I’M NOT PERFECT

Aku masih berharap keajaiban itu ada, meski logikaku sendiri pun meremehkan harapan itu. Walau parasku secantik bidadari kata mereka, namun itu tak sedikit pun membuatku merasa percaya diri. Bukan karena aku tak bersyukur atas hidup ini, namun aku hanya ingin seperti mereka yang bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku memang gadis pendiam yang lebih suka menyendiri. Menikmati aroma kehidupan yang damai di tepi sungai memang menjadi hal wajib yang harus ku lakoni setiap hari meski hanya sebentar.

Sementara mereka semua sibuk dengan hingar bingar dunia mereka, aku pun demikian. Aku menikmati duniaku sendiri tanpa seorang pun tahu nikmatnya tiada terkira. Bahkan setiap detiknya kehidupan ini sungguh terasa sangat luar biasa. Aku mengira mereka semua rugi jika mengabaikan rahmat Tuhan ini hanya untuk mencari harta dan tahta. Masih menikmati suasana tepi danau yang tenang, ku coba menutup mata dengan perlahan dan menghirup udara yang begitu hebat dampaknya untuk hidupku ini.

Cepluukkk!!
Mataku seketika terbuka ketika mendengar sesuatu terjatuh ke sungai, entah itu apa. Tiba-tiba datang seorang lelaki dan langsung mencebur ke sungai yang cukup dangkal itu. Mungkin sesuatu itu begitu berharga baginya hingga tingkahnya kelimpungan mencari barang yang tak ku ketahui sebelumnya. Aku hanya bisa memandangi lelaki yang sedang kebingungan mencari barangnya tepat di depan mataku. Setelah beberapa menit dia tak juga menemukan barangnya, hingga dia tampak putus asa. Lelaki itu memasang wajah lesu dengan keadaan basah kuyup. Matanya lirih seolah kehilangan semangat, sesekali dia meremas kepalanya dan berteriak sekeras mungkin dengan posisi membelakangiku. Sepertinya dia tidak melihatku yang sedari tadi memandanginya heran.

“Ehm,”
Ku keluarkan suara berharap dia tahu ada seseorang yang terganggu dengan tingkahnya. Lelaki itu berbalik dan mulai menyadari keberadaanku. Dia melangkah mendekat kemudian duduk di sampingku dengan tatapan asing. “kamu udah dari tadi ya di sini?” Tanyanya memiringkan kepala padaku.
Aku hanya membalasnya dengan senyum. Aku segera merogoh tasku dan memberikan sapu tangan untuk mengusap wajahnya yang terlihat basah kuyup.

“Innndah,” Ejanya membaca tulisan yang terajut di sapu tangan itu.
“namamu Indah?” Tanya lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya padaku.
Aku pun hanya mengangguk tersipu malu.
“Aku Rangga, tapi orang biasa memanggilku Angga. Senang bisa bertemu denganmu,” sapanya mengulurkan tangan.

Jantungku berdegup kencang ketika berjabat tangan dengan lelaki yang baru ku kenal beberapa detik yang lalu itu. Sebelumnya memang aku belum pernah mengenal pria sedekat ini. Meski hanya berjabat tangan, namun rasanya sungguh dahsyat. Aku masih ingin berbincang dengannya, namun aku tak mau dia tahu bahwa aku ini berbeda dengan gadis normal lainnya. Tidak, aku tidak boleh jatuh cinta secepat ini, aku takut jika hanya aku yang merasakan ini, pikirku bergejolak. Aku merebut sapu tangan itu, dan berlari meninggalkannya.

“hey tunggu,” teriaknya padaku mencoba memintaku untuk tinggal.
Namun aku enggan berbalik arah, “aku pasti akan menemukanmu kembali.. aku janji,” ungkapnya lantang padaku yang semakin jauh meninggalkannya.

