FOTO DI ATAS MEJA

Seorang artis cantik hanya bisa terbaring di tempat tidur dengan tubuh yang begitu lemah karena menderita penyakit HIV. Gaya hidupnya sebagai pecandu narkoba menyebabkan dirinya harus menanggung penyakit mengerikan itu. Ia pun mulai merasa putus asa dan menyesali kesalahan di masa lalunya.

Pada suatu hari, teman dekatnya datang berkunjung, sekedar melihat keadaannya. Saat itulah dia mulai berbagi tentang keputusasaan yang dialami.

“Aku berdosa,” ucapnya.

“Aku telah menghancurkan hidupku sendiri dan kehidupan banyak orang di sekelilingku. Sekarang aku tersiksa dan tidak ada lagi yang bisa ku perbuat untuk memperbaikinya. Aku akan masuk neraka,” tambahnya dengan penuh ketakutan.

Tampak banyak berkata-kata, sang teman hanya mampu mengelus-elus lengannya. Namun tanpa sengaja pandangannya terhenti pada sebuah potret gadis kecil yang cantik dan lucu yang diletakkan di atas meja, tepat di samping ranjang si artis. “Foto siapa ini?,” tanyanya.

Segera si artis bangkit dan menjawab dengan bersemangat, “Itu putriku. Dia adalah mutiara hidupku. Satu-satunya yang terindah yang aku miliki,” ucapnya.

“Apakah kamu akan menolongnya jika dia mendapat kesulitan atau apakah kamu memaafkannya apabila dia melakukan kesalahan? Apakah kamu masih menyayanginya?,” tanyanya kembali.

“Tentu saja,” jawab si artis.

“Aku akan melakukan apapun demi dia. Mengapa kamu bertanya seperti itu?,” tandasnya.

Dengan nada yang lembut, sang teman menjawab. “Aku ingin kamu tahu bahwa Allah juga punya foto dirimu di atas meja-Nya”.

Mendengar ucapan itu, si artis pun terkesiap. Dia bahkan tak pernah mendengar hal demikian diucapkan orang lain. Ia menyadari bahwa Tuhan juga akan melakukan hal serupa kepada anaknya, sama seperti apa yang akan dilakukan sang artis kepada putri kecilnya.

______________________________________

Dalam sesi khotbah hari Minggu kemarin saya menyampaikan bahwa masalah kehidupan bisa Tuhan hadirkan sebagai bentuk perhatian, kasih sayangNya pada kita. Kita patut bangga punya TUhan di dalam nama Tuhan Yesus, karena Dia adalah Bapa yang sangat baik bagi kita.

Daud mengatakan, “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Kalau Bapa di sorga tidak menyayangkan AnakNya dikorbankan untuk keselamatan manusia , Bapa juga pasti sangat menyayangi anak-anakNya yang percaya dan yang senantiasa mengandalkan Dia dalam segala hal.

Oleh karena itu mari kita hidup selalu menyenangkan hati Bapa di setiap tingkah laku, perkataan dan juga perbuatan kita. Bila hidup kita berkenan dan senantiasa menyenangkan Tuhan, maka Dia sebagai Bapa yang baik pasti akan memberi yang terbaik untuk kita.

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya.” (Matius 7:11).

Apakah anda pernah merasakan kebaikan Tuhan, bahkan hingga sekarang ini? Itu artinya jika saat ini kita juga mengalami ‘didikan dan hajaran’ dari Dia, janganlah katakan bahwa Bapa itu jahat atau tidak adil. Dalam Ibrani 12:10 dikatakan, “Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya.”

Jadi, bapa yang mencintai anaknya pasti juga akan mendidik dan menghajar jika anaknya kedapatan berbuat kesalahan atau melakukan pelanggaran. TeguranNya mendatangkan kebaikan bagi kita.