GERALD

Hari itu, aku dan Gerard (22) adikku duduk berhadap-hadapan, tanpa keraguan atau penyesalan sama sekali dia menceritakan kejadian paling menakutkan dalam hidupnya.

Sebuah kecelakaan yang membuatnya lumpuh.

“Teman-temanku mengira itu sebuah guyonan dan memintaku berhenti pura-pura mematung, padahal aku tidak dapat mengerakkan tubuhku sama sekali,” ungkapnya.

Gerard bekerja di Swedia beberapa minggu untuk mengajar siswa sekolah menengah pertama.

Suatu hari, dia dan teman-temannya memutuskan untuk pergi ke danau terdekat.

Airnya setinggi lutut, tanpa aba-aba Gerard dengan bersemangat menceburkan diri ke Danau dan menghantam batu.

Alhasil dia mematahkan tulang punggung, melumpuhkan 4 bagian tubuhnya dan itu berarti dia tak dapat menggunakan tangan atau kakinya seperti sedia kala.

Duduk di ruangan sepi National Spinal Injuries Centre, Inggris, ini menjadi kesempatan pertamaku mengobrol dengannya setelah kecelakaan tiga bulan lalu itu.

Dia tersenyum riang selagi aku memikirkan untuk menanyainya dengan hati-hati.

“Pada hari ke-dua aku terbaring di rumah sakit aku sangat sadar bahwa tak ada gunanya marah,” ucapnya dengan tatapan lebih serius.

“Tak ada gunanya menatap ke belakang, itu hanya akan memperburuk keadaan dan membuatku merasa lebih buruk.”

Selama di rumah sakit, bahkan Gerard mengaggap itu membuatnya memiliki banyak teman.

Teman-teman yang menjaga, menjenguk, dan memberi dukungan positif.

Perlu kalian tahu bahwa Gerard benar-benar individu mandiri.

Dia menghabiskan waktunya di Kanada untuk belajar, dan bepergian antar negara seorang diri.

Kemerdekaan yang dia miliki akan membawaya kemana saja sampai kecelakaan terjadi untuk menghentikannya.

Bahkan saat sekarang dia menjadi cacat, semangat hidup dan rasa ingin tahunya tak berkurang sedikitpun.

Adalah hal yang tidak masuk akal baginya untuk berpikiran ‘seandainya saja aku melompat sedikit ke kiri atau ke kanan batu itu, seandainya saja aku memutuskan untuk tidak melompat, seandainya aku tidak ingin pergi ke danau, atau seandainya aku tidak pergi ke Swedia.’

Gerard bahkan lebih sering tertawa sekarang, dia menertawai apa saja.

Meski masih dalam masa perawatan, dia tertawa saat menumpahkan makanan atau minuman.

“Jika Anda tidak dapat menertawai diri sendiri, itu akan membuat hidupmu susah,” ujar Gerard.