Seperti biasa, mentari masih memberi kehangatan untuk jiwaku yang sepi. Namun logika dan hatiku mulai tak sejalan sekarang. Jika hatiku masih membutuhkan kedamaian dan ingin segera ke tepi sungai seperti hal yang selama ini ku lakoni, justru logikaku melarangku ke sana karena aku tahu lelaki itu pasti sedang menungguku di sana. Ya, lelaki yang ku temui kemarin itu memang sempat membuat tidurku gusar semalaman. Kali ini ku putar balik langkahku, ku putuskan untuk menuju taman yang berada tak jauh dari pusat kota.

Rasanya tak jauh berbeda dengan sebelumnya, aku masih bisa menghirup udara segar di tengah kesibukan para pencari kehormatan itu. Aku ingin berteriak mengajak mereka meninggalkan aktivitas sejenak dan ikut merasakan rahmat dari Tuhan yang begitu nikmat ini yang terlalu sering mereka abaikan. Sesekali aku memejamkan mata untuk meresapi kemerduan suara sang pengamen yang menghampiriku. Jari-jarinya terlihat lihai memetik senar gitar tua itu, dan lagunya yang indah begitu membuatku ikut tenggelam di dalamnya. Masih memejamkan mata karena terlena dengan alunan musik melow, tiba-tiba si pengamen memiliki niat jahat. Pengamen itu meroyok tasku dan mencoba membawa kabur.

“To…ong!!! to…ong!!!” teriakku terbata-bata.

Ah, percuma saja aku berteriak, karena tidak ada yang mungkin mengerti bahasaku. Tuhan, lagi-lagi aku harus merasakan hal ini utuk kesekian kalinya. Ketika aku ingin mereka mengerti apa yang sedang aku rasakan, namun tak ada satu pun yang peduli. Aku berlutut lemas, seraya menangis meratapi nasib yang menimpaku di pagi yang semula cerah ini. Bukan karena tas itu, namun karena aku harus merasakan kesulitan Lagi, sebab kekuranganku ini. Tak lama kemudian, tangan seseorang menyerahkan tas milikku itu dan membantuku untuk bangkit. Mataku mula-mula melirik dari sepatu seseorang yang telah menjadi penolongku pagi ini. Senyum manis tersungging di bibirku, air mataku mulai ku usap dan ku ganti dengan lekuk manis penuh bahagia. Namun aku terkejut ketika mataku memanjat ke atas, melihat sosok lelaki berhidung mancung itu.

“sudah ku bilang, aku pasti akan menemukanmu kembali. Dan sekarang, Tuhan mengabulkannya kan?” sapanya penuh senyum.
Aku dengan sigap mengetik sesuatu di tabletku untuknya, “Terima kasih,”
“iya sama-sama,” jawabnya kembali melempar senyum padaku.
Aku segera pergi meninggalkannya, karena tak tahan melihat kerlingan matanya yang indah dengan senyum manis yang mampu menjerat hatiku itu.

“tunggu!” tangannya menarik lenganku yang mencoba pergi.
Terkesan berlebihan memang, jika jantungku berdegup lebih kencang dari kemarin.
“aku hanya ingin mengobrol denganmu, jika aku sudah menolongmu hari ini, tidak bisakah kamu menolongku untuk mengusir sepi?” terusnya dengan suara lirih.
Lidahku kaku, denyut nadiku seolah terhenti, dan pikiranku mulai melayang jauh ke awan. Namun di sisi lain logikaku menyeruak, bisikan ketakutan itu mulai muncul.

Aku takut jika nanti dia menjadi illfeel padaku karena keterbatasanku, aku takut jika semakin lama aku bersamanya, aku tak bisa mengendalikan perasaanku hingga melampaui batas.
“ayolah, nda,” ajaknya padaku yang masih membelakanginya.
Baiklah, untuk sekali ini saja ku menangkan hatiku untuk sekedar berkenalan dengannya, sebagai pengganti rasa terima kasihku padanya.
Dia melepas genggamannya dan membiarkanku melangkah lebih dulu menentukan tempat di mana kita akan mengobrol.

