuk bisa saya makan tiap harinya.
Ia Bapa yang membela dan melindungi saya saat saya terancam dalam bahaya.
Ia Bapa yang menggandeng, mencium dan mendekap saya saat dalam kehampaan dan kesendirian.

Maka itu pula yang menjadi doa saya untuk Aaron. Biarlah Bapaku yang di Surga juga selalu menjagai kamu nak !  Saya percaya, Tuhan ijinkan Papa Bayu meninggalkan kalian, agar kasihNya semakin nyata tercurah dalam keluarga Bayu.

Take care Aaron & Allysia….Tuhan mengasihimu !

Monik, tetap kuat menjaga anak-anak. Warisan berharga ini sungguh harus kau jaga baik-baik hingga masa depannya. Anak panah itu harus ditarik mundur ke belakang sesaat. Berikan kendalinya ke tangan Tuhan,  maka Ia akan lesatkan panah itu jauh ke depan, tepat sasaran !

Doa saya menyertai keluarga Bayu, pahlawan yang rela mati mengorbankan nyawa banyak jiwa.

Untuk anda yang membaca kisah saya ini, tetap dukung keluarga ini di dalam doa, untuk tetap setia kepada Tuhan. Tidak menjadi kecewa saat keadaan terasa pahit dan mengecewakan.

Selalu terselip doa saya untuk Surabaya dan Indonesia.
Biarlah peristiwa teror bom ini terjadi untuk yang terakhir kalinya.
Tidak ada lagi keluarga tak berdosa yang harus menangis karena anggota keluarganya pergi untuk selama-lamanya karena jadi korban bom.

Damailah kota dan negeriku ! Sejahteralah rakyat dan penduduk Indonesia ! Amin !

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n