BANTUAN DARI TUHAN

Seorang wanita sedang bekerja ketika ia menerima telepon kalau putrinya sangat demam.

Ia meninggalkan pekerjaannya dan mampir ke apotek untuk membeli beberapa obat untuk putrinya.

Ketika kembali ke mobilnya, ia melihat kunci mobil ada di dalam mobil. Ia sedang terburu-buru pulang karena anaknya sakit.

Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, jadi ia menelepon ke rumah dan menanyakan kepada baby sitter apa yang terjadi dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Baby sitter mengatakan putrinya semakin parah demamnya.

Ia berkata, “Anda mungkin bisa menemukan gantungan baju dan menggunakannya untuk membuka pintu.”

Wanita itu memandang sekeliling dan menemukan sebuah gantungan baju tua berkarat yang dibuang oleh orang lain beberapa waktu lalu atau orang lