Indonesia terserah? Suka-suka kita aja?? Terus kapan corona berakhir?

Tiba-tiba langsung memori saya auto generated.

Dia membawa saya ke awal virus SARS_cov2 masuk ke bumi.

Saat itu saya masih di kamar Rumah Sakit William Booth Surabaya. Nungguin Mama yang tulang pinggulnya retak. Saya mengawali awal tahun 2020, dengan sangat dini menerima dua perasaan yang gak enak.

Pertama, Mama harus operasi tulang.
Kedua, berita dari Wuhan itu tiba-tiba membuat saya serius berpikir, apa yang itu juga akan masuk Indonesia?

Tapi setidaknya saya tenang, saat berbagai pihak di Indonesia yang paham tentang per-virus-an mengatakan Indonesia aman!


Kemudian semua kita tahu kan, akhirnya Indonesia jebol juga! Kemasukan si covid dengan 1000 wajah ini dari bulan Maret 2020.

Mei 2020, saya masih ingat betul, bikin stories di IG saya. Intinya saya waktu itu resah. Saat itu korban virus covid19 sudah tembus 2000 orang. Akankah itu berlanjut jadi 20.000, 2000.000, 2.000.000 dan seterusnya??

Eh nyatanya hari ini, minggu kedua di Juni 2021, angka korban sudah tembus di angka 2 jutaan untuk seluruh Indonesia!

2 juta itu yang jadi korban langsung loh!
Bagaimana dengan keluarga terdekatnya?


Anggap saja, rata-rata 1 keluarga beranggotakan 3 orang. Maka ada 6 juta orang Indonesia yang menangis dengan kesedihan yang bukan sekedar rasa empati kepada orang lain.

Tapi ngerasain sendiri bagaimana mereka dikucilkan oleh lingkungan sekitar. Merasa kesakitan dengan segala gejala covid yang muncul.

Merasa bagaimana nyeseknya dada ditinggal meninggal oleh keluarga yang amat mereka sayangi. Merasakan langsung bagaimana ekonomi mereka terdampak gara-gara semua ini.

Itu yang terekam jejaknya sebagai suscpect covid19! Yang ngggak? Rasanya lebih banyak!


Akhirnya, saya sekeluarga 3 orang, persis di hari Natal 25 Desember 2020, kami merasakan sendiri bagaimana rasanya ada di pihak mereka yang kena. Kami bertiga juga kena! Biuhhhh……!

Puji Tuhan, kami bisa melaluinya dengan lolos dan lulus. Meski harus mengisolasi diri 1.5 bulan lamanya!


Ya Tuhan, mau jadi apa ya dunia ini? Entahlah….

Tapi yang saya tahu, saya harus menyuarakan isi hati ini. Ayo kita semua sepakat, sepaham dan sepenuh kekuatan bersama, menyatakan perang terhadap virus SARS_cov_2 ini!

Dipicu oleh status WhatsApp dan hasil chatting saya ama garda depan yang waktu itu memantau kami sekeluarga saat tersuspeksi positif virus corona. Gak pernah saya liat status mereka selelah dalam sepekan ini. Sangat lelah!

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-06-12-at-7.38.32-PM-461x1024.jpeg

Ada Ibu dokter Ari, dari Puskesmas kelurahan Keputih. Juga ada Mas Hidayat dari Satgas covid kecamatan Sukolilo Surabaya. Saya cukup intens ngobrol ama mereka berdua mengenai perkembangan covid di wilayah seputar saya tinggal.

Seluruh naskes di Puskesmas wajib giliran jaga 24 jam di Suramadu untuk memantau pergerakan masyarakat masuk Surabaya. Belum lagi satgas covid, tanpa libur harus menulusuri wilayah per kecamatan.

This image has an empty alt attribute; its file name is WhatsApp-Image-2021-06-12-at-7.39.13-PM-792x1024.jpeg

Mulai timbul cluster-cluster keluarga kembali terjadi. Bahkan ada yang sampai harus diblok wilayahnya,


Apa-apa’an sih kita ini semua???


Ada yang bilang, oh karena masih banyak yang tidak percaya ada covid.

Ok ok… buat Anda yang tidak percaya adanya covid.

Sah sah aja kok Anda punya pemikiran seperti itu.

Tapi setidaknya jangan menyeret orang lain menangis gara-gara pemahaman Anda. Tolong pikirkan ulang deh!


Ada yang percaya adanya covid, tapi iman percaya mereka lebih kuat bahwa tidak akan menimpa mereka dan keluarganya.

Ok Ok…Saya salut dengan iman Anda yang begitu tangguh.

Tapi setidaknya iman Anda juga tidak membawa kesembronoan dengan menciptakan kerumunan dan melanggar prokes kan?

Pikirkan ulang demi kepentingan orang banyak.

 

Saya lelah. Anda lelah. Nakes lelah. Satgas lelah. Polisi, Babinsa, lelah. Semua teramat sangat lelah!!

Terus kalau sudah semua lelah, kenapa tidak mulai dari kita sendiri?

Jadilah pioner pemutus mata rantai covid di keluarga kita, di RT kita, di RW kita, di kelurahan kita, di kecamatan kita, di kota kita, di propinsi kita, dan akhirnya di negara kita, Indonesia!

Hal-hal kecil bila dikerjakan dengan kesabaran dan kesungguhan akan berujung pada hal yang besar.

Hal-hal kecil bila dilakukan konsiten terus menerus, akan menjadi kebiasaan yang baik.

Tapi ingat Teman, kecil-kecil itu cabe rawit!.
Kalau kita sepelekan akan bikin kita terbelit makin rumit!



Dari yang mau terus belajar berproses mencari kehidupan yang hakiki,
Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n

 

  • Gambar “Indonesia terserah” diambil dari sumber www.kabareminggir.com / Twitter