Kerjaan apapun itu, menuntut Anda harus pinter bicara! Mau pinter ngomong? Ini kisah saya sih!

Kenapa ya, kebanyakan orang pinter itu kuper? Gandengannya itu pendiam, gak terampil membangun komunikasi yang lancar dan hangat. 

Kaku-kaku gitu orangnya. Kayak punya dunia sendiri yang aneh. Pokoknya “mbencekno” gitu, kata orang sini. 

Parahnya, orang ini gak tahu kalau dia itu aneh. Makanya dia merasa fine-fine saja dan tidak ada yang perlu diubah menurutnya.

Setidaknya yang banyak saya jumpai sih begitu. Lha saya sendiri juga gitu orangnya!

Haaaah??? Masaaaaa??? Selalu begitu reaksi orang yang saya kasih tahu kalau saya ini orangnya pendiem banget.

Duuuuluuuuuuuuu tapi!!! Dari TK sampai kuliah! Hahahaha! Betul kan teman-teman’quuuuee?

Trus gimana caranya kok bisa berubah drastis? 

Ya gak tahu juga! Saya gak pernah ikut kelas public speaking kok. Gak pernah juga ikut seminar bagaimana meningkatkan rasa percaya diri. Mahal ikut begituan Sodara-sodara! Dulu mana ada budget buat upgrade skill.

Lha trus apa dunk yang bikin saya hari ini jadi begini? Ehmmm…Bukan saya gak mau berbagi ilmu biar pinter “ngecuwes’. Tapi emang gak pernah tahu ilmu komunikasi yang efektif itu seperti apa.

Mungkin satu-satunya yang saya bisa jelaskan adalah begini.

Tuhan tuh kalau ngasih mandat, pasti kita diberi modal. Disangoni kemampuan. Tinggal mau gak kita konsisten mengembangkannya.

Jangan malas dan cepat putus asa untuk terus berlatih. Miliki jam terbang yang tinggi. Itu aja kali ya!

 

Nah talenta ngomong ini saya dapatkan dari “The Power of Kepepet”. Lulus kuliah saat itu bingung cari kerjaan. Padahal life must go on bukan? Mana bisa mandeg makan dan bayar kost saat itu. Intinya harus kerja, kerja dan kerja. Kerja opo terus?

Ngakunya pinter ya cari kerjaannya seputar meng-eksploitasi otak, bukan menguras tenaga dan banting-banting tulang. Yang paling gampang adalah ngelesin Matematika, Fisika dan Kimia ke para pelajar SMA. SMA swasta favorit di Surabaya.

Dari pekerjaan inilah saya merasa kesulitan awalnya dengan model diri saya yang kuper dan pendiam. Bagaimana ya bisa ngomong yang jelas dan enak, yang bisa diterima oleh para murid les saya. Susah tau!

Saya ngerti sih bagaimana rumus-rumus itu diturunkan. Bukan cuma menghafal rumus. Sejak dari pelatihan berbagai Olimpiade, saya sudah dibiasakan untuk mengerti filosofi sebuah rumus dibentuk. Makanya soal mau dibolak balik, diputer-puter kayak roller coaster dan di-mix ama kasus IPA terpadu pun, saya bisa mengerjakannya. Gak ada yang sulit.

Yang sulit itu, mengemukakan pikiran saya di otak menjadi kata-kata untuk disampaikan ke para murid les saya. Saya sih ngerti, tapi murid saya kan harus ngerti juga! 

Di otak saya A, nah itu harus nyampek di otak murid les saya, A juga! Itulah komunikasi yang efektif. Lha kalau di otak kita A, nyampeknya di orang lain jadi Z, itu komunikasi yang gagal! Ada yang korslet sepertinya! Gak tahu itu kita atau orang yang kita ajak ngomong yang korslet. Yang terparah kalau dua-duanya error. Wadoooouuuw!

Tapi saya gak putus asa melatih kemampuan saya dalam berkomunikasi ini. Ternyata, gak cukup jadi pinter dan jenius secara kognitif saja loh biar bisa sukses di kehidupan real. Butuh jenius juga dalam berkomunikasi.

Saya baru tahu, ternyata…. oh ternyata! Hampir semua kerjaan juga butuh pinter ngomong. Termasuk pekerjaan belakang layar juga.

Bagaimana orang bisa tahu ide kita kalau gak disampaikan? Bukankah sukses itu juga butuh orang lain untuk mendukung kita? Lha kalau orang lainnya juga bingung ama kita, terus mau sukses dari mana coba?