“kenapa harus ke tempat ini lagi?” matanya menyisir luas sungai.
“karena di sini aku mendapatkan kedamaian,” ungkapku lewat tablet miniku.
“kamu tidak heran mengapa aku hanya diam dari kemarin?” terusku padanya.
“tidak,” jawabnya dengan wajah datar.
Justru sekarang aku yang merasa heran, mengapa lelaki setampan dia masih mau mendekatiku padahal jelas-jelas dia tahu aku ini bisu.

Hari itu menjadi awal perkenalanku dengannya. Kami sering melakukan komunikasi lewat ponsel karena aku sadar diri bagaimana keadaanku yang tidak mungkin menggunakan bahasa isyarat yang sulit untuk dicerna olehnya. Meski kini kami hanya berteman, namun jauh di lubuk hati terdalam ini mendambakan lelaki sepertinya. Aku hanya ingin berkesempatan merasakan bagaimana indahnya cinta jika engkau izinkan Tuhan. Tabku memang sudah penuh dengan pesan darinya, dan pikiran ini juga mulai terpenuhi banyak hal tentangnya. Bunga cinta mulai bersemi, dan aroma khas parfumnya masih sangat melekat di penciumanku yang tajam ini. Aku hanya ingin menyebut namanya dengan indah, meski itu hal yang mustahil.

Sore ini Angga mengajakku ke suatu pantai tak jauh dari kota hanya untuk sekedar jalan-jalan menikmati indahnya sunset. Aku merasa aneh ketika dia memandangiku penuh mesra. Aku melihat kedamaian di mata indahnya itu, senyumnya begitu memikatku hingga aku tak ingin berpaling darinya. “nda? Aku udah mengenal banyak tentangmu, begitu juga kamu, udah terlalu banyak tahu tentang aku. Ya meski via ponsel, tapi aku udah merasa nyaman banget sama kamu. Jika dulu kita dipertemukan di tempat favoritmu, sekarang aku akan mengajakmu ke tempat favoritku salah satunya adalah di sini. Dan besok kamu bisa mengunjungi tempat kerjaku, kamu bisa kapan aja main ke sana karena sekarang kamu bukan orang lain lagi buatku,” Jelasnya menyorot mataku.

Tuhan, perasaan apa ini? Mataku rasanya tak mampu beralih dari sosok Angga. Dia terlihat datar mengucapkan hal itu, namun berbeda denganku yang merasa baru saja mendengar kata-kata indah dari seorang penyair handal. Dia adalah lelaki pertama yang masih mau mendekatiku meski tahu aku tidak sempurna. Aku berjalan ke bibir pantai untuk sejenak bersyukur atas terkabulnya doa yang ku panjatkan setiap malamnya pada Tuhan.

09.30. Aku memoles wajahku lebih cantik dari biasanya, memilah dan memilih gaun teranggun yang akan ku kenakan untuk menemui lelaki pujaanku. Aku menyiapkan menu spesial untuknya agar kita dapat sarapan bersama nantinya. Aku memang sengaja tak memberitahunya jika aku akan menyambanginya sebagai kejutan pagi ini. Langkahku kian pasti, sesekali ku ciumi kotak nasi ini karena tak sabar untuk menyantapnya bersama Angga. Sesampai di lokasi kerja Angga yang bertempat di sebuah taman itu, hatiku semakin membuncah. Aku tak sabar menebak ekspresi Angga yang pasti terkejut bahagia melihat kedatanganku.

Dan ternyata.. Denyut nadiku lagi-lagi seolah berhenti sekejap, namun kali ini bukan karena rona bahagia melainkan ada kejanggalan yang tertangkap oleh mataku. Aku melihat banyak wanita yang jauh lebih sempurna dariku. Mereka memiliki tubuh yang seksi dengan postur tubuh tinggi semampai. Sementara Angga terlihat sibuk memotret gadis berbusana minim dengan pose yang penuh gairah. Nyaliku menciut, aku merasa bagai si kerdil yang kehilangan rembulannya. Hatiku terluka, menyadari keterbatasanku yang tak mungkin mampu menggapai lelaki yang dikelilingi banyak wanita nan sempurna. Aku membalik kan badan mengubur niatan awalku dan mencoba melangkah pergi.

