Gak pake kejedok tembok belakang lagi!

Melihat foto ini, saya jadi teringat masa yang telah lewat.

Di rumah The Hobbit Coban Rais yang mungil tersebut, saya dan mama bisa tertawa gembira saat ini.

Tapi tidaklah demikian kejadian di tahun 2000.

Setelah Almarhum Papa meninggalkan kami, maka kami harus keluar meninggalkan rumah warisan. Rumah itu harus dijual dan dibagi dengan keluarga yang lain.

Saya yang masih fresh graduate kala itu, sangatlah sulit bisa membeli rumah dari kocek sendiri.

Mama pun juga sudah tidak punya tabungan lagi.
Pengobatan Almarhum Papa yang mengalami kanker kolon, membuat kami habis-habisan.
Belum lagi uang Papa dan Mama yang dibawa lari oleh seorang oknum.

Terpaksa untuk sementara waktu kami ngekos di Surabaya.

Tentu anda sukar membayangkan, bagaimana rumitnya kami harus berdamai dengan diri sendiri.

Dulu tinggal di rumah yang segede 1000 meter persegi, tapi saat itu hanya bisa ngekos berdua di kamar 3×3 meter persegi.

Suatu ketika, setelah berdoa bersama sebelum tidur di malam itu, demikian kebiasan kami dari dulu hingga sekarang,
saya mengutarakan khayalan tentang ide membeli rumah di Surabaya.

Tertegun sejenak dengan wajah yang seperti tidak percaya, Mama menuju lemari dan nampak mencari-cari sesuatu. Setelah menemukannya, mama berjalan ke arah saya.
Mama menyodorkan beberapa perhiasannya yang katanya dulu dibelikan oleh Almarhum Papa.

Ini buat tambah-tambah kalau kamu mau beli rumah. Mama sudah gak punya apa-apa lagi untuk dijual.”
Begitu kata Mama.
Saya lihat kedua matanya berkaca-kaca.

Di pancaran kedua matanya ada ungkapan kesedihan, kekuatiran, ada rasa lega, dan ada rasa bahagia.
Semua bercampur aduk jadi satu.

Ya Tuhan…

Itulah Mama!
Mama paling tidak bisa melihat kesedihan anaknya.

Singkat cerita, tabungan kami berdua hanya biasa membayar uang muka sebuah perumahan tipe 36 saja.

Rencana kami akan kredit saja dengan jangka waktu selama mungkin.

Tapi karena kebaikan seorang anggota keluarga kami maka terbelilah rumah sangat sederhana itu.

Dulu, buka pintu depan rumah, bisa lari ke belakang rumah hingga 50 meter.

Sekarang, buka pintu, langsung terlihat tembok belakang rumah.
Namanya juga RSSSSSSS!
Hehehe….!

Rumit sekali pergumulan hati kami untuk bisa berdamai dengan keadaan kami yang jauh berbeda dibanding keadaan kami dulu.

Kalau dulu saya banyak mendengar kisah orang kaya yang tiba-tiba jatuh miskin dan mereka sulit untuk bisa menerima kenyataan, tapi hari itu, terutama saya, harus banyak belajar untuk bisa berkompromi dengan keadaan yang tidak senyaman dulu.

Akhirnya semua karna kemurahan Tuhan.

Dibalik sebuah pengucapan syukur, Tuhan bisa kirimkan mujizat demi mujizat, kemudahan demi kemudahan. Pemeliharaan dan pembelaan Tuhan atas hidup kami begitu mengharu-biru.

3 tahun kemudian, pengembang perumahan di mana saya tinggal, Pak Joko namanya, menelpon saya dan menawarkan sebidang tanah persis di belakang rumah! Hanya tinggal kavling itu saja yang belum laku.

Aneh ya?
Kiri kanan depan sudah laku semua, laah yang persis di belakang rumah saya kok malah sempat-sempatnya Tuhan reserved-kan buat kami.

Hahhhh…!!!
Kalau gak bisa melakukan yang ajaib ya itu bukan Tuhan, ya nggak???

Harganya super duper murah, dan cara pembayaran yang sangat amat ringan, dibanding dengan harga pasaran saat itu.

8 tahun kemudian barulah saya bisa membangun tanah kosong di belakang rumah itu. Itu pun tidak keseluruhan.

Tetapi, puji Tuhan!!!
Paling tidak sekarang kami bisa buka pintu depan rumah, berlari…
dan tanpa pakai kejedok tembok belakang lagi!

Hahaha…!!!

Gideon Yusdianto
instagram @61d30n