Beli Mobil dengan Penghasilan 1 Juta. Emang Bisa? Bisa kok! Ini Kisah Saya.

Beli mobil? Ahhh, gak pernah mikir lah soal itu!

Saya orangnya realistis. Mana mungkin dengan pendapatan segitu, di tahun 2011, saya bisa beli mobil.

Penasaran ya berapa pendapatan saya pas itu? Gaji saya sebagai penyiar radio di tahun 2011 adalah 1.2-1.5 jutaan Rupiah. Bahkan nyicil pun mana mampu.

Jadi sementara teman-teman punya cita-cita, kapan ya setir lurus horizontal ini jadi setir bunder 360 derajat? Saya gak pernah punya keinginan begitu. Yang penting hidup sehat, kebutuhan utama cukup, ya sudah. Hidup bersyukur dengan apa yang ada. Itu didikan Tuhan dalam hidup saya.

Mobil bukan kebutuhan urgent juga buat saya waktu itu. Pelayanan sampai jauh-jauh ya modal motor sudah cukup. Sedihnya waktu kehujanan aja

Dan suka ngrepotin orang yang mengundang saya berkhotbah di luar kota. Saya minta dijemput dan diantar. Kan riskan juga motoran ke luar kota. Tapi sekali lagi, mobil bukan kebutuhan saya yang urgent.

September 2011, saya kena musibah kecelakaan. Waktu naik motor. Berangkat siaran pas siang itu. Saya jatuh karena menghindari orang menyeberang. Akibatnya saya harus operasi, karena tulang tangan kanan saya bagian atas ini dislokasi dan pecah tulangnya.

Banyak kegiatan saya terhenti karena musibah ini. Bahkan ada beberapa orang yang kecewa karena saya harus membatalkan beberapa jadwal MC saya di wedding mereka.

Untuk jadwal berkhotbah, saya masih terus komit untuk tetap berangkat. Meski dengan kondisi tangan kanan yang difiksasi, gak bisa leluasa bergerak. Buat saya, tak ada satu pun yang dapat memisahkan kasih saya kepada Kristus.

Nah saat itu ada seseorang yang bilang ama saya untuk waktunya beli mobil. Saya tertawakan aja sarannya ini. Duit dari mana gitu loh?! Tapi dia katakan, bukankah di situ peranan iman? Yang wilayah gak mungkin gak mungkin itu.

Kan Gideon sendiri yang suka bilang. Kalau udah mungkin ya bukan iman namanya. Ayooo…kamu bisa berkhotbah kok ga bisa jalanin sendiri?”

Waduh saya kok ditantang begitu ya? Tapi saya gak panas kok, hehehe! Lha kalau panas terus duitnya auto keluar gitu? Kan nggak juga!

Saya bilang, “Ya sudah, saya tak berdoa aja dulu soal mobil ini.” Tapi jujur, saat itu saya juga tidak mendoakannya secara intensif dan serius.

Tapi terus menerus saya ditanya oleh orang yang saya kenal sejak saya suka diundang mendoakan keluarganya yang sakit di rumah. “Bagaimana keputusan Gideon dari hasil doa?”

Di suatu malam, saat saya bawa masalah ini dalam doa. Saya dapat jawaban yang harusnya beda ama keinginan saya. Keinginan saya ya gak perlu beli mobil. Daripada jadi beban ya buat apa. Belum lagi dalam operasional sehari-harinya kan ya butuh biaya besar.

Tapi malam itu dengan lembut Tuhan memberi kesan di hati saya,

Mari berjalan dengan iman bersamaKu!”

Hanya itu. Dan saya tertidur melupakannya.

Jawaban apa adanya itulah yang saya sampaikan kepada orang tersebut. Saya gak bisa tulis namanya karna beliau memang gak mau diketahui. NN saja.

Nah kalau sudah dapat jawaban itu, sekarang waktunya melangkah. Ayo mau beli mobil apa?” tanyanya.

Apa ya?” tanya saya lagi karena bingung.

Loh ya terserah. Kalau imannya kamu BMW ya silahkan datang ke showroom BMW!” Waduh jawaban ini malah terasa ngawang sekali buat saya. Gak mendarat blasss!

Saya sih dalam beberapa hari menanyakan hal ini lagi kepada Tuhan. Beli mobil apa ya? Tapi sampai seminggu lebih, saya tidak mendapat jawaban apa-apa.

Akhirnya saya putuskan sendiri. Yang gak terlalu mahal saja lah! Avanza G Matic 2011. Saat itu sekitar 180 jutaan.

Duit dari mana? Ya mboh! Pokok hubungi sales Toyota aja, sok sok’an beli gitu. Semua dilakukan via telpon. Kan saya gak bisa kemana-mana. Naik motor juga belum bisa karena tangan ini difiksasi 1.5 bulan. Harus fisioterapi bolak balik yang menguras banyak biaya juga.

