INILAH PENUTURAN DETAIL DARI AYAH SEORANG REMAJA, DANIEL AGUNG, KORBAN BOM GPPS SURABAYA

Senin pagi, 21 Mei 2018, jam 10 pagi…

Saya bersama Nathan, produser Bahtera Yudha FM Surabaya sudah sampai di kawasan Simo Gunung Kramat Timur Surabaya.
Kami agak kesusahan mencari lokasi persis rumah pak Budi, ayah Daniel, seorang remaja yang jadi korban bom di GPPS Surabaya karena menahan mobil teroris masuk ke dalam Gereja.

Saya berhenti di depan gang dan menelpon “Pak Budi, saya sudah sampai di kawasan rumah bapak. Rumahnya yang mana ya?”
Oh bentar mas, saya lagi naik motor dari pemkot. Tunggu sebentar ya” demikian balasnya di ujung sana dengan WA call.

Tidak lama kemudian dengan pakaian batik yang rapi pak Budi nyamperin kami berdua. Ternyata rumahnya tidak jauh berada dari tempat kami menunggu. Dia bilang habis dari pemkot menerima piagam penghargaan dari pemerintah kota Surabaya atas keberanian dan pengorbanannya dalam mengamankan tempat ibadah di kota Surabaya.

Maaf mas…rumahnya kecil. Puji Tuhan bisa dikit-dikit mbangun rumah sendiri” kata pak Budi mempersilahkan kami masuk.
Emang dulunya pak Budi tinggal di mana koq akhirnya bisa membangun rumah sendiri ?” tanya saya penasaran.
Oh dulu saya tinggal di rumah mertua. Setelah istri saya meninggal, saya kemudian pindah ke sini.

Daniel anak nomer dua saya. Yang besar cewek tinggal sama mertua saya.

Sepeninggal istri, saya menikah sama seorang janda yang suaminya sudah meninggal. Istri saya ini bawa dua anaknya. Yang kecil cewek, ikut tinggal sama saya. Yang besar cowok tinggal ama neneknya di desa” tutur pak Budi.

Terus Daniel juga tinggal di sini pak?” tanya saya lagi.
Iya, sesekali dia istirahat ke sini. Kadang ya ke sini minta uang jajan, Ya namanya juga anak masih sekolah mas. Masih SMP kelas 2” kata pak Budi.

Di ruang tamu yang kecil itu kami bertiga ngobrol, mengingat-ingat kejadian yang menimpa putranya, Daniel Agung Putra Kusuma. Kami disuguhi sebotol air minum kemasan dingin yang menyegarkan tenggorokan saya yang memang sedang kehausan.

Daniel itu anaknya enak diajak ngomong, bisa nyambung ama saya. Nurut juga ama saya. Beda sama kakaknya yang cewek. Saya agak susah kalau ngomong ama kakaknya.
Kasihan sebenarnya dia, sudah ditinggal ibunya meninggal sejak usia 2 tahun. Makanya saya pengen dia ini jadi anak yang baik, disiplin dan tanggung jawab. Apalagi sebagai laki-laki, saya mendidik dia juga untuk bekerja.

Kalau Minggu, Daniel ini jaga parkir di GPPS Arjuna. Dia ini menggantikan tugas kakeknya sebenarnya yang sudah meninggal”
  demikian pak Budi mulai menceritakan tentang mendiang putranya.

Nah dari jaga parkir ini Daniel dapat duit ya pak Budi, dikasih ke bapak ?” tanya saya

Gak sih. Mungkin ya ditabung sendiri, mungkin juga sebagian dikasih ke neneknya, Kan dia tinggal sama neneknya di Dukuh Kupang sana.
Dia juga beli motor GL Max bekas dari hasil pekerjaannya. Ya saya tambah-tambahin lah mas namanya juga orang tua.

Motor yang dia bawa kan hancur kena ledakan bom. Nah ini katanya sih akan diganti sama pemkot”, jelas pak Budi sambil menunjukkan foto motor dan mobil yang hancur serta gosong terkena ledakan bom di GPPS Arjuno.

“Saya waktu kejadian Minggu 13 Mei 2018 itu lagi jaga parkir di belakang, di area jalan Bromo. Anak saya Daniel jaga parkir yang di area depan, yaitu jalan Arjuna.

