Citra diri saya pernah gak sehat. Yang rugi pasti saya sendiri. Bagaimana saya berproses dalam citra diri ini?

Saya ini dulunya pemalu, minder, pendiam, gak percaya diri, tidak mudah bergaul dengan orang. Makanya kadang saya suka di-bully ama temen-temen sekolah dulu.

Ada banyak yang saya pendam sendirian, dan sulit saya terbuka. Apalagi percaya dengan orang lain. Trauma juga dengan kepercayaan yang malah disalahgunakan ama orang lain. Dan anehnya, saya nyaman banget jadi orang model begini!

Tapi setelah melalui perjalanan kehidupan yang tidak mudah, sedikit demi sedikit saya mulai mendapatkan gambar diri yang baik. Maka biasanya orang-orang yang dibesarkan bukan dari kemudahan hidup, ia akan menuai sesuatu di masa depan yang malah mendatangkan kebaikan.

Nah sekarang bagaimana caranya saya berproses untuk mendapatkan citra diri yang sehat?|


1. Saat saya mengalami kejadian buruk, di sana ada emosi negatif menyertai. Terkadang marah, jengkel, kecewa, sedih, lelah jiwa ini!

Dulu saya semakin tertekan, kok sepertinya saya jadi orang yang “kurang rohani” gitu kalau marah dan kecewa. Anggapan saya, sebagai orang percaya, maka semua emosi yang diluapkan adalah yang baik-baik saja.

Tapi sekaramg saya sadar. Mana ada manusia yang sesempurna seperti itu? Semua emosi yang dia keluarkan positif terus gitu tanpa ada dinamikanya? Kalau toh terlihat positif terus, bisa jadi kadang dia sedang memakai topeng.

Tuhan tahu kok kalau kita pun tak se-sempurna seperti Dia. Artinya, saya juga diijinkan untuk meluapkan semua emosi negatif itu.

Hanya saja perlu di-manage saja agar saat kita meluapkan emosi negatif itu tidak melukai orang lain. Tuhan juga gak pengen kita sampai menjadi penyebab cideranya hati orang lain dengan goresan kita.


2. Mulai meng-iventaris semua keunikan-keunikan saya. Jadi sebagaimana kita mengakui ada sisi negatif dari diri kita, ada juga tentunya yang positif.

Gak semua orang lho bisa seperti saya! Dari sana saya menyadari betapa Tuhan itu baik ya!

Saya berharga di mataNya. Karena dengan keunikan-keunikan itu, bila saya kelola dengan kreatif, ternyata buah manisnya bisa dinikmati orang lain.


3. Saya mulai menyadari, saya gak harus mengikuti semua kemauan orang lain, demi supaya mereka happy.

Saya juga harus memberikan ruang waktu untuk “me time“.  Waktunya nge-charge diri sendiri, setelah  membagikan kebahagiaan yang sudah saya bagikan kepada orang lain. Kan abis dipakai, bisa habis! 


Namanya juga saya diberi amanat untuk melayaniNya, kadang saya terlalu sibuk dengan masalah-masalah dan urusan orang lain. Ada waktunya saya butuh waktu pribadi untuk dilayani dengan damai sejahtera Tuhan.


4. Dulunya saya sensi banget dengan kritikan orang. Memang gak bisa dipungkiri sih, kritik ada yang menjatuhkan. Tapi dengan kritikan yang membangun pun, dulu saya jadi down.

 

Tapi, hari ini saya selalu open dengan koreksi orang lain.
Lama-lama saya bisa ngerasa kok, ini kritik karena sirik pertanda gak mampu.
Atau ini kritik yang menggelitik kita untuk semakin naik.


Yang negatif, ya sudahlah! Biarkan saja. Sesekali keluarkan jurus “roh EGP“. Emang gue pikirin! Hahahaha!

Kalau positif, dengan rela hati pasti saya akan mem-follow up dengan perubahan, Meski kadang step by step. Tapi terus maju, berubah ke arah yang lebih baik.


Kurang lebih begitulah saya berproses dalam rangka pencarian jati diri yang sehat. 

Kenapa harus sehat?

Sebab kalau jati diri kita sehat, ini akan menarik perhatian orang-orang hebat mendekat.
Menjadi kerabat kehidupan kita yang terus melekat.

 

Dari saya yang tak pernah berhenti belajar mengenal hakekat kehidupan ,

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n

This image has an empty alt attribute; its file name is 174813182_4073298219356875_5017621988301588513_n-1-1024x1024.jpg

Download aplikasi Gideon Yusdianto di Plastore untuk kumpulan tulisan saya lainnya.