Oh ya, btw, saat itu saya juga belum bisa nyetir mobil loh! Hihihi, malu ya! Udah gede kok gak bisa nyetir mobil. Tapi ya emang gitu! Mau nyetir mobilnya siapa juga.

Nah teman-teman. Keajaiban pertama muncul. Uang muka sekitar 80 juta Rupiah lunas terbayar. Darimana? Ya dari seseorang tersebut. Maka mobil kinyis-kinyis itu dikirim di depan rumah saya.

Saya cium bau mobil baru dengan mesin yang baru. Hmmmm, harum semerbak! Saya yakin Anda bisa bayangkan sendiri lah gimana bau mobil baru. Sekarang sampai ada parfum mobil yang bisa mengeluarkan sensasi aroma “new car”.

Mobil itu lebih banyak mangkrak. Siapa yang mau pakai juga. Sempat beberapa kali ada yang berbaik hati meminjamkan supir. Tapi ya gak kuat bayar operasionalnya. Saya belum bisa aktif bekerja kan saat itu. Jadi ya penghasilan dari mana.

Dari pelayanan? Waduh, saya ini orang yang tipenya gak mau jadikan pelayanan sebagai sumber mata pencaharian. Jadi tahu sendiri lah berapa “amplopan” yang saya terima. Gak pernah narget!

Cicilan dua tahun dengan angsuran per bulan 5.3 juta Rupiah, itu beban saya. Itu pun Tuhan sediakan bulan demi bulan lewat orang yang saya ceritakan tadi. Bulan pertama sampai ke-lima aman. Tapi bulan ke-enam dan seterusnya, kacau bro sis!

Di situlah Tuhan didik saya untuk tidak andalkan manusia. Terkutuk kan kalau kita ini ngarep ama manusia.

Mungkin karena kesulitan keuangan atau bagaimana, donatur saya ini tidak melanjutkan supportnya. Saya tiap hari stress pandangi mobil ini. Ini berkat atau beban ya Tuhan?

Tapi lagi-lagi saya ingat doa di malam itu. Saat Tuhan mengajak saya berjalan dengan iman bersamaNya. Secara keuangan mustahil saya bisa bayar segitu banyak tiap bulannya. Apalagi ini sampai dua tahun! Oh noooo!!! God pleaseeeee!

Beberapa teman anjurkan saya mobil itu dijual saya, oper kredit. Kan enak saya terima duit sedikitnya 50 juta katanya. Daripada harus begitu stress. Ada beberapa yang mau bantuin proses oper kredit.

Toh saya terima 50 juta juga gak ada ruginya kan? Lha wong selama ini saya bayar uang muka dan angsuran juga bukan dari kocek saya. Itu dikasih orang. Jadi gak ada ruginya harusnya.

Toh saya gak pengen beli mobil kok mestinya. Balik motoran lagi juga no problem! Daripada saya lenger-lenger tiap hari mikirin terus utang segitu banyaknya. 

Tapi lagi-lagi saya teringat janji Tuhan di malam ketika saya berdoa seorang diri di kamar. Saya cuma mau praktekkan iman percaya saya. Bahwa iman dalam Tuhan tak pernah gagal. Amin!

Teman, bulan demi bulan, saya lalui kayak orang gila. Saya gak bisa loh tipe beriman yang ngawang-ngawang begitu. Gak jelas sama sekali meski hanya bayangan ke depannya mau bayar model bagimana. Huffftttt! Kalau inget ya nyesek juga sih.

Tapi saya gak mau curhat ke mana-mana. Saat saya curhat, malah saya dihina dan dihakimi oleh orang lain. Bahwa saya orang bodoh yang gak bisa perhitungan. Bahwa saya ini orangnya sombong dan pengen pamer. Bahwa saya ini terlalu mencobai Tuhan. Dan bla bla bla bla. Banyak juga penghakiman yang saya terima saat itu. Hmmmmm….

Saya sudah gak mau lagi andalkan manusia. Saya hanya bisa menangis dan curhat dalam tiap doa-doa saya kepada Tuhan. Dan, Yesus itu baik! Tak pernah Ia memandang hina hati yang hancur.

Dalam kesesakan, saya bilang, kalau saya salah dalam keputusan itu, saya minta ampun dan minta solusi terbaik. Tapi lagi-lagi, suara Tuhan yang lembut itu muncul dalam hati saya.

Marilah berjalan dalam iman bersamaKu.”

Tapi, iman saya sempat down juga ketika mata fisik saya tidak kunjung melihat titik terang untuk membayar cicilan yang besok sudah jatuh tempo. Akhirnya saya pasrah saja. Mau apapun yang terjadi, saya terima. 

