BATU BATA MIRING

Saat liburan panjang, seorang mahasiswa pulang ke kampung halamannya. Di sana, tengah dimulai pembangunan sebuah Gereja, dan tentunya, sangat diperlukan tenaga sukarela untuk membantu.

Si pemuda itu pun dengan senang hati ikut ambil bagian kegiatan tersebut. Dengan bersemangat, ia mulai belajar mengaduk semen, meletakkan bata, melapisi dengan semen, kemudian menaruh bata, menyemen lagi, merapikan, demikian seterusnya. Dengan semangat menggebu, akhirnya, setengah tembok berhasil diselesaikan. Lalu dengan perasaan puas, walaupun sedikit lelah, dia berdiri mengagumi tembok hasil kerja pertamanya.

Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang janggal. Ada empat batu bata pertama yang tersusun tidak rapi! Keempat batu bata itu tampak lebih menonjol dan miring di antara batu bata lainnya yang tersusun rapi. Timbul perasaan kecewa dan tidak puas atas hasil kerjanya. Bergegas, ditemuinya Bapak Pendeta Gerejanya untuk mendiskusikan masalah yang mengganggu pikirannya.

“Lihat Pak, batu bata pertama yang saya pasang kurang rapi sehingga mengganggu keindahan seluruh tembok di atasnya. Tolong Pak, beri kesempatan kepada saya untuk memperbaikinya dengan merobohkan dan memasang ulang batu-batu bata itu. Saya berjanji pasti akan mengerjakan sebaik-baiknya sampai selesai.”

Namun, usulannya itu ditolak. “Tidak ada yang perlu diperbaiki, Nak. Tembok sudah naik setengah, tidak perlu dirobohkan hanya gara-gara empat bata yang kurang rapi. Teruskan saja pekerjaanmu hingga selesai,” ujar Pak Pendeta.

Akhirnya, meski merasa kecewa dan tidak puas, si pemuda mampu menyelesaikan keseluruhan tembok tersebut. Namun, setiap kali melewati batu bata yang kurang sempurna itu, selalu timbul rasa tidak puas dan bersalah yang mengusiknya. Ia secepatnya berlalu, pura-pura tidak melihat, bahkan sengaja berjalan memutar untuk menghindari pemandangan bata miring tersebut. Sebab, setiap kali melewatinya, ia merasa diingatkan pada kesalahan yang telah diperbuatnya. Ia menganggap, kesalahan itu akan dilihat banyak orang yang lewat di sana.

Sampai suatu hari, ada kunjungan seorang pemimpin dari ibukota. Si anak muda mendapat tugas mendampingi mereka berkeliling di tempat itu. Tiba-tiba sang pemimpin menghentikan langkah menatap tembok di sana dan berkata, “Wah, dinding ini indah sekali.”

Dengan terkejut, si pemuda lantas bertanya, “Apanya yang indah, Pak? Apakah Bapak tidak melihat empat batu bata yang miring dan mengganggu kesempurnaan seluruh tembok ini?”

“Oh ya, saya melihat empat batu bata itu, tetapi saya juga melihat ratusan batu bata lainnya yang bagus! Karena ketidaksempurnaan seperti katamu itu anak muda, membuat dinding ini justru tampak indah untuk dinikmati, bukan sekadar dinding kosong yang rata.”

Sejenak si anak muda terpana. Untuk pertama kalinya, sejak tembok itu berdiri, pemuda itu melihat tembok yang sama, dengan kesadaran yang berbeda. Sebelumnya, matanya selalu memperhatikan kesalahan yang telah dilakukan hingga ia selalu ingin menghancurkan seluruh dinding. Dia tidak menyadari tumpukan batu bata yang bagus dan sempurna yang jauh lebih banyak jumlahnya. Kebaikan yang banyak dari hasil kerjanya itu, seolah tertutupi kesalahan kecil yang ia lakukan sebelumnya.

_______________________________________________________

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sebab, kita semua hidup dengan aneka keterbatasan. Setiap manusia, Anda dan saya, tentu memiliki “bata” yang jelek dan “bata” yang bagus di kehidupan. Ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah, tak ada gading yang tak retak. Dalam sebuah keindahan, pasti terdapat kekurangsempurnaan.

Kadang, tanpa sadar kita melakukan kesalahan, tetapi dari sana kita justru bisa belajar tentang sebuah kebenaran. Tak jarang, kita juga mengalami kegagalan, agar bisa merasakan nikmatnya sebuah keberhasilan. Karena itu, tak perlu malu dengan kesalahan di masa lalu. Jangan pula patah semangat saat kegagalan mendera. Sebab, di balik semua itu, kita bisa belajar sesuatu.

Kesadaran akan keterbatasan sebaiknya dapat menjadi pemacu semangat kita untuk terus melakukan perbaikan dalam segenap aspek kehidupan. Bukan saatnya lagi kita meratapi kekurangan, tapi justru dengan keterbatasan itu, kita bisa terus belajar untuk memaksimalkan kelebihan yang sudah ada guna membangun masa depan.

Jadi, jangan hancurkan dinding yang bagus karena bata yang tak sempurna. Karena, di balik setiap proses kehidupan, pasti ada proses pembelajaran. Tujuannya satu: untuk menguatkan dan menyempurnakan, sehingga hidup lebih bermakna.

 

logo_1543818_web

 

5 thoughts on “BATU BATA MIRING

  1. Nice story 🙂 jangan tinggal di masa lalu, tapi mari menata masa depan untuk lebih baik lagi 🙂

  2. Tiap” diri kita tidak ada yg sempurna . Tp Tuhan yg berkarya dalam hidup kita yg membuat kita jauh lebih indah . Jgn pernah menyesal apa yg telah terjadi . Tapi ada apa di balik rencana itu , itu yg indah……….

  3. Meaningful story….^=^
    Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu utk mendatangkan kebaikan bagi yg mengasihinya.
    Just hear His voice, obey&focus on Him.
    Nothing impossible with Jesus God.
    He is the master of creator in this universe. Justru dalam kelemahan kt, kuasaNYA menjadi sempurna. Bahkan Roh Kudus sanggup merubah kutuk menjadi berkat.
    Haleluya! Keep Following Jesus, no turning back…^=^
    ..”̮°Ł‎​ђąηk ўσυ..°”̮.. Jbu

  4. Pg.crita yg bagus thx ko
    Betul kita stiap di ingatkan utk slu mau belajar utk Bersyukur,juga Taat&Setia pd Tuhan.dlm sgla Situasi& kondisi D mnana dlm stiap proses kita juga d ajari juga utk tetap bersemangat & tak patus asa dlm berkarya .smp kita menutup mata.
    Thank y Ko G.ats Kisahnya hr ini.
    Met melayani pg ini& met bertugas.tetap Slu Semangat&Tersenyum.Hati” d perjlnan.Gbu

  5. Good story ko…emang kita hrs belajar unt. menerima ketidaksempurnaan yg sempurna dlm segala hal. Belajar bersyukur atas semua yg terjadi. Sebuah sulaman yg indah terbentuk dri untaian benang yg saling tumpang tindih dibaliknya….Cbu

Comments are closed.