Gideon pernah hampir mau mati!

Teman,
kalau Anda lihat foto saya ini, ada sesuatu yang janggalkah yang anda lihat?

Benar!
Rambut saya terlihat “petal“!
Istilah Bahasa Jawa yang menunjuk pada pertumbuhan rambut yang tidak rata.
Tuh… terlihat ada tanda putih, di mana rambut saya sudah tidak bisa tumbuh lagi.

Dulu saya minder, selalu berusaha menutupinya dengan memakai topi.
Tapi sekarang, saya justru bangga punya “stempel dari Surga” itu.

Stempel? Aneh-aneh aja ah kamu Gideon!

Jadi ceritanya,
sekitar tahun 1995, saya lupa persisnya, tiba-tiba saya mendapati diri saya terbangun di tengah kerumunan banyak orang di depan patung Jenderal Soedirman, di bilangan Jalan Yos Sudarso Surabaya.

Seperti tergopoh-gopoh bangun dari sebuah tidur yang panjang dan nyenyak.
Saya melihat ada genangan darah mengalir di aspal yang terik di siang itu.

Saya bingung,
kenapa motor saya terguling dan ringsek di sana ya?

Ketika saya berusaha mengangkat motor Grand Astrea berstrip warna hijau itu akhirnya saya limbung, dan ambruk kembali.

Waaaduuuh…., kenapa badan saya jadi lemah begini ya?!
Kenapa banyak darah mengalir deras dari atas kepala saya ya?
Entah dari bagian mana persisnya!

Ya Tuhan, apa yang terjadi pada diriku?

Dengan setengah sadar saya digoncengkan oleh salah satu pemuda yang tidak saya kenal,
dengan memakai motor saya yang ringsek itu.

Mas, kalau gak kuat, bersandar saja di pundak saya. Pegangan saya yang kuat ya, Mas!”, suaranya nampak panik.
Dan saya tidak tahu, hendak digoncengkan ke arah mana saya ini?

Sampai di sini, saya tak ingat lagi apa yang terjadi kemudian.

Tahu-tahu saya buka kain putih yang menutupi saya.
Saya sedang terbaring lemah.
Ahhh…, rumah sakitkah ini? Rumah Sakit mana ya?

Tahu-tahu pemuda yang memboncengkan saya tadi nongol wajahnya di depan saya.

Waduuuuuh…. Alhamdulillah Mas sampeyan sudah sadar. Tadi saya ketakutan sendiri kalau sampai mas meninggal gimana ya?” ujar pemuda itu.

Meninggal? Emang apa toh yang terjadi sama saya, Mas?” tanya saya kebingungan.

Begini Mas, tadi itu sampeyan tabrakan. Saya sih dari jaga parkir di Warung Pecel Ketabang Kali.
Begitu lihat banyak orang ngerubungi sampeyan, saya ini langsung lari mau menolong.

Tadi itu hampir saja loh Mas, arloji ama dompet sampeyan mau diambil orang.
Untung saya cepat datang!
Terus saya bawa Mas-nya ke Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan. Cari yang terdekat saja biar cepat ditangani Dokter“, jelas pemuda tersebut.

Sampai disini saya mulai jelas, tapi ya masih bingung juga sih!

Bingungnya, saya ini ditabrak apa dan siapa toh?
Salah sayakah atau salah dia yang menabrak saya?
Ceritanya tabrak lari nih?

Rasanya ada bagian kepingan memori saya yang rusak. Tidak tersimpan sama sekali rekaman di otak saya mengenai jejak sebelum peristiwa itu terjadi.
Bahkan saya sampai tidak bisa mengingat, sebenarnya saya itu mau pergi ke mana toh saat peristiwa kecelakaan itu terjadi?

Tadi Mas-nya ketika ditutup kain putih, aduuuuh…Saya bingung dan takut Mas. Kalau saya yang dituduh pelakunya gimana? Kalau sampai bener Mas meninggal gimana?, kata pemuda juru parkir yang wajahnya begitu pucat saat itu.

Tidak begitu lama, Dokter datang dan menjelaskan bahwa batok kepala saya ini pecah sekitar 5 sentimeter. Penanganannya sudah dijahit. Tapi Dokter belum bisa memastikan apakah terjadi gegar otak yang serius atau tidak.

Muntah gak ya?“, tanya Dokter yang saya jawab dengan pasti kalau saya baik-baik saja.

Seharusnya saya harus diopname, karena dikuatirkan ada hal-hal yang membahayakan keselamatan saya. Tapi saya tidak mau.

Bagaimana saya harus bayar semua pengobatan opname nanti? Saat itu saya masih tercatat sebagai mahasiswa ITS yang berjuang hidup sendiri di kota Surabaya. Mencari nafkah untuk bayar kuliah dan untuk bisa hidup mandiri.

Akhirnya dengan memaksa, saya tandatangani sendiri surat pernyataan, bahwa saya keluar dari Rumah Sakit atas permintaan saya sendiri. Dokter tidak bertanggung jawab bila terjadi efek lanjutan dari kepala saya yang habis dijahit ini.

Nah, kejadian itu sudah lama berlalu. Akibat operasi itu, kini sudah tidak bisa lagi tumbuh rambut di area jahitan kepala saya.
Tidak ada lagi yang perlu disesalkan lagi.

Iya, “petal” di rambut saya itu bagaikan stempel yang terus melekat di kepala saya!
Sampai nanti saya berpulang ke Surga.

Stempel itu mengingatkan saya, bahwa masih ada kesempatan kedua buat saya memperpanjang
passport di bumi.
Dan selama masih ada kesempatan, itu artinya saya harus berbuat sesuatu, bekerja untuk menuntaskan tugas dari Sang Pemilik Kehidupan ini.

Stempel di kepala saya mengingatkan saya untuk tidak main-main dan sembrono lagi dalam menjalani kehidupan.
Karena ada saatnya nanti, kesempatan kedua yang Tuhan berikan pada saya untuk hidup, itu akan berlalu.

Nah, bagaimana dengan Anda, teman?

Adakah “stempel-stempel kehidupan” dalam bentuk lain, yang Tuhan kirim itu sebagai reminder bahwa hidup ini adalah sebuah kesempatan berharga.

Gideon Yusdianto
instagram @61d30n