JUJURLAH

Ada tiga kisah yang berbeda yang sering terjadi di sekitar hidupku.

 

Pertama

Seperti biasa aku ke kantor menggunakan bus. Dalam antrian menunggu kedatangan bus, tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel. Aku menegok. Bukan bermaksud menguping namun suara pria itu masih terdengar jelas.

“Baik pak. Oh.. saya sedang diperjalanan pak. Lagi di dalam busway….. Sudah di jalah Sudirman… lagi macet pak. Baik pak..”.

Bohong. Kataku dalam hati. Sebab, ini jelas-jelas masih di halte. Aku pun berusaha ramah dengan bertanya.

“Atasan yah mas?”, sapaku ramah.

“Iya mba. Kesiangan saya. Terpaksa bohong, ada janji dengan klien soalnya,” jawabnya.

“Kenapa gak bilang masih dihalte aja mas?”.

“Wah, gak berani saya mba. Takut dia kecewa dan klien batalkan proyek,” jawabnya pelan.

 

Kedua

Hari ini aku sedang duduk santai di depan rumah. Tidak lama, temanku datang. Bukan apa-apa. Hanya saja sepertinya aku tahu maksud kedatangannya. Dan ternyata benar. Ia datang untuk meminjam uang.

“Lagi? Bukannya bulan lalu sudah?” tanyaku baik.

“Iyah. Boleh gak aku pinjam 300 ribu saja?”, balas temanku.

“Buat apa lagi sekarang?” tanyaku gemas.

“Mau bayar kost. Kemarin uangnya ke pake beli barang,” jawabnya sambil garuk-garuk kepala.

“Lain kali, uang kost jangan dipake buat beli barang. Memang beli apa sih?”.

“Itu, kemarin diajak teman kantor ke mal. Ada sale katanya. Jadi ke pake deh uangnya. Kan gak enak kalau gak beli. Lagian baju aku sudah pada jelek,”.

Akupun hanya geleng-geleng. Padahal ia bisa menolak ajakan karena dalam kondisi sulit keuangan. Tapi ia takut kurang dipandang teman kantornya.

 

Ketiga

Ketika malam hari tiba. Biasanya aku duduk manis di depan televisi. Lumayan untuk merenggangkan pikiran sejenak dari rutinitas kantor. Dalam sebuah tayangan televisi. Aku melihat berita.

Seorang remaja perempuan melakukan aborsi. Tidak tanggung-tanggung, di sekolahnya sendiri. Setelah dipaksa polisi, ia mengaku takut menghadapi aib hamil di luar nikah.

 

Dari kisah itulah aku tahu sesuatu, bahwa rasa takut membuat diri kita menjadi berbohong dan jahat. Padahal masih ada opsi jujur yang walau tidak selalu baik. Tapi setidaknya lebih baik.

(Mentari Desiani Pramudita/ Intisari)

_________________________________________

Begitulah, karena kita takut orang lain tahu kesalahan dan kekurangan kita, akhirnya kita malah berbohong, akhirnya malah kita berbuat jahat. Maka berpikir ulanglah untuk tidak jujur, biarkan hidup ini diliputi dengan kedamaian di hati karena kita melakukan yang benar.

Hari ini saya melayani berkhotbah di salah satu GBI Surabaya. Selamat hari Minggu buat anda semua !

logo