JANGAN MENANGIS

Hari itu, seorang wanita tengah berjalan-jalan di area gedung olahraga. Ternyata di sana sedang diselenggarakan pertandingan lomba lari antar anak-anak. Karena ia menyukai anak-anak, si wanita duduk di pinggir agar dapat melihat anak-anak itu berlari.

Ia melihat seorang guru tengah berdiri di samping anak-anak yang tengah bersiap berlari.

“Satu… dua… tiga…!!” ucap sang guru. Ke tujuh anak itu segera berlari mencapai garis finish.

Namun, baru delapan langkah, seorang anak perempuan terpeleset dan jatuh. Karena merasa kesakitan, ia mulai menangis.

Ternyata tangisan si anak perempuan tersebut membuat teman-temannya berhenti berlari dan berjalan mendatangi si anak perempuan.

Salah satu dari mereka memegang kaki si anak perempuan dan menciumnya.

“Nah, sudah aku cium. Jangan menangis,” kata temannya.

Ucapan si teman membuat si anak perempuan berhenti menangis lalu tersenyum. Lalu ia dibantu teman-temannya yang lain dan berjalan beriringan bersama-sama ke garis finish.

Tentu saja aksi anak-anak ini mendapat tepuk tangan mereka yang menonton. Bahkan sebagian dari guru mereka menangis menyaksikan murid-muridnya tersebut.

Si wanita yang hanya melihat dari bangku penonton pun ikut terharu. Apalagi ia baru menyadari banner di atas yang mengatakan ini adalah lomba lari untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti keterbelakangan mental.

_____________________________________

Film Superman semakin lama bukan menonjolkan supernya satu orang belaka, tapi juga mulai ditonjolkan supernya team mereka dalam saling bahu membahu menumpas kejahatan. Not superman, but superteam !

Dari kisah ini, mereka yang masih anak-anak, memiliki keterbelakangan mental, tapi mereka tidak kehilangan semangat tolong menolong dan sepenanggunggan melihat kawannya terjatuh. Menjadi sebuah bahan instropeksi buat kita semua yang sudah dewasa dan normal ini, apakah kita lebih terbelakang dari mereka dalam urusan menyatakan simpati dan empati ?