KAKEK ABDURAHMAN

Kakek Abdurahman (77), warga Menteng Dalam yang saban hari menjajakan koran di SPBU Kota Kasablanca (Kokas), mendadak dikenal masyarakat setelah foto dan cerita hidupnya viral di media sosial.

Abdurahman harus menjajakan koran sementara sebagian wajahnya telah hilang akibat kanker yang diderita telah lama. Abdurahman menutupi bekas operasi kankernya itu menggunakan plester di antara mata dan hidungnya.

“Tadi kayak bisul aja, terus pecah dan infeksi jadi kanker. Udah tiga kali operasi dan 33 kali di Sinar X. Rahangnya dipotong, buat menutupi diambil (cangkok) tulang paha untuk hidung,” ucap Abdurahman dengan komunikasi terbata-bata saat ditemui di rumahnya Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (27/10/2016).

“Sembuhnya ketika di operasi di RSCM. Alhamdulilah waktu itu dapat bantuan dari depsos,” imbuhnya.

Istri Abdurahman sudah meninggal empat tahun lalu. Di tengah usia yang senja, kakek Abdurrahman hanya tinggal seorang diri di rumah berukuran 26 meter persegi.

Abdurahman lalu menceritakan kehidupan masa lalunya. Sebelum berjualan koran, dia ternyata pernah bekerja sebagai teknisi mesin di sebuah perusahaan, namun akhirnya di-PHK dan dia bekerja serabutan.

“Setelah itu jadi kuli di pasar, sempat juga ngamen sampai-sampai berulang kali masuk ke panti di Kedoya dan Cipinang. Apapun saya lakukan demi rezeki halal anak-anak saya,” paparnya.

Abdurahman lalu menjajal menjadi penjual koran. Hingga suatu hari dia mendapat tawaran dari pemilik SPBU di Kota Kasblanka, Jakarta agar membuka loper koran di SPBU itu.

“Mungkin karena kasian melihat saya, kebetulan beliau suka langganan. Akhirnya saya diperbolehkan untuk jualan di SPBU,” kenang Abdurahman.

Sejak saat itulah, setiap paginya Abdurahman selepas salat tahajud dan subuh pergi mengambil koran dari kawasan Pal Batu, dan menuju SPBU di Kokas. Koran itu ditawarkan ke pengemudi mobil atau motor yang masuk area SPBU.

“Alhamdulilah ada saja yang beli. Kalau sudah siang pulang ke rumah untuk makan dan salat Dzuhur, nanti lanjut lagi sampai Ashar,” tutur pria yang memiliki delapan anak itu.

303e4e1a-2cc8-46c0-a0f4-215c065b31a9_43

Rutinas menjual koran sudah dilakukan Abdurahman tepatnya selama tujuh tahun terakhir ini. Meski dengan kondisi wajah seperti itu, tak sekalipun terucap keluh kesah dari mulutnya.

“Ketika Allah ngasih cobaan seperti ini saya hanya bisa menerimanya. Selalu ada hikmah dibalik cobaan, dan saya yakin Allah akan memberikan yang terbaik di akhir hayat saya nanti,” pungkasnya

Matanya tak sempurna melihat, ada perban yang menutup luka bekas kanker wajah antara mata dan mulutnya. Tapi dari balik mata yang menua itu, kisah hidup Kakek Abudrahman (77) menggugah banyak orang.

a2592388-3315-413c-b59e-b19dad344bbd_43

Hampir setiap pagi kakek Abdurahman menggelar lapak koran di SPBU Kota Kasablanca, Jakarta Selatan. Di usia yang renta, kakek Abdurahman menolak menyerah pada nasib. Dikumpulkannya rupiah dari koran yang dijajakannya itu.

“Sudah puluhan tahun dia dagang koran di sana, tapi saya tidak pernah melihat dia minta-minta ke orang. Pagi-pagi itu pasti di bawa tas isinya koran untuk dijual,” ujar Edi Maruzar tukang ojeg di Menteng Dalam, Jakarta Selatan, Kamis (27/10/2016).

