Berduaan Bersama Tuhan. Ini pengalaman saya saat sendirian di Rumah Sakit.

Pernah gak Anda merasa sendiri di tengah pergumulan hebat yang sedang Anda alami?

Saya pernah!
Terakhir, saat malam tahun baru 1 Januari 2020 kemarin.

Buuuuuuh…!
Saya menulis ini sambil mengingat kembali semua rasa yang hadir saat itu. Bingung dan sedih. Itu yang mendominasi.

Vonis dokter malam itu, Mama harus dioperasi penggantian tulang panggul kirinya yang retak akibat jatuh. Biaya total diperkirakan bisa ratusan juta. Operasinya saja sudah 70-an juta Rupiah.

Napa gak pake BPJS? Ada BPJS gak?

Ada! Tapi saat itu menurut info dokter tidak bisa dilakukan di Rumah Sakit itu, bila mau pakai BPJS. Diinfokan juga bahwa harus antri lama untuk bisa memakai fasilitas BPJS.

Nah di situlah kebingungan hadir.

Andai saja saya ada duit sedemikian besar. Yakinlah, saya pasti terjang biaya itu. Tanpa mikir panjang lagi, pasti saya akan bayar. Saya mau memberikan yang terbaik buat Mama saya saat beliau masih hidup.

Tapi, nyatanya, saya gak ada duit sebesar itu.

Sebagai manusia, saya cari pertolongan sana sini soal biaya ini. Tapi nol!

Petugas Rumah Sakit sudah bolak balik nanyain saya terus, apa jadi operasinya?  Saya bilang saya belum tahu. Tapi saya persilahkan juru rawat untuk menjalankan prosedur sebelum operasi besok. Mulai dari general check up hingga skin traksi.

Waktu berjalan terus. Entah lambat atau cepat, saya udah gak bisa merasakannya. Jam 1, jam 2, jam 3 pagi, dan seterusnya. Dingiiiin banget! Menusuk tulang dinginnya AC malam itu. 

Semua penjaga pasien telah terlelap tidur. Suster sesekali mondar mandir berjaga dan memasukkan obat.

Saya hanya berdua saja bersama Tuhan. Dia gak terlihat. Tapi saya tahu Tuhan ada bersama saya.

Dengan linangan air mata yang gak bisa berhenti, saya hanya bisa minta tolong kepadaNya.

“Tuhan tolong saya. Yesus tolong Mama!” Hanya kalimat itu yang saya ulang terus menerus di kegelapan malam.

Tahu-tahu ruang tunggu Rumah Sakit udah terang oleh mentari pagi.

Saya baca-baca WA di hape. Banyak broadcast messageHappy New Year” yang masuk. Belum lagi status WA yang banyak merekam momen malam pergantian tahun dengan penuh kegembiraan.

Gak ada yang susah seperti saya malam hingga pagi itu. Di situlah saya kembali merasa sendiri. Ya, begitulah mungkin resiko anak tunggal kali ya, merintih seorang diri.

Tapi selalu saya katakan. Tiap masalah selalu ada masa expirednya. Bukan tanpa ujung perhentian.

Satu per satu, dimulai pagi itu. Beberapa sahabat saya menghubungi saya. Bahkan ada yang langsung menjenguk Mama.

Ada yang berdoa. Ada yang menguatkan iman saya. Ada yang berdonasi. Ada yang menunjukkan jalan mesti ke mana dan bagaimana. Semua satu per satu Tuhan kirim untuk menolong saya.

Singkat cerita ada jalan untuk memakai layanan BPJS dengan cepat. Tentu saja dengan BPJS biaya yang se-ngeri itu bisa teratasi. Dokter Theri Effendi, SpOT banyak sekali membantu saya dalam hal ini.

Dari yang awalnya mata ini gelap, gak tahu mau berbuat apa. Sampai kemudian saya mulai bisa melihat ujung perhentian untuk masalah saya.

Bahkan dana pengobatan pasca operasi Mama pun, dengan iman, saya katakan, everything will be OK!

Sebetulnya kalau mau ditulis satu per satu di sini, ada banyak nama yang sangat mengasihi Mama dan saya. Mungkin hingga tulisan ini saya buat, bisa sekitar 30 nama lebih. Mereka ini seolah bergandeng tangan satu dengan yang lain atas perintah Tuhan.

Maafkan, saya tidak bisa menulisnya satu per satu. Tapi percayalah, sudah saya tuliskan setiap nama dan kebaikan kalian di hati saya. Saya gak akan mudah menghapus nama itu.

Terima kasih buat ketulusan dan semua support kalian ya! Paling tidak kalian lulus dalam ketaatan. Taat menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong keluarga kami.

Sebenarnya kalau saya renungkan, keajaiban telah dimulai saat malam hingga pagi saat itu. Berdua’an bersama Tuhan.

 

Kalimatnya memang sederhana. “Tuhan Yesus tolong saya!” Hanya itu!

Tapi efeknya gak se-simple itu. Tuhan langsung bergerak mengerahkan segala kuasa yang Ia punya. He is real!

 

Semua logika dan kepandaian saya di hadapanNya gak laku. Semua daya upaya saya terasa dihempaskan oleh caraNya.

Hari ini, puji Tuhan, Mama saya dalam proses recovery paska operasi. Mama harus fisioterapi agar dapat berjalan normal lagi. Sudah bisa berjalan dengan bantuan walker.

Untuk seusia 90 tahun, Mama saya hebat. Kenapa? Karna kami punya Tuhan yang hebat! Terus doakan Mama.

Begini, semua kita pengen Tuhan buka jalan dan kita melangkah aman dalam jalanNya bukan? Enak kan ya kalau bisa begitu?

Tapi masalahnya, dalam banyak hal. Sering yang terjadi, Tuhan bilang, melangkah saja. Nanti kan pintu ke 1, pintu ke 2, pintu ke 3, dan pintu-pintu seterusnya, Aku akan bukakan buat engkau!.

Di depan pintu pertama yang akan Tuhan buka, ia menunggu kita.

Adakah kita di sana? Berdua bersamaNya.

Ya! Hanya berdua bersamaNya!

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n