 

Seiring dengan waktu Tuhan membawa saya ke dimensi berbeda dalam berkomunikasi. Bukan dimensi roh loh! Itu nanti! Hahaha. Tuhan mengutus saya untuk melayani di radio. Maksudnya harus ngomong sebagai penyiar di Radio. Ngomongnya harus bermuatan Firman Tuhan lagi! Nah looooooh!

Tahu dari mana saya kalau itu Tuhan yang nyuruh? Tuhan berkata secara audible begitu, “Hei Gideon. Ayo sana nyiar di Radio rohani.” Wah wah wah! Bukan begitu Sodara-soadara!

Tahunya kalau itu dari Tuhan, ya Tuhan banyak berbicara melalui teman-teman dan salah satunya melalui murid les saya. Namanya Harris Soewignyo. Sekarang dia owner dari Harris Mobil. Ia banyak mendorong saya untuk melayani Tuhan saat itu.

Saya stress beneran loh begitu dapat mandat seperti itu. Malam-malam sampek gak bisa tidur mikirin tugas yang aneh itu. Tuhan juga pasti tahu kan kalau saya ini gak fasih bicara. Apalagi ngomongin Firman Tuhan. Wadouuuw!

Karena sumpeg, saya coba buka Injil. Kan nasihat para Pendeta gitu. Kalau gak bisa tidur, cobalah buka Holy Bible. Ntar kan bisa tenang. Gitu kan katanya!

Saya sih acak saja bukanya. Sambil mangkel juga gara-gara dapat tugas super berat ini.  Eh kebukanya waktu itu di Kitab Yeremia 1. Persis eye catching di depan saya. Isi ayatnya begini.

 

1:4   Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:
1:5   “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”
1:6   Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.”
1:7   Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.
1:8   Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.”
1:9   Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.

 

Makjleeeeb! Kok persis menjawab pergumulan saya waktu itu ya? Saya ini merasa saya gak bisa. Ntar daripada malu-maluin kan mending gak usah. Pikir saya begitu.

Tapi itulah Tuhan. Dia lebih tahu siapa saya dan siapa Anda yang sebenarnya. Dia tahu semua jalan hidup saya dan hidup Anda. Yang Tuhan lihat bukan siapa diri kita kemarin dan hari ini. Tapi siapa kita di masa depan, itu Tuhan sudah tahu.

Maka majulah saya anak culun, pendiam, bodoh soal Tuhan, dan minder ini ke panggung yang berbeda lagi. Itu yang saya maksudkan tadi dengan dimensi yang berbeda. 

Dari sana Tuhan proses saya terus menerus. Bukan cuma belajar dari Kitab Suci, tapi mengalaminya juga. Di sebuah ibadah, Pendeta Samuel Duddy dari Solo waktu itu tiba-tiba datang ke bangku saya dan mengurapi saya dengan doa yang masih saya ingat.

Tetap tinggal dalam FirmanNya. Tuhan mari pakai anakMu ini menjadi alat kemuliaanMu.”

Pendeta Hanny Layantara dan istrinya, Ibu Agnes Maria dari Happy Family Center, saat itu banyak kali memotivasi saya dan memberi kesempatan demi kesempatan untuk melayani Tuhan di Gerejanya.

Dan masih banyak hamba-hamba Tuhan lainnya yang tidak bisa saya sebut satu persatu di sini. Mereka banyak mendukung dan mendoakan saya. Tidak mudah untuk menjawab panggilan Tuhan ini. Kapan-kapan deh saya cerita bagaimana sulitnya. 

 

Kini, 16 tahun sudah, dari sejak tahun 2003, saya melayani Tuhan dengan talenta ngomong. Saya sadar saya masih harus banyak belajar lagi. Belajar untuk memahami maksud Tuhan. Belajar memahami dan mendengar mereka yang curhat dengan beraneka macam masalahnya. 

Ilmu tertinggi dari komunikasi bukan saja pinter untuk ngomong. Tapi juga pinter untuk mendengar. Dari mendengarlah kita bisa ngomong dengan efektif, to the point, menghujam ke satu titik persoalan. Gak ngalor ngidul ngetan ngulon ngomongnya.!

Ini kisahku. Sekarang mana kisahmu Teman? Kisah perjalanan menuju kepada kehendak Tuhan. 

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n