Edi menceritakan kakek Abdurahman kerap diberi uang oleh pejalan kaki atau pengemudi mobil di SPBU Kokas. Namun uang yang diterimanya selalu di tolak.

“Kadang dia selalu bingung karena orang yang lihat selalu ngasih uang tanpa membeli koran. Uang itu selalu di kembalikan, dia pun lebih menawarkan korannya,” tuturnya.

Edi sendiri hampir setiap hari mengantarkan Abdul untuk beli koran. Dirinya kerap bingung mendapati imbalan dari Abdul dengan nominal besar.

“Padahal cuma ngantar dari rumahnya di belakang ke depan, selalu ngasih uang Rp 20 ribu. Setiap dikasih kembalian selalu menolak. Kaya tadi pagi dia mau ngambil koran dari lopernya, dia ngasih uang Rp 50 ribu. Begitu dikasih uang kembaliannya dia malah lari gitu aja,” paparnya.

Edi mengaku banyak belajar tentang kehidupan dari Abdul, salah satunya soal ikhlas dan dermawan.

“Saya sendiri juga banyak belajar dari dia. Terkadang uang yang didapat dari beliau saya coba sisihkan untuk orang lain yang berhak,” paparnya.

Tidak hanya Edi, Iwan yang juga berprofesi sebagai driver ojeg juga mengakui kemuliaan hati Abdurahman. Iwan sering melihat sebagian rezeki yang diperoleh kakek tua itu, dibagikan untuk orang yang tidak mampu.

“Kalau tidak percaya bisa tanya ke Pak RT, bapak itu kalau ada rezeki suka bantu tetangganya yang kesulitan untuk hidup. Padahal kalau dibilang mampu, di juga tidak mampu,” kata Iwan.

Iwan mengatakan masyarakat sekitar sangat hormat dengan Abdul, lantaran sifat dermawan kakek itu di balik keterbatasan fisiknya

“Masyarakat di sini sangat menghargai pak Abdul, walaupun dia dengan kondisi fisik seperti itu dan cuma jualan koran tetap membagikan rejeki yang didapat,” pungkasnya.

(Edo/Miq/Detik.com)

______________________________________

Setiap kehidupan yang kita jalani pasti memberikan pelajaran yang begitu berharga. Seperti juga kisah nyata kakek Abdurahman ini.

Hidup adalah sebuah proses dimana kita harus berkembang serta memberi manfaat untuk orang lain. Semua orang pasti mempunyai tujuan dalam hidup. Hal inilah yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya, mereka mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Yang jelas tujuan tersebut akan menimbulkan suatu harapan untuk terus maju serta berkembang.

Tapi hidup tak selalu berjalan mulus. Kadang jalan yang anda tempuh dalam hidup itu berliku, berlubang, tanjakan, bahkan ada juga jalan buntu serta jurang yang bisa menjatuhkan anda kapan saja. Yang jelas semua hal yang selama ini anda usahakan pasti akan dibayar mahal, sesuai seberapa besar pengorbanan anda.

Kalau toh anda masih menemui masalah dalam hidup itu hal yang wajar. Karena masalah tersebutlah yang nantinya akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan juga dewasa. Masalah yang anda hadapi bukan merupakan halangan yang akan menghentikan perjuangan anda. Tuhan pasti memberikan hal indah setelah kita bisa melewati itu semua.

Anda percaya bukan, pelangi itu muncul setelah badai dan hujan? Dan anda juga percaya bukan bahwa semua masalah itu pasti ada batas waktunya ? Seperti dikatakan kakek Abdurahman, selalu ada hikmah dibalik cobaan, dan ia yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik di akhir hidupnya kelak.

Jangan pernah menyerah teman atas kehidupan yang anda alami saat ini, karena di luar sana masih banyak orang yang lebih menderita, namun mereka tetap berjuang.

logo