JEBAKAN TIKUS

Pada suatu malam, seekor tikus mengendap-endap masuk ke dapur rumah petani. Ia kemudian melihat jebakan tikus yang membawa petaka untuk semua.

Takut akan benda yang akan mengancam jiwanya tersebut, tikus kemudian segera berlari keluar dan memberitahukan kabar buruk itu pada semua hewan peliharaan petani yang lain. “Hati-hati! Ada jebakan tikus di rumah! Hati-hati!” begitu teriak si tikus.

Ayam pun menatap tikus dengan kesal, “Ya.. Ya.. Ya.. Itu masalahmu tikus. Bukan masalah kami. Diamlah karena teriakanmu membuatku sakit kepala”, ujar ayam dengan jengkel.

Takut dimarahi lagi, tikus pun berlari ke kandang kambing dan berkata, “Kambing, ada jebakan tikus di dalam rumah! Jebakan yang mematikan!” Kambing pun menyahut tanpa menoleh, “Wah, kau harus berhati-hati tikus. Tapi itu bukan masalahku.”

Tikus pun pergi karena tidak dipedulikan. Sekali lagi, dia kemudian berlari ke kandang sapi dan berkata, “Waspadalah sapi, pak tani sekarang memasang jebakan tikus di dapur rumahnya!” Alih-alih bersimpati, beginilah jawaban sapi, “Hahaha.. Tikus yang malang.. Kamu tak perlu menyampaikan kabar tak penting itu untukku! Tak ada urusan aku dengan jebakan tikus itu!”

Akhirnya tikus kembali ke lubangnya dengan perasaan sangat sedih. Tak ada satu orang pun temannya yang peduli dengan jebakan tikus itu. Padahal, jebakan itu sangat menakutkan baginya.

Keesokan harinya, jebakan tikus itu berhasil menangkap sesuatu. Saat dilihat oleh pak tani, ternyata bukan tikus yang tertangkap di sana melainkan ular beracun. Parahnya, ketika akan diambil oleh pak tani, ular yang dikira sudah mati itu malah mematuk tangannya.

Sang petani pun mengalami demam tinggi. Di desa itu tak ada penawar racun bisa ular sehingga keadaan pak tani kian buruk. Melihat kondisi suaminya yang makin mengkhawatirkan, bu tani pun mengambil ayam dan memasak kaldu yang kental dengan harapan sup itu bisa menurunkan demamnya. Sayang, usaha itu tak berhasil.

Keesokan harinya pak tani pun meninggal. Banyak tetangga dan saudara-saudara yang datang dari luar kota. Karena harus menyuguhkan hidangan pada tamu, bu tani pun memotong kambing. Tak disangka, makin banyak orang yang datang untuk memberi penghargaan terakhir pada pak tani. Bu tani kemudian memotong sapi untuk diolah menjadi hidangan bagi para tamu.

Tikus pun bersedih karena semua teman-temannya kini sudah tiada. Ia menyesal karena peringatannya tak dihiraukan dan mereka semua kini harus pergi karena satu jebakan tikus tersebut.

_____________________________

“Tapi itu kan tidak ada kaitannya denganku, bukan urusanku !” Kalimat inilah yang suka kita dengar di kalangan masyarakat yang makin individualistis.

Memang betul kita tidak usah ikut campur dalam bagian yang bukan urusan kita, karena sekarang orang suka ceplas ceplos mengomentari dan mengurus yang sebenarnya bukan urusannya. Bukannya terselesaikan dengan baik, karena banyak yang ikut campur tangan malah membuat masalah itu semakin pelik.

Tapi moral kisah ini adalah, jangan abaikan permintaan orang untuk bisa membantu mereka dalam sebuah persoalan, karena siapa tahu itu sebenarnya juga untuk kepentingan kita sendiri. Bertolong-tolonglah dengan sesama kita !

logo