Kalau kopi bisa bernyanyi, ini lagunya…

Gimana yaaaa…

Ada semacam rasa hening yang berdenting.
Meski nada-nada senar itu terpelanting.
Menyeruak di antara aroma yang bising

Hembusan nafas berasap terbatas
Berlari sekilas melewati tirai yang berbias.
Terasa tetes embun keringat mulai menetes seulas.

Kalau saja gerimis menandakan langit yang menangis.
Maka biarlah Masinis Kehidupan mengubah yang sadis menjadi manis.
Dalam deretan strategis, IA adalah pakar yang paling taktis.

Perlahan kidung ini mulai bergaung di relung hati yang cekung.
Rasa bingung berteduh sambil sesekali termenung.
Ketakutan pun langsung tercenung.

Ah, senang dan tenang perlahan makin menggenang.
Mengenang dentang KasihNya yang selalu terulang.
Melodi pengharapan duduk berdiam di not nada yang bergoyang

Angin badai pun tampak sedang menyeberang.
Di simpang jalan kedamaian, kutemukan berhelai sukacita bergirang.
Suara doa memanjat ke Surga pun selalu terngiang.

Terima kasih Tuhan.
Buat kebahagian yang telah bertuan.
Berharap menjadi kerumunan tangkai pendamaian diri yang tak tertahan dan bertahan.

 

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n

Ditulis ketika habis nyeruput kopi dari biji Sunda Gulali yang  di-brewing dengan V60 di Furore Coffee Surabaya.