Gideon (gagal) jadi pengusaha

Malam hari ini, 24 September 2018,
saya berkhotbah di depan para pengusaha yang tergabung di  Full Gospel Business Men’s Fellowship International  (FGBMFI) untuk chapter Pandaan.

Melihat mereka,
selalu saya teringat akan cita-cita saya menjadi bussiness man yang sukses dan melimpah duitnya seperti mereka.

Entahlah…
Bila ada yang bilang,
kalau kita gak suka, tapi Tuhan suka!

Dan sebaliknya
Kita suka banget, tapi Tuhan malah gak suka!

Nah yang begituan terjadi loh pada saya!

Selepas lulus kuliah,
karena masa itu Indonesia masuk dalam masa krisis moneter,
maka agak susah buat saya untuk mendapat pekerjaan.

Boro-boro diterima sebagai karyawan,
lha wong waktu itu banyak perusahaan tutup alias bangkrut!

Akhirnya saya mengajar les Matematika, Fisika, dan Kimia ke para siswa SMA papan atas di Surabaya waktu itu.

Setelah terkumpul sedikit modal,
saya pengen membangun sebuah bisnis Lembaga Bimbingan Belajar
di sebuah kawasan elit di Surabaya.

Cita-cita yang baik kan?

Sebuah rumah di kawasan Manyar Tompotika untuk tempat bisnis LBB berhasil saya kontrak setahun.
Uang muka dibayar dengan memakai tabungan saya waktu itu.

Perkiraan saya,
untuk pelunasan biaya kontrak tempat itu
saya bisa pinjam dulu ke beberapa teman dekat saya.
Atau ke keluarga saya.
Atau ke beberapa teman orang tua saya.

Masa sih gak ada satu pun yang mau menolong saya?

Tapi anehnya,
tak satu pun mau memberikan pinjaman uang kepada saya.

Bahkan yang sangat menyedihkan,
saya malah dianggap seperti pengemis yang minta duit recehan.

Hingga hari di mana saya harus bayar pun, saya tidak memegang uang untuk membayar kekurangan bea sewa rumah tersebut.

Walhasil,
hilang dah uang muka yang sudah terbayar!

Sayang banget!
Padahal duit itu diperoleh dari kristalisasi keringat loh!

Dan mulai dari hari itu,
hingga kini,
mimpi jadi pengusaha sukses tak pernah terwujud.

Kecewa-kah saya ?
Gak munafik, pake banget lah kecewanya !

Aku gak sido jadi pengusaha rek!
Kudu mewek!

Tapi hari ini,
saya mulai melihat siluet indah rencanaNya.

Aku rapopo batal jadi pengusaha!
Yang penting Tuhan senang, semua kuikhlaskan.
Suka-sukanya Tuhan aja deh!

Hahaha…
Pengusaha oh Pengusaha!

Anda punya pengalaman seperti sayakah?
Mimpi, cita-cita, impian dan harapan di masa lalu
yang hari ini mungkin berguguran satu per satu?

Tapi bukankah kata Tere Liye,
Daun yang jatuh tak pernah membenci angin.
Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja.
Tak melawan.
Mengikhlaskan semuanya.

Gideon Yusdianto
instagram @61d30n