BAPAK TUA

Di satu siang yang panas, seorang direktur perusahaan besar mengendarai mobilnya untuk kembali ke kantor. Ia baru saja makan siang dengan orang-orang penting dan sekarang ia berkendara sambil berpikir tentang rencana kerjasama dengan orang-orang penting yang ditemuinya tadi.

Ketika berhenti di satu lampu merah, tanpa sengaja ia menoleh ke kiri jalan. Di sana ia melihat seorang bapak tua yang cacat. Ia sepertinya tak bisa berjalan dan pakaiannya pun lusuh. Namun, yang menarik perhatiannya adalah wajah bapak tersebut. Wajah bapak itu begitu damai dan bahagia. Ia tersenyum sambil melihat-lihat keadaan sekelilingnya.

Tiba-tiba saja direktur ini menjadi tidak fokus lagi berpikir tentang pekerjaan. Sepanjang perjalanan pulang ke kantor ia bertanya-tanya dalam hati, “Apa yang dipikirkan pria tua tadi? Mengapa ia begitu bahagia?”

Beberapa hari berlalu dan direktur ini sudah lupa akan bapak tua tadi. Namun suatu hari, ia lewat di perempatan yang sama dan melihat lagi bapak itu. Bajunya masih tetap lusuh. Dan raut wajahnya juga masih tetap bersinar. Direktur ini makin penasaran, “Mengapa ia bisa begitu bahagia?”

Hal ini mengganggu pikiran sang direktur selama berhari-hari. Akhirnya, ia memutuskan untuk bertemu langsung dengan pria tua itu. Ia harus tahu alasan mengapa ia bisa begitu bahagia padahal keadaannya seperti itu.

Direktur ini akhirnya memilih satu hari dan pergi ke perempatan itu. Ia turun dari mobilnya dan menyapa bapak tua tersebut. Bapak tua itu membalas sapaannya sambil tersenyum. Direktur tersebut lalu bertanya, “Bapak, saya sering melihat bapak ketika lewat di perempatan ini. Saya melihat bapak selalu tersenyum. Apa yang membuat bapak begitu bahagia?”

Bapak tua ini menjawab, “Tentu saja, tuan. Saya selalu bahagia setiap hari.” Direktur ini melanjutkan, “Apa yang membuat bapak begitu bahagia? Apa bapak punya uang yang banyak?” Bapak tua menyahut, “Wah, tentu tidak. Saya hanya punya uang sedikit. Terkadang saya makan dari pemberian orang.”

“Lalu apa yang membuat bapak bahagia? Bapak punya keluarga yang saling menyayangi?” lanjut sang direktur. “Tidak, saya tak punya keluarga. Dulu saya punya, namun mereka meninggalkan saya setelah kaki saya cacat seperti ini,” jawab sang pria tua.

Direktur ini kemudian terdiam sejenak. Ia melanjutkan lagi dengan penasaran, “Saya lihat, ada begitu banyak kemalangan dalam hidup bapak. Namun bapak justru bahagia setiap hari. Mengapa?” Direktur ini sangat penasaran dengan jawaban sang bapak tua ini. Sebenarnya, ia sendiri merasa sudah memiliki segalanya namun tak bahagia. Karena itulah ia ingin tahu bagaimana rahasianya bapak tua ini bisa selalu bahagia meski kekurangan.

Sambil tersenyum lebar, sang bapak tua berkata, “Tuan, jika tuan beragama, tentu tuan yakin bahwa Tuhan tidak pernah memberikan ujian yang lebih berat dari yang bisa kita tanggung. Saya selalu yakin bahwa beban hidup dan kesulitan yang ada saat ini adalah ujian yang diberikan untuk mengubah saja menjadi lebih baik. Jadi, mengapa harus bersedih? Semua ini adalah anugerah Tuhan juga!”

Direktur ini sangat kaget. Ia kemudian berkata, “Bagaimana bapak bisa berpikir seperti itu? Bagaimana jika ini semua adalah ujian? Bagaimana jika ini bukan dari Tuhan?” Bapak tua ini berkata lagi, “Tentu Tuhan sendiri yang mengizinkan ini semua terjadi pada saya. Segala hal yang terjadi pada saya saat ini tentu merupakan yang terbaik bagi saya. Saya yakin, Tuhan punya rencana terbaik untuk saya. Jadi, saya menjalani rencana Tuhan ini dengan hati gembira.”

“Bagaimana bisa bapak menjalani hari-hari yang berat dengan pikiran positif seperti ini?” tanya direktur itu dengan tak percaya. Bapak ini pun menjawab lagi, “Ketika saya merasa sedih, saya akan mencoba memahami apa yang ingin dikatakan Tuhan. Saya berusaha melihat sisi positif dari sebuah kejadian. Dari situ, saya selalu bisa menemukan hikmahnya. Segala hal yang terjadi di dunia ternyata memang baik adanya untuk perkembangan kita semua.”

Setelah mendengar itu semua, direktur ini pun merasa tersadarkan. Ia pun kemudian berpamitan dan berterima kasih pada bapak tua itu. Sekarang, ia pulang dengan wajah berhias senyum.

______________________________________

Bukan memperoleh segala hal yang ada di dunia ini baru kita bisa berbahagia dan bersyukur.

Tapi senantiasa bersyukur dalam segala keadaan itulah yang akan membuat hidup kita bahagia dan tentu saja kita akan mendapatkan apa yang di-ingin-kan oleh hati kita.

Tidak perlu menunggu masalah membaik baru kita bisa bersyukur, karena justru dengan banyak bersyukur itulah yang akan membuat masalah anda membaik.

Di balik mendung yang paling pekat, di sana telah tersedia tetesan air hujan yang paling bening, yang siap jatuh membasahi permukaan bumi.