Gak Ada Kok Manusia Tanpa Sisi Gelap! Betul atau Betul?

Every Rose has its thorn.

Itu lagu balladnya group metal asal Amerika, yaitu Poison. Jadi hits di tahun 1988. Saya sempat menyukainya kala itu.

Lagu itu mengatakan bahwa tiap mawar memiliki duri. Tiap gelap malam menyimpan fajar. Seperti halnya para cowboy yang juga pernah menyanyikan lagu sedihnya.

Artinya selalu ada sisi gelap di setiap terang. Sebaliknya, ada sisi terang di setiap gelap. Bulan purnama yang paling terang sekalipun juga sedang menyimpan dark side-nya bukan?

Kita manusia juga begitu kan? Setiap kita pasti sedang menyembunyikan atau menyimpan sisi gelap kita masing-masing.

Apalagi kita memiliki jabatan tertentu yang dituntut untuk selalu tampil menjadi orang yang sempurna di depan manusia. Waduh…bahaya kali ya kalau aibnya tersebar! Bisa runtuh tuh bangunan image diri yang sedang didirikan.

Yang ditampilkan ini loooh… saya orang baik!

Tapi coba tanya driver atau asisten rumah tangganya. Tanya ke anggota keluarganya yang serumah. Kita mungkin terkaget-kaget dengar penuturannya.

Kalau dipikir-pikir, menyimpan sisi gelap dari hidup kita itu menuntut drama demi drama dipentaskan di panggung kehidupan. Apa gak lelah jiwa ya hidup munafik seperti demikian?

Di sisi lain, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa seburuk-buruknya seseorang, maka tak ada sesuatu yang baik dalam hidupnya. Sisi gelap hanya mau menyadarkan kita, heiii…kita ini masih manusia yang nyata yang masih menginjak bumi.

Banyak kok mereka yang setelah bergumul melawan sisi gelapnya, akhirnya ia menjadi manusia yang jadi terang dan inspirasi bagi banyak orang.

Akuilah bahwa ada sisi gelap yang sedang mengajar kita untuk berpaling kepada sisi terang.

Sheryl Lee, seorang aktris Amerika pernah mengatakan, The more we deny that we have a dark side, the more power it has over us.

Semakin kita menolak kenyataan bahwa sisi gelap itu ada, maka kegelapan itu makin berkuasa mengendalikan diri kita.

Teman. Seperti halnya kita tahu rasanya cinta saat kita pernah membenci dan dibenci. Demikian pula kita baru tersadar kalau kita ini perlu sinar terang, saat kita terlalu lelah hidup dalam topeng kegelapan.

Gelap tak kan bertahan lama, saat setitik berkas sinar terang menyinari.

Maka ketika Anda membaca tulisan saya saat ini, ijinkan terang kasihNya menerobos masuk, menghujam hingga ke ruang yang paling dalam dan paling gelap.

 

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n