Kalau ada penyintas covid uhuk-uhuk di dekat Anda, apa yang Anda bakal lakukan hayo??? Ini sharing saya.

Setelah jadi penyintas covid19 sejak akhir Desember 2020, puji Tuhan saya tidak pernah merasa dikucilkan. Baik di lingkaran persahabatan, lingkungan kerja, lingkungan RT rumah kami, maupun pelayanan.

Syukurlah kalau banyak masyarakat yang sudah sadar bahwa covid bukanlah penyakit aib atau kutukan. Sehingga harus dijauhi, meski sudah sembuh. Itu dulu awal-awal virus corona masuk Indonesia.

 

Meski begitu, sampai hari ini pun saya masih prihatin kalau mendengar curhat beberapa orang yang diparnoin ama lingkungannya. Apalagi kalau sudah uhuuuk.. uuuhuuukkk….batuk gitu. Orang sekitar yang tahu dia pernah kena virus SARS_cov_2 langsung minggir jauh-jauh.

Kan emang ada beberapa teman yang masih bergejala meski sudah sembuh. Seperti batuk, mudah lelah, masih sesekali sesak nafas. Efek long covid istilahnya.

Btw, kriteria sembuh dari covid apa? Kalau dulu kan minimal 2x berturut-turut harus negatif test PCRnya.

Tapi sejak 17 Juni 2020, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memperbarui pedoman mengenai kriteria pasien sembuh dari corona dan rekomendasi perilisan pasien dari isolasi.

Pasien positif covid sudah bisa dinyatakan sembuh ketika ia tidak lagi menunjukkan gejala, tanpa memerlukan follow up test PCR.

Kriterianya begini.

  • Pasien tanpa gejala
    Sudah melewati masa isolasi selama 10 hari.
  • Pasien dengan gejala ringan hingga sedang
    Sudah melewati masa isolasi selama minimal 10 hari, ditambah 3 hari tanpa gejala.
  • Pasien dengan gejala berat
    Sudah melewati masa isolasi selama minimal 10 hari, ditambah 3 hari tanpa gejala dan 1 kali hasil negatif pada tes PCR.

Jika pasien merasakan gejala lebih dari 10 hari, ia harus melewati masa isolasi selama gejala masih ada, ditambah 3 hari tanpa gejala, 

 

Saya dan Mama, sekali lagi, puji Tuhan, setelah 3 bulan lebih ini kami tidak pernah lagi merasakan gejala-gejala seperti awal dulu kena.

Malah saya paling salut ama Franky Soni Wijaya, barber langganan saya di Mbois Barbershop Surabaya. Kenapa salut?

Saya agak lega ketika dinyatakan sembuh oleh Puskesmas, karena setelah 14 hari isolasi mandiri, sudah tidak ada gejala lagi, dan tidak menularkan virus lagi (dengan catatan: tetap prokes dijalankan ketat). Padahal PCR test masih positif setelah 2 minggu itu!


Gak wedi kowe Ki cedak-cedak aku? (gak takutkah kamu dekat-dekat saya” tanya saya ke Mas Kiki.

Gak ko! Aku mung wedi karo Allah seng nggawe urip (Gak ko! Saya cuma takut ama Allah yang membuat hidup)” jawab Franky sambil menyuruh saya mampir ke sana untuk segera potong rambut.

Tapi saya tahu diri lah! Waktu itu PCR test saya masih positif. Tunggu 1 bulan berikutnya baru negatif. Baru saya nemuin Franky.

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-04-11-at-1.33.21-PM-562x1024.jpeg

Banyak berapa teman yang sudah ngajak saya ketemuan, cangkrukan, makan, ngopi, ngoceh kongkow-kongkow, bahkan nonton, seperti dulu lagi. Kangen katanya!

Tapi maafkan saya, mohon maaf sekali lagi, saya masih tolak. Sayang benernya, berkat kok ditolak! Apalagi saya kan seneng berkenalan dan ngobrol dengan banyak orang, dari segala lapisan.

Dulu saya punya prinsip begini , minim 1 orang baru yang saya ajak kenalan dan ngobrol tentang banyak hal mengenai kehidupan.


Sekarang, saya sudah membatasi diri dengan ketat. Bukan takut kena lagi sih! Toh ya masih ada stock antibodi alami kok di tubuh saya. Tapi saya ini kan tinggal bersama 2 orang lansia di rumah. Mama dan asisten rumah tangga. Mereka rawan mudah ter-reinfeksi bila saya jadi pembawa virusnya.

Pelayanan saya masih teruskan. Tapi saya lebih prefer yang via online saja. Untuk ibadah tatap muka tetap saya layani juga. Dengan catatan saya sudah pastikan Gereja atau tempat mereka menerapkan dengan ketat ptotokol kesehatannya. Baik ke jemaat maupun ke semua pelayan mimbar.

Pelayanan must go on!
Saya tak pernah bisa membalas kasih setia Tuhan yang sudah banyak saya terima.
Jadi yang bisa saya lakukan adalah setia pada panggilanNya.


Masih banyak cara kok kita berkomunikasi. Sudah banyak kan aplikasi di gadget yang memungkinkan kita cangkruk rame-rame lagi.
Terus makan dan ngopinya tetep pakai menu di meja kita masing-masing di rumah!

Eaaaaaaaaaa….!!!


Dari seorang penyintas covid-19 yang tak pernah malu berbagi kisah diri,
Gideon Yusdianto
Instagram
@61d30n

This image has an empty alt attribute; its file name is 171729134_4038157089537655_9193154602936420850_n-1024x1024.jpg