Malam terakhir, sebelum harinya jatuh tempo pembayaran, saya ajak Mama berdua keliling-keliling kota Surabaya dengan mobil.

Saya bilang, “Terima kasih Tuhan buat berkatMu. Setidaknya malam ini saya ingin puasin dan bahagia’in Mama ajak jalan-jalan dengan mobil ini. Meski hanya sekejap ada di hidup saya, kini saya ikhlas bila mobil itu Kau ambil lagi

Saya putarin terus kota Surabaya. Enggan pulang rasanya. Tapi saya yang lagi nyetir melihat Mama udah tertidur pulas. Mama gak tahu bagaimana berkecamuknya badai di hati saya malam itu. Yang dia tahu, dia aman dalam setiran anaknya.

Langsung saya tersadar. Bukannya saya juga harus tenang dan damai ya, meski di tengah badai yang mengamuk? Yang saya tahu, masa depan saya aman di tangan Tuhanku.

Hmmm, kembali air mata menetes melow saat saya bangunkan tidur Mama, karena kami sudah sampai kembali di garasi rumah.

Teman, sejak setelah malam itu, mujizat demi mujizat terjadi. Seperti minyak yang terus mengalir dari buli-buli yang kosong, milik seorang janda yang terlilit hutang. Itu kan kisah Alkitab yang pernah terjadi. Itu juga yang saya alami.

Dari orang yang gak kenal sama sekali, seorang Bapak menyapa saya saat bubaran ibadah di Gereja. Beliau mentransfer puluhan juta Rupiah ke rekening saya.

Dari orang yang gak saya kenal sebelumnya, seorang ibu menghantarkan amplop nazarnya kepada Tuhan. Beliau bilang itu untuk saya. Saya heran dan amazing banget. Kok bisa sampai kaya kisah burung gagak yang menghantarkan daging dan roti kepada Elia untuk dimakan ya?

Belum lagi ada juga setelah itu kejadian rekening saya selalu ada transferan duit sejuta Rupiah tiap bulan hingga setahun. Dari nama yang saya tidak kenal sama sekali. Ajaib tenan!

Tuhan pun memberkati hasil jualan online saya saat itu. Dari jualan kartu internet, speaker, powerbank. Pokoknya apa aja dijual yang penting halal. Omset saya bisa puluhan juta Rupiah dalam sebulan.

Masih banyak hal lagi pertolongan demi pertolongan Tuhan dalam hidup saya. Lewat manusia-manusia berhati kasih yang tulus, yang Tuhan kirimkan kepada saya.  Terima kasih untuk beberapa sahabat yang juga telaten ngajarin saya nyetir mobil sampai bisa. 

Saya ingat juga di tahun 2012, ada rekaman lagu saya “PertolonganMu”. Diaransemen dengan begitu apik oleh Ruth G Notes, dan diciptakan oleh DQS yang waktu itu menawari saya untuk terlibat dalam proyek rekamannya bersama hamba-hamba Tuhan lainnya.

Lagu itu sungguh jadi rhema buat saya. Jadi nyanyinya menjiwai banget. Dari penjualan CD album itu saya juga bisa bayar kebutuhan-kebutuhan saya. Puji Tuhan!

Saya menangis terharu kalau ingat semua kejadian itu. Seolah Tuhan berbicara

“Kamu pikir AKU gak bisa kerahkan semua kekuatanku dari segala arah untuk menolong kamu, yang sudah taat dan setia ama janjiKU?”

Singkat cerita, Oktober 2014, lunas sudah mobil itu. Mobil perjuangan iman. Saya langsung jual karena sudah terlalu banyak tangan yang nyetir mobil itu. Beberapa kondisinya sudah gak OK. Saya tukar tambah dengan Mobilio yang sekarang ini saya pakai.

Nah teman, ini kisah saya. Mana kisahmu? Tak terlupakan sampai kapan pun.

Doa saya, keajaiban demi keajaiban Tuhan, juga Anda alami. Modalnya? Percaya saja! Katakan langsung, Amin!

Keadaan baik bukanlah sepenuhnya artinya Tuhan ada di pihak Anda. Sebaliknya, keadaan buruk bukanlah sepenuhnya artinya Tuhan sudah tidak berkenan akan diri Anda.

Selama ada di iman yang benar, selama ada di kehendakNya, jangan takut akan apapun juga. Mari pertahankan percaya kita kepadaNya. Tuhan tak pernah permalukan Anda kok! Amin?


Ibrani 11:1 (BIMK)

Beriman berarti yakin sungguh-sungguh akan hal-hal yang diharapkan, berarti mempunyai kepastian akan hal-hal yang tidak dilihat.

 

Gideon Yusdianto
Instagram @61d30n