Jadi Guru Les, honor saya minim 7.5 juta Rupiah di era 90’an!

Ngomongin tentang impian nih, gak usah jauh-jauh, tahun depan deh, apa yang pengen kalian wujudkan?

Nah ini urusannya sudah masuk ke arah planning masa depan.

Tahun 1997, saya ini punya impian punya usaha LBB (Lembaga Bimbingan Belajar). Bermula dari kepepet untuk cari makan dan buat bayar kuliah, akhirnya saya menekuni dunia ngelesin mafia (matematika, fisika dan kimia).

Yang namanya kalkulus, dinamika fluida, dan stoikiometri akhirnya jadi menu sehari-hari yang saya makan dan saya bagikan.

Mau gimana lagi? Itu satu-satunya modal yang saya punya untuk melanjutkan hidup di kota Surabaya. Orang tua sudah tidak bisa membiayai saya lagi. So, the life must go on!

Murid les saya makin bertambah hari demi hari. Pernah sampai 15 orang lebih. Padahal tahun 1997-an,  honor les private yang saya terima start dari Rp 500K.

Nah, ketahuan kan ya bilangan angka Rupiah pendapatan saya pada tahun itu? Untung gak ada yang malak and majekin! Hahahaha! 

Capek rasanya harus wira-wiri ke sana kemari. Apalagi kalau sudah masa-masanya ulangan umum. Biuuuhh....Bisa dobel capek dan ribetnya pas lagi musim hujan!

Ide wirausaha mulai timbul. Kenapa gak saya kumpulkan para murid les saya di satu tempat. Sebut aja “LBB Koko Pinter” gitu! Wakakakaka!

Kalau ada tempat kan saya bisa gandakan jumlah murid. Pendapatan pasti auto nambah kan?

Tapi…ya itulah, rencana saya bukan rencanaNya. Tempat strategis di bilangan elit perumahan Manyar Tirtoasri Surabaya sudah saya DP untuk kontrak 2 tahun buat tempat usaha LBB impian saya. Nilainya lumayan! 

Saya punya rencana, untuk melunasi kontrak rumah tersebut saya akan pinjam ke beberapa keluarga dan rekan usaha Papa Mama saya waktu itu.

Almarhum Papa orangnya sangat baik. Suka minjemin uang ke teman-temannya untuk perputaran usaha bisnisnya. Jadi saya pikir, masa sih saya gak dapat pinjaman dari mereka!

Tapi hingga deadline waktu yang diberikan, saya tak kunjung mendapat uang untuk melunasinya. Hangus uang DP yang sudah saya berikan. Kalau tidak salah waktu itu senilai 5 juta Rupiah.

Saya gagal mewujudkan impian saya. Malah yang ada, selanjutnya saya masuk dalam kesusahan demi kesusahan hidup.

Ah ya sudahlah. Itu seklumit kisah perjuangan saya dalam menantang masa depan. Hari ini saya tahu. Maksud dibalik semua kegagalan ini adalah supaya saya balik ke jalanNya.

Dari titik start itulah, saat saya mendedikasikan hidup saya kepada rencana Tuhan. Di situlah awal mula saya menikmati janji demi janji digenapi dalam hidup saya.

Jadi teman, apa impianmu saat ini? Apa cita-citamu? Hari-hari ini ada rencana proyek besar apa yang sedang kalian kerjakan?

Cepat komunikasikan kepada Tuhan. Kalau itu bukan jalanNya, relakan hati untuk menyudahi segala sesuatunya. Sebelum terlambat dan malah jadi gak karu-karuaan , stop saja sekarang juga!

Tapi, bila itu betul rencana Tuhan, jangan takut dengan apapun juga. 

Orang nyinyir itu biasa kok! Anggap aja anjing menggonggong, si meong berlalu. Ingat, hidup kalian ditentukan dari apa yang dikatakan Tuhan. Bukan dari omongan orang lain.

Yang namanya gagal ya biasa juga dialami oleh mereka yang menjalani kehendak Tuhan. Biasa begitu itu! Gagal bukan aib kok. Kalau itu rencanaNya, Tuhan pasti akan wujudkan impianmu jadi nyata dan jadi indah!

Okay Teman, ini kisahku. Mana kisahmu?


Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n