Saya mendengar ada ledakan keras di depan. Naluri saya sebagai bapak ya cepat-cepat saya ke depan, mau cari anak saya. Orang-orang pada berteriak “Bom…bom !”

Ada ledakan kedua dan ketiga, tapi gak begitu keras bunyinya. Beberapa polisi berlari-lari berteriak supaya jemaat jangan keluar dulu. Saya juga cari Daniel tapi dihalang-halangi oleh petugas karena dikuatirkan masih ada bom lagi yang meledak.

Banyak korban berjatuhan dengan tubuh yang sudah terburai dan gosong. Saya tidak menemukan anak saya.

Lalu saya cari di beberapa Rumah Sakit tapi tetap tidak ada anak saya. Sampai akhirnya saya ditelpon untuk datang ke RS Bayangkara untuk tes DNA. Dan benar, akhirnya disimpulkan dari tes DNA ada kecocokan antara saya dan bagian tubuh itu.

Katanya sih diperiksa dari air liur yang menempel di gigi. Badan Daniel hancur semua, saya rasa lehernya juga putus itu. Tinggal giginya yang utuh yang masih bisa diperiksa.

Langsung lemes dan sedih saya. Anak saya Daniel, sama pak Man temen jaga parkirnya, dan pak Giri, security GPPS, mereka ini tewas di garis depan karena menahan laju mobil berisi bom, yang mau masuk ke dalam Gereja”, demikian penjelasan pak Budi dengan lengkap seputar peristiwa Minggu pagi itu.

Daniel ini aktifitasnya apa saja pak ? Selain sekolah dan jaga parkir kalau Minggu ?” tanya saya.

Dia ini juga aktif koq di kaum muda, tiap Rabu sore ikut kaum muda di GPPS Elim. Bahkan saya baru tahu ternyata anak ini bisa main drum dan melayani Tuhan di Gereja dengan nge-drum itu tadi. Cita-citanya mau dipakai Tuhan lebih lagi dengan melayani di musik drum ini.
Ya puji Tuhan mas, anak saya ini mau belajar kok mengenai hal-hal baru dari senior-seniornya
” imbuh pak Budi sambil dia menyebut beberapa nama senior yang mengajari Daniel main drum di Gereja.

Tapi siapa menyangka ya berakhir seperti ini. Tuhan pasti punya rencana yang indah, saya percaya itu ! Cuma jujur saya juga belum tahu apa itu rencanaNya ? “ sambung pak Budi sambil matanya seolah menerawang jauh ke depan.

Ada firasat apa gitu pak sebelum kejadian ?”, tanya saya klise.
Seperti biasa bukankah pertanyaan ini yang suka kita tanyakan ketika kita kehilangan seseorang.
Apa ya….hmmmm….” pak Budi mengingat-ingat.

Hari Jumat itu pak Budi bilang ke Daniel, “Le… (panggilan kepada anak di Jawa), rambutmu itu loh potongen. Udah gondrong gitu. Bapak gak seneng !”.
Maka Daniel minta uang Rp 15.000 untuk potong rambut dekat rumah katanya.
“Jadi saat meninggal Daniel sudah ganteng dan rapi,” nampak ada nada bersyukur ketika pak Budi mengatakan anaknya sudah rapi.

Pak Budi juga punya satu kenangan bersama putranya ketika Daniel minta disunat. Lagi-lagi sebagai bapak, dia mengusahakan biayanya agar terlaksana keinginan anaknya.
Pak Budi ini adalah petugas parkir di GPPS Arjuna Surabaya, yang pendapatannya tentu saja dari jemaat yang memberikan uang seikhlasnya sebagai jasa keamanan parkir.

Jawaban demi jawaban pak Budi lontarkan dengan nada yang tegar. Seminggu setelah peristiwa bom bunuh diri di GPPS Surabaya yang menimpa korban putranya itu sepertinya sudah membuat dirinya lebih tenang dan tidak meledak-ledak lagi emosinya.

Sampai akhirnya saya bertanya sebuah pertanyaan terakhir, dan disanalah pak Budi meledak emosinya.

