Ini cara yang Tuhan pakai untuk membuka kesempatan saya, merampas kembali rasa happy yang sempat tercuri paska saya kena covid-19!

Ada apa Wilbert pagi-pagi kok video call?”

Mau potong rambut yang dulu itu loh. Yang ama Giu Kong!”  

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-05-09-at-11.23.13-PM-460x1024.jpeg

Giu Kong adalah dialek Hakkanesse untuk panggilan kakek paman.


Btw
, sebelum saya lanjut, mungkin ada yang nanya. Lha kok saya dah jadi engkong?

Ini terjadi karena Mama saya kan telat hamil sampai usia 45 tahun, baru dikaruniai anak yaitu saya. Jadi ada kenaikan pangkat secara luar biasa 1 generasi ke atas buat saya. Hehehe!


Teringat tahun lalu. Pernah saya panggilkan Franky Soni Wijaya, barber Mbois Barber Klampis Surabaya untuk home cutting ke rumah Wilbert.

Segera saya WA callMas Kiki”, demikian dia dipanggil.


Wah
, ternyata jadwalnya dah hampir full reserved ama pelanggan-pelanggannya. Udah lebih dari 8x jadwal reservasi hari ini. Wah wah wah!

Kiki menawarkan esok hari aja. Tapi saya bilang hanya bisa hari Minggu saja. Kedua ortu Wilbert dan Darren bisa agak longgar di rumah. Hari-hari biasa kedua keponakan saya ini bekerja.


Yo wes, Agak sorean surup-surup ngono ya Ko?” jawab Kiki.

Sak iso e wes Ki! Pokok e dino iki!”

OK siap Ko. Sampeyan nang omah e kono toh?”

Iyo Ki!

Singkat cerita jam 17.15 kami hampir bersamaan tiba di rumah Wilbert dan Darren.

Wilbert dah antusias di buat mbois rambutya ana barber pilihannya sendiri. Heran saya anak jaman sekarang. Umur 4 tahun sudah punya taste memilih rambutnya digunting ama siapa.

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-05-09-at-11.25.30-PM-768x1024.jpeg


Sigit, papanya Wilbert, keponakan saya,  pernah panggil barber dari cabang lain Mbois Barber yang lebih dekat ama rumahnya di daerah barat. Tapi anaknya malah request barber yang ada di cabang timur.


Setelah kokonya, sekarang adiknya yang gilliran dipotong ama Franky. Dulu pertama kali dia nangis. Sekarang udah tenang meski awalnya sedikit agak tegang. Mungkin masih belum kenal bener ama Franky.

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-05-09-at-11.25.57-PM.jpeg

Tapi setelah itu, Darren yang masih 2 tahun usia bisa bilang “thank you” ke Franky. Hahaha! Rupanya punya bakat menarik hati anak-anak kecil di Franky ini!


Main yuk Giu Kong!” ajak Wilbert ke saya setelah ia abis mandi segar dengan penampilan rambut barunya.

Hah? Main apa?” tanya saya yang diajak ke ruang bermain mereka yang penuh dengan mainan.

OMG! Mateng deh gw!

Saya ini gak telaten ama anak kecil sekarang diajak mainan. Banyak orang berpikir saya mencintai anak kecil dengan dunianya. Padahal gak sama sekali!

Makanya saya selalu menolak kalau dijadwal pelayanan khutbah di Sekolah Minggu. Sulit buat saya bisa melebur dengan dunia anak kecil.

Darren nyusul ke kamar. Nampaknya dia juga pengen ikut happy bermain bersama juga dengan kami berdua.

Hadewwww….angel weeeees…. angeeeel! 

Dalam hati saya bilang begitu. Bakal ribet saya pikir! Entar kalau mereka berdua tengkar, terus ada yang nangis gimana coba handlenya?? 

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-05-09-at-11.26.18-PM-3-1024x1013.jpeg


Tapi nyatanya, semua kekuatiran saya itu tidak terbukti, Entah chemistry apa yang menyatukam kami bertiga hingga tak terasa hampir 30 menit kami tertawa lepas kegirangan dan antusias bermain bersama.

Saya manfaatkan aja benda-benda mainan yang ada untuk bikin suatu skenario games yang kompetitif dan seru.

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-05-09-at-11.26.18-PM-2-1024x1013.jpeg


Waktu semakin malam.

Giu Kong capek. Giu kong pulang dulu ya. Kapan-kapan Giu Kong ke sini lagi ya main-main ama Wilbert and Darren

Awalnya mereka berdua kaget, seolah mau bilang ngapain stop, masih asyik nih!

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-05-09-at-11.26.18-PM-1024x1013.jpeg

Tapi bagaimanapun saya harus antarkan pulang Mama saya yang ikut happy banget hari ini, ketemu ama “cucu-cucu”nya. Mama juga harus sudah waktunya istirahat malam.

Bye Giu Kong! Thank you!

Your welcome Wilbert and Darren! Sampai ketemu lagi ya!”

 

Begitulah Teman!

Senyum dan kebahagiaan dari orang yang tulus itu juga menjadi milik dan aset saya yang berharga.
Salah satunya dari anak-anak kecil ternyata!

Ini yang membuat saldo kebahagiaan saya jadi bertambah.


Ini yang mengembalikan semua harta sukacita yang sempat terampas dari kehidupan saya saat saya depresi selama dan pasca kena covid.


Hampir tidak pernah saya jumpai anak kecil berusia 2-4 tahun berdrama-drama di balik layar, untuk menunjukkan seolah-olah mereka bahagia dan bersemangat. Beda ama orang dewasa seperti saya, banyak yang pakai topeng!

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-05-09-at-11.26.18-PM-1-1024x1013.jpeg

Napa begitu ya?

Bisa jadi karena tekanan publik bahwa orang beriman tuh harus nampak bahagia penuh tebaran senyum sukacita apapun yang terjadi.

Seolah mengalami kesedihan mendalam itu tidak mendapat tenpat untuk label orang beriman. Seperti orang gak punya Tuhan begitu!

Padahal saya sering katakan, emang napa kalau kita jujur dengan kondisi kita yang lagi gak OK?

Bukankah Tuhan hadir, justru untuk orang-orang yang gak OK?


Wewwwww!
Yang penting, hari ini, Minggu 9 Mei 2021. Wibert (4 tahun) dan Darren (2 tahun) sudah berkontribusi mengkreditkan kembali begitu banyak damai sejahtera saya yang pernah sempat hilang.

 

Ah, begitulah!

Tuhan punya banyak macam cara emang membuat saya kembali padaNya. Mana tahu cara beginian Dia pakai menolong saya untuk mempercepat recovery depresi yang saya alami.

 

Dari yang selalu mau belajar dan diproses dengan banyak bab mengenai hakikat kehidupan,

Gideon Yusdianto
Instagram @61d3on