“Indah? Kaukah itu?” tanyanya lantang.

Dia berlari mendekat padaku yang masih sibuk menata hati. Biar bagaimana pun aku tak boleh terlihat lemah di depannya, aku hanya tidak ingin jika dia tahu bahwa aku mencintainya, amat sangat mencintainya. Ku tampakkan senyum manisku untuknya, dan dia kembali mencairkan hatiku lagi. Justru dia mengenalkanku pada gadis-gadis cantik yang ternyata hanya rekan kerjanya itu. Tangannya terus menggenggam erat tanganku yang merasa asing dan agak minder berkenalan dengan para model cantik yang terlihat begitu wah di mataku.

Keringatku bercucuran ketika aku dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan padaku. Beruntung Angga menarikku menjauh dari mereka dan tak membiarkan mereka tahu tentang kekuranganku. Aku agak kecewa padanya kali ini, karena dia tak jujur pada temannya itu bahwa aku gadis bisu. Jika mereka tahu bahwa aku bisu tentunya mereka tidak akan mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang ku anggap aneh.

“kenapa cemberut begitu sih? Senyum dong!!” tanyanya sambil menyantap hidangan dariku.
Aku pun dengan sigap membuka tabletku dan mengetik sesuatu untuknya.
“kenapa kamu tidak bilang ke mereka kalau aku ini gadis bisu? Biar aku tidak dikeroyok dengan pertanyaan mereka yang gak penting itu?” aku masih saja memasang wajah ketus memalingkan muka darinya.

“gak perlu, lagian kamu ke sini kan mau ngajakin aku sarapan.. sekarang ayolah temani aku sarapan pagi,” bujuknya mencoba menenangkan hatiku.
“apa kamu malu memiliki teman bisu sepertiku? Aku memang tidak pantas berteman denganmu yang setiap hari dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang lebih sempurna,” terusku masih bersikap ketus padanya. Membaca tulisan dariku, Angga berhenti makan dan menarik tanganku. Mengajakku menatap matanya lebih dekat dengan mendekap wajahku.

“dapat mengenalmu adalah anugerah terindah untukku. Aku hanya tidak ingin melihatmu menangis karena ulah mereka jika tahu kamu berbeda. Jadi jangan pernah berpikir serendah itu. Justru kamu lebih sempurna dibanding mereka, kamu tahu mengapa? Karena hatimu masih berfungsi. Duniamu masih sangat natural, kesetiaanmu sudah pasti terjamin, kamu tidak pernah mengucap kata-kata yang kotor. Dibanding mereka yang hanya menggunakan paras cantik untuk mendapatkan kepuasan mereka. Kecantikanmu itu alami, karena pancaran aura dari hatimu yang begitu tulus. Jadi tolong jangan pernah sebut mereka lebih sempurna darimu,” Ulasnya menatap mataku tajam.

Bulir-bulir cinta itu menyatu menggumpal di dalam hati ini, kali ini gumpalannya semakin besar seiring kemantapan hatiku untuk dapat merajut cinta dengannya. Ya, sejak saat itulah status hubunganku naik satu level menjadi sepasang kekasih. Sepasang kekasih yang ku harap dapat abadi hingga kelak maut memisahkan. Meski berbeda, aku ingin tampak seperti pasangan kekasih lain yang terlihat serasi. Bahkan aku ingin membuatnya merasa lebih beruntung dari mereka meski itu sangat sulit bagiku. Namun tekat dan asaku untuk mencintainya sudah sangat membuncah, aku rela melakukan apapun demi dirinya tetap bersamaku. Kejutan-kejutan kecil memang sering ku berikan padanya, dan aku berusaha menuangkan seluruh perhatianku untuknya setiap saat, meski berawal dari hal yang sepele.

