HARGA SEBUAH BONEKA

Hari ini aku dan anak lelakiku yang berusia 15 tahun mengadakan cuci gudang barang-barang bekas. Gudang kami sudah penuh dan sepertinya lebih baik bila mainan-mainan anakku itu dijual sehingga bisa berguna untuk anak lain.

Seperti sudah kuduga, anakku bersikap sangat cuek. Ia tidak banyak membantu. Ia lebih banyak duduk-duduk dan bermain ponsel selagi aku menjagai barang-barang yang dijual. Ketika aku hendak memarahinya, tiba-tiba datanglah seorang ibu dengan anaknya yang masih kecil.

“Halo, berapa harga boneka beruang ini?” begitu ujar sang ibu sambil menunjuk boneka beruang yang dibawa oleh anak perempuannya. Aku tidak terlalu memperhatikan boneka beruang yang sepertinya dulu sangat disukai oleh anakku itu, aku lebih memperhatikan sang anak yang terlihat begitu sakit.

Sebelum aku sempat menjawab, sang ibu berkata sambil sedikit berbisik, “Anakku beberapa minggu lalu didiagnosis menderita kanker. Karena itulah ia sangat kurus. Sekarang aku hanya ingin menyenang-nyenangkan dia saja karena dokter berkata bahwa umurnya tidak akan lama lagi.”

Aku tertegun sesaat. Aku seakan lupa caranya berbicara hingga tidak bisa merespon sang ibu tadi. Anakku rupanya juga mendengar perkataan sang ibu tadi karena sekarang ia tidak lagi melihat ponselnya melainkan sedikit melirik pada bocah yang terlihat sakit itu. Sang bocah yang terlihat sakit itu hanya sibuk bermain dengan boneka beruang di pelukannya.

Ketika aku tidak segera menjawab, sang ibu bertanya lagi padaku, “Jadi, berapa harga boneka itu? Sepertinya anakku sangat menyukainya. Semoga tidak terlalu mahal karena aku hanya kebetulan saja lewat di sini dan tidak membawa banyak uang.”

Belum sempat lagi aku menjawab, sang anak berlari mendekat ke kami. Ia menyerahkan boneka beruang itu pada anakku sambil berkata, “Kak, berapa harga boneka ini? Aku ingin membawanya pulang dan menjadikannya teman untuk tidur di rumah sakit.”

Sambil memegang boneka beruang itu, anakku kemudian berkata singkat, “Coba berikan senyum termanis yang lebar padaku.” Sang gadis sesaat nampak bingung, namun ia kemudian tersenyum lebar dengan manis sekali. Aku hampir-hampir menangis melihatnya.

Yang dilakukan oleh anakku setelahnya jauh lebih mengejutkan lagi. “Nah, tersenyumlah terus seperti itu ya. Boneka ini sekarang sudah menjadi milikmu karena senyuman tadi harganya sangat mahal. Akulah yang seharusnya membayar kepadamu,” sambil berkata begitu, anakku mengulurkan boneka itu pada sang bocah.

Anak kecil itu kemudian tersenyum lagi dengan sangat bahagia, kali ini, dia tersenyum sambil memekik, “Wah, terima kasih sekali kak! Aku berjanji akan menjaga boneka ini baik-baik!”

Setelah kejadian itu, sang ibu berterimakasih padaku dan anakku lalu berpamitan pulang. Sampai keduanya hilang di tikungan dekat rumahku, mataku lak lepas darinya. Belum pernah aku merasa sebangga ini pada anakku yang telah mencerahkan hari bocah kecil tadi.

(Lila Nathania)

__________________________________________
Senyuman itu tak ada biayanya
Tetapi manfaatnya luar biasa
Senyuman memperkaya orang yang menerima
Tetapi tak memiskinkan si pemberinya

Senyuman berlangsung dalam seketika
Begitu cepat, begitu singkat
Tetapi kesan yang ditinggalkannya
Dapat tertanam langgeng sifatnya

Senyum menciptakan suasana bahagia
Dalam rumah tangga, di tengah keluarga
Mendorong itikad baik dan
Persahabatan setia

Kalau ada kejadian
Orang bosan melemparkan senyum
Atau terlampau letih untuk tersenyum
Apa salahnya jika
Anda saja yang melontarkan senyum gantinya.
Keep smile !