DALLAS WIENS

Dallas Wiens, di tahun 2008, melukis sebuah gereja. Saat itu, kepala Dallas terkena jalur listrik tegangan tinggi.

Ia pun segera diterbangkan ke Rumah Sakit Parkland, diterima dalam keadaan darurat, dan dirawat di Burn Critical Care Unit. Pada saat itu, dokter mengatakan kepada keluarga Wiens bahwa Dallas tidak akan bertahan.

Melalui iman dan keuletannya, Dallas bertekad membuktikan bahwa mereka salah.

Akibat kecelakaan itu, Dallas dibiarkan tanpa fitur wajah. Saluran listrik itu benar-benar membakar wajahnya dan meninggalkan luka menganga di tubuhnya serta cedera tulang belakang.

Setelah puluhan operasi, ahli bedah telah merekonstruksi tubuh Dallas sampai mereka merasa nyaman membawanya keluar dari koma medis yang diinduksi selama tiga bulan.

Dallas pun memulai jalan yang sulit menuju pemulihan.

Karena keinginannya untuk bisa memeluk anak perempuannya yang berusia dua tahun, Scarlette, lagi, ia belajar berbicara tanpa menggunakan bibir atau gigi, membuang kursi rodanya meskipun diberi tahu bahwa ia tidak akan bisa berjalan lagi.

Ia memilih untuk melakukan push up dan olahraga di ruangan inapnya selama waktu senggang, dan bukannya istirahat.

Tiga bulan kemudian, Dallas keluar dari rumah sakit dan berusaha kembali ke kehidupan sebelum kecelakaan itu terjadi. Namun, ia tidak puas.

Setelah ahli bedah plastiknya, Dr. Jeff Janis, mempresentasikan prosedur pembedahan hidup kepada rekan-rekannya di American Society of Plastic Surgeons, ia diperkenalkan dengan kemungkinan transplantasi wajah penuh.

Prosedur langka dan berisiko ini belum pernah dicoba di Amerika Serikat.

Setelah berjam-jam melakukan penelitian, kunjungan ke rumah sakit, pengujian, dan kualifikasi, maka Dallas ditempatkan dalam daftar tunggu untuk prosedur inovatif yang akan dilakukan oleh Brigham and Women’s Hospital di Boston.

Karena Dallas cemas menunggu telepon dalam pencarian donor wajahnya, ia mulai mencari cara untuk menyoroti harapannya terhadap kehidupan korban tragedi lainnya.

Hingga akhirnya organisasi The About Face didirikan. Dallas memulai perjalanan menuju pemulihan sambil menyebarkan ceritanya sebanyak mungkin yang dia bisa.

Hingga pada suatu hari, ia mendapat telepon. Sebuah tim yang terdiri dari 30 ahli bedah dan staf rumah sakit, dipimpin oleh Dr. Bohdan Pomahac, melakukan operasi hampir 17 jam. Ini membuat sejarah untuk komunitas medis.

Berkat usaha tak kenal lelah para medis, Dallas pun bisa merasakan ciuman putrinya lagi. Operasi transplantasi itu sukses total. Dallas telah mendapatkan kembali kontrol otot dan sensasi wajah setiap hari.

Ia tidak hanya bisa merasakan ciuman putrinya, tapi ia bisa merasakan angin sejuk di kulitnya dan mencium bau makanan dan bunga.

Sensasi yang kebanyakan kita anggap remeh.

Dallas sekarang bekerja tanpa lelah untuk menjadi ayah dan mentor terbaik yang bisa ditunjukkannya kepada orang untuk mewujudkan impian mereka, meskipun keadaan mereka terbatas.

_______________________

Dalam hidup kita, kita diajarkan satu hal. Jika kita mempertimbangkannya, kita tidak akan pernah merasakan ketakutan akan kematian.

Kita dapat memilih untuk terpuruk atau memilih untuk menjadi lebih baik. Rasanya saya memilh untuk menjadi lebih baik.