BUKAN HIDUP UNTUK MENGHABISKAN

Seorang wanita berkata kepada suaminya, “Hindari terlalu banyak pakaian untuk dicuci.”

“Apa yang terjadi?” tanya suaminya.

“Pelayan tidak akan datang bekerja selama beberapa hari,” jawab sang istri.

“Mengapa?”

“Ia akan menengok cucunya di tempat anaknya, selama liburan ini,” jawab istrinya.

“Baiklah, saya akan mengingatnya,” kata sang suami.

“Oh ya, sebelum saya lupa, bagaimana kalau kita memberinya bonus sebanyak 500 ribu? “

“Tapi kenapa? Katamu kita harus berhemat ” tanya sang suami.

“Oh, tidak. Ia wanita malang, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia akan menemui putrinya. Dengan penghasilannya yang kecil, bagaimana ia bisa menikmati liburan yang menyenangkan?” kata istrinya.

“Itu dia! Terlalu sentimental lagi,” kata sang suami.

“Jangan khawatir dengan uangnya. Mari kita batalkan rencana kita membeli pizza untuk makan malam nanti. Tidak ada gunanya membuang-buang uang lebih dari delapan potong roti,” kata sang istri.

“Hebat! Jadi sekarang kita harus menyingkirkan pizza untuk makan malam, hanya agar pembantu bisa mendapatkan bonus?” terkejut sang suami bertanya.

Tiga hari kemudian, saat pembantu rumah tangga itu kembali bekerja, kepala rumah tangga itu bertanya padanya.

“Bagaimana liburan Anda?”

“Luar biasa, Pak. Ibu telah memberi uang untuk bonus saya sebagai bonus yang menambah kegembiraan,” kata pembantu itu.

“Saya mendengar Anda pergi ke tempat putri Anda. Bertemu cucu Anda.”

“Iya, betul Pak. Saya mempunyai waktu yang tepat. Kami menghabiskan 500 ribu, semuanya hanya dalam dua hari,” kata sang pembantu.

“Apa yang Anda beli dengan uang itu?”

“Saya membelikan cucu perempuan saya sebuah baju seharga 150 ribu, dan boneka 40 ribu, lalu permen untuk cucu saya dan membawanya ke kuil habis 50 ribu, untuk tambahan sewa rumah mereka 60 ribu, membelikan gelang putri saya 25 ribu, dan ikat pinggang bagus untuk menantu saya sebesar 50 ribu. Lalu kami habiskan sisa uangnya untuk membelikan buku tulis dan alat tulis untuk cucu-cucu saya,” jawab sang pembantu.

“Semua itu seharga 500 ribu?”

Dalam keadaan shock, pria itu mulai berpikir dan melihat pizza di kepalanya.

Setiap potongan pizza mulai berdengung di kepalanya. Ia mulai membandingkan harga pizza dengan biaya-biaya murah meriah bagi keluarga pembantunya itu.

Ia mulai membayangkan setiap potongan pizza dengan barang berbeda yang dibelikan pembantunya untuk keluarganya seperti pakaian anak-anak, permen, uang sewa, gelang, ikat pinggang, buku dan pensil.

Pria itu hanya membayangkan bagian pizza yang lezat, ia tidak pernah memikirkan bagian polos dan kering lainnya dan hari itu sang pembantu bisa mengerti bagian lain dari koin atau pizza itu.

Pizza dengan delapan potongan itu mengajarkan realitas kehidupan yang sesungguhnya.

Kejadian tersebut membuatnya sadar arti “Menghabiskan untuk hidup bukan hidup untuk menghabiskan.”