09.30.
“Happy Anniversary 1 Year my Honey,” pesta kejutan dariku untuknya yang selama setahun ini masih mampu menjaga hatiku.
“terima kasih,” katanya memakai bahasa isyarat tangan.
“aku akan selalu mencintaimu di sisa waktu yang ada. Kita akan selalu bergandengan bersama meski ku tahu kau berbeda. Bagiku kamu lebih sempurna dibanding mereka,” terusnya memainkan tangan sebagai bahasa isyarat.

Air mataku pecah memandangi kesungguhan kekasihku untuk mengungkapkan perasaannya lewat bahasa isyarat. Aku tahu tidak mudah untuk mempelajarinya, karena tak semua orang mampu dan mau untuk mempelajari bahasa kaum minoritas seperti kami. Dia membuka tangannya menyambut pelukan dariku. Genap satu tahun, dia mampu bertahan denganku si manusia yang tidak sempurna. Bukan tidak sempurna, aku hanya berbeda katanya. Aku akan terus setia bersamanya apapun yang terjadi, karena hati ini sudah lumpuh olehnya.

“Ang.. Ang.. a..h,” rasanya lidah ini benar-benar kaku.
Aku memang sudah sejak lama belajar mengucap namanya, aku ingin suatu saat nanti dapat menunjukkan padanya bahwa aku bisa mengucapkan namanya dengan amat sangat indah, seperti dia yang sering mengucap Indah namaku.

Drrrt, Drrrrt, Drrrt
Getar ponselku terdengar, pertanda pesan dari orang terkasih telah sampai padaku. “keluarlah,”
Aku sontak berlari keluar kamar, melihat dari atas balkon. Kembang api bersahut-sahutan terlihat menghiasi langit rumahku malam ini. Indah memang, namun akan terlihat sangat berkesan lagi ketika aku dapat bertemu dengannya malam ini meski hanya sekejap. Ponselku kembali bergetar.

“kita bisa video call sekarang? Ada yang ingin aku tunjukan padamu,” tulisnya penuh mesra.
“ini kan udah lewat tengah malam? Sebaiknya kamu tidur aja, istirahat dulu ya sayang,”
“gak bisa tidur kalau belum lihat senyum manismu. Miss you,”

Aku memang terlalu bodoh bisa sesenang ini hanya karena rayuan gombal yang bisa saja dilakukan setiap lelaki. Namun istimewanya adalah dia yang pertama mengucap hal itu untukku. Ku pandangi wajah tampannya yang sudah terlihat mengantuk, aku melihat rasa lelah yang coba dia sembunyikan dariku. Dengan bahasa isyarat lagi-lagi dia berhasil mengundang air mata bahagiaku untuk mengalir lebih deras. Dia juga menyanyikan sebuah lagu cinta untukku, di tengah malam yang kian menusuk tulang rusuk ini. Tuhan, aku semakin tak ingin melepasnya, izinkan aku untuk dapat selalu merengkuh indahnya cinta bersama insan ciptaanmu itu.

Waktu berlalu begitu cepat, tak sadar hari ulang tahunku jatuh pada hari esok. Sementara Angga sekarang sibuk di luar kota untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sudah seminggu lebih memang dia tidak menghubungiku namun aku tetap percaya padanya. Aku masih tetap optimis menggenggam hatinya hanya untukku saja. Hingga tiba pada hari dimana aku dilahirkan, tak ada sebait ucapaan dari kekasihku itu. Beberapa puluh pesan yang ku kirim tak ada satu pun yang dia balas. Aku semakin takut, aku takut jika terjadi hal buruk padanya. Tuhan, jaga kekasihku untukku, lindungi dia hingga dia kembali padaku karena aku sungguh tak ingin dia terluka.

Beberapa minggu berlalu dan tak ada kabar darinya, dia seolah menghilang entah ke mana. Hari-hariku dipenuhi rasa gelisah cemas akan dirinya. Mungkinkah dia telah berpaling dariku? Apakah dia menemukan gadis lain yang lebih memikat dibanding aku si gadis cacat yang tak tahu diri ini? Hatiku bergejolak meragukan kesetiaan Angga.

“nda?”

