(bukan) MENCINTAI untuk MENIKAH

Di sebuah group Facebook, Ani – sebut saja begitu – mengeluarkan uneg-uneg tentang perkawinannya.

Ia menikah dengan seorang lelaki yang masuk kelompok anak mami.

Segala usaha menurutnya sudah dilakukan, namun ia selalu makan hati.

Suami sepertinya membela ibunya tanpa melihat persoalan yang sebenarnya. Meski ibunya salah, suami saya memihak dia dan justru sering menyalahkan saya,” begitu salah satu keluhannya.

 

Menikah memang bukan persoalan mudah meski juga bukan sesuatu yang sulit. Ada misteri di sana, yang tidak semua pasangan bisa memecahkan misteri itu.

Masa pacaran yang lama tak menjamin bahwa hubungan kedua insan itu akan langgeng begitu memasuki gerbang perkawinan.

Apa yang rasanya kita yakini betul ternyata bisa salah saat pasangan masuk ke bahtera keluarga.

Hal-hal kecil yang sewaktu penjajagan atau masa pacaran kita abaikan bisa menjadi persoalan besar saat kita sudah menikah.

 

Pertengkaran kecil yang sewaktu pacaran dengan mudah dipadamkan, menjadi pertengkaran hebat saat sudah berkeluarga.

 

Lalu muncul pertanyaan, “Mengapa sifat pasangan yang aku cintai berubah? Tidak sama lagi dengan sifat waktu pacaran?

Ketika perkawinan sudah seperti buntu, seorang konsultan perkawinan memberi tiga alternatif tindakan yang bisa kita lakukan.

Bertahan, bercerai, atau membuat perubahan.

 

Nah, jika dulu kita “menikahi yang kita cintai”, mengapa tidak kita ubah menjadi “mencintai yang kita nikahi”?

Bisa jadi dengan mengubah pola pikir seperti itu, perkawinan yang serasa hambar menjadi segar kembali.

Tak peduli suami anak mami atau pribadi mandiri, perkawinan akan bertumbuh jika kita saling mencintai.

 

“Tekad tak ada gunanya jika tanpa cinta.” Ya, tekad untuk mempertahankan perkawinan akan sia-sia jika cinta sirna.

Bagaimana dengan Anda?

 

(Intisari)