Pak Budi, maaf ini saya berandai-andai. Bila anda ketemu pelaku bom yang akhirnya merenggut nyawa putra anda Daniel, apa yang akan anda katakan kepadanya, apa yang akan anda lakukan ?
Sekali lagi ini cuma berandai-andai loh pak, yang tidak akan pernah mungkin terjadi, karena kita tahu kan pelakunya juga ikut tewas”
tanya saya.

Pak Budi terdiam …

Matanya merah dan berkaca-kaca, genangan air mata sudah siap menetes.

Pak Budi yang dengan tegar menjawab pertanyaan demi pertanyaan saya, tapi kali ini sepertinya berkecamuk hatinya.

Kalau sudah begini, saya sudah bisa menebak apa yang akan dia katakan.
Apalagi waktu saya WA pak Budi sebelum hari ini, dia mengatakan “Saya belum ikhlas sama pelakunya !
Ada nada kemarahan di sana, ditulis dengan semua huruf kapital.

Sampai akhirnya terlontar jawaban dari mulutnya, saya tahu itu berat sekali untuk dikatakan.

Saya mungkin akan pukul pelakunya, saya maki-maki. Saya sebenarnya gak ikhlas. Mereka bunuh anak saya dengan kejam dan sadis. seperti itu ”, kata pak Budi dengan mata semakin memerah.

Tapiiii…..saya putuskan, ya sudahlah. Kejadiannya sudah terjadi, ga mungkin bisa dikembalikan seperti semula anak saya. Mau terus mangkel ya malah jadi kepahitan nantinya. Rugi sendiri !”, ada nada kelegaan sekarang dibarengi dengan tangan yang mengusap air mata yang sebenarnya mau jatuh ke bawah tadinya.

Wah, saya jadi plong juga mendengarnya !
Hehhhmmm, saya pikir pak Budi bakal lebih marah hebat lagi. Tapi ternyata dugaan saya salah.

Saya jadi mem-flash back juga kejadian hidup saya. Ketika kita kecewa berat dan sangat tersakiti hati kita, kalimat mengampuni itu sepertinya hanya di text book Kitab Suci saja. Mana bisa dipraktekkan ? Enak saja mengampuni…mengampuni…!!! Gitu kan ???

Akhirnya untuk mencairkan suasana, saya bilang “Pak, air minumnya permisi saya minum ya ?
Oh monggo mas…mongo…maaf hanya air putih saja !” jawab pak Budi dengan tangan mempersilahkan kami minum.

Setelah minum, saya lalu berpamitan “Pak Budi terima kasih waktunya. Mohon maaf mengganggu. Saya doakan bapak dan keluarga tetap sehat. Tetap setia melayani di Gereja. Gak kecewa lagi toh pak ama Tuhan ?
Oh gak…gak kecewa koq mas !” nadanya mantap sambil mengantar kami pulang.

Sekali lagi dari kisah ini anda bisa simpulkan bukan, bahwa mengampuni bukan berawal dari sebuah keadaan, karena selamanya ketika kita berkaca pada keadaan, maka tak pernah kita bisa maklum dengan keadaan tersebut.

Tapi mengampuni itu berawal dari sebuah kebulatan tekad dan keputusan hati, “Saya mengampunimu !

Mengapa ? Karena Tuhan pun sudah mengampuni saya, bukan dari keadaan saya. Tapi dari kebulatan tekadNya untuk tidak mengingat-ingat lagi kesalahan kita manusia.

Sekali lagi, terselip di doa saya buat negeri Indonesia dan terutama kota Surabaya. Biarlah anugerah dan pengampunan Tuhan turun senantiasa buat kota dan negeri kita.

Biarlah ada kebaikan demi kebaikan dari Tuhan yang bekerja untuk membuat kita berlaku hal yang sama, yaitu saling mengampuni dan mengasihi di antara kita. Semua perbedaan tidak harus membuat saling bertikai dan melukai.

Terus terang, saya kangen dengan suasana Indonesia saat masa kecil saya dulu kala, tentram dan damai, berbeda tidak membuat kita saling membenci,  apalagi membunuh…

 

Gideon Yusdianto
Instagram  @61d30n

in memoriam Daniel Agung Putra Kusuma