Suara yang ku rindukan dari sosok penakluk hatiku itu memang sering terngiang di telinga ini. Aku di sini masih tetap bertahan menjaga kesetiaan cinta kita, meski aku tak tahu di mana dia sekarang. Tepat di tempat ini, aku bertemu dengannya. Di tepi sungai penyimpan kenangan indahku bersamanya. Aku teringat dulu ketika dia sibuk mencari barang miliknya yang tidak berhasil dia temukan. Pikirku mulai oleng, hasutan tak masuk akal mulai merajai hatiku, mendorongku untuk masuk ke dalam sungai. Aku kehilangan kendali, meluapkan kecamuk hati ini pada air tenang yang tak berdosa.

Aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Angga setahun yang lalu. Dengan air mata yang tak terbendung lagi, aku seolah membabi buta menyisir sungai itu. Tak peduli basah kuyup atau menjadi perhatian banyak orang sekali pun, asal aku dapat menemukan barang itu. Hingga kakiku terluka karena pecahan kaca yang tak sengaja terinjak olehku. Aku tak peduli, seberapa banyak darah yang kini menyatu dengan air di sungai itu. Akhirnya… Ku temukan sebuah kamera, ya ini sesuatu yang ku cari. Terima kasih Tuhan, kau tidak pernah meninggalkanku sedetik pun dalam kesusasahan.

“Ang….a, Ang..A,” kata itu yang selalu ku coba teriakkan meski sangat sulit.
Aku ingin dia mendengar jeritan hatiku yang hampir mati karena rindu yang begitu menyiksa. Tahukah dia, di sini ada air mata yang sedang menunggunya kembali.

19.00.

Aku masih menikmati lamunanku, menatap kosong dinding tak bernyawa itu. Sesaat aku mendengar suara Angga memanggilku pelan, “nda?” ucapnya pelan.

Lamunanku pecah, dan sontak aku berlari ke luar untuk menemui Angga yang terlihat berdiri bersama temannya di bawah. Angga? kaukah itu? Aku masih tak percaya. Ku pandangi tubuhnya yang kini terlihat lebih kurus. Ku peluk dia erat-erat seolah tak ingin dia pergi lagi. Aku mencoba mengajaknya berbahasa isyarat mengungkapkan kerinduanku yang amat mendalam padanya.
“Ang..a, A..u, in..a , aaa.. U,” ucapku terbata bata.

“percuma nda, sekarang kamu tidak perlu lagi menunjukkan tabletmu padaku untuk sekedar mengungkapkan perasaanmu padaku. Sekarang aku tidak lagi bisa melihat indah senyummu,” terangnya melepas kaca mata hitamnya. Ku lihat jahitan di kedua mata dengan luka menganga di keningnya. Dia memberiku sebuah album foto berisi beberapa gambarku yang diambilnya tanpa sepengetahuanku selama setahun ini. Kecelakaan di perjalanan pulang memang sangat tragis yang mengakibatkan dia harus merelakan penglihatannya.

“sekarang, aku sudah tidak dapat lagi mencuri pose-pose indahmu sayang. Sekarang kita tidak perlu menggunakan bahasa tubuh untuk sekedar mengobrol. Karena kita memiliki bahasa baru sekarang, yaitu bahasa hati,” terusnya mencoba tegar.

Air mataku semakin tumpah, mencoba menerima kenyataan memilukan ini. Aku kembali memeluknya erat-erat, berharap kita selalu disatukan hingga di surga kelak. Jika dulu saja dia mampu menerima kekuranganku, mengapa tidak denganku? Karena sejatinya cinta tidak memandang keindahan yang terlihat, namun merasakan kenyamanan yang berdiam di hati.

by : Hanatul Ummah

___________________________________

Ini adalah naskah Touching Stories yang pernah saya tuturkan di Radio Bahtera Yudha 96.4 FM Surabaya. Nanti malam ada kisah menyentuh yang mengharukan yang akan saya bawakan. Ingat Sabtu malam minggu pukul 20-23. Anda yang di depan laptop bisa menyimak live streamingnya di www.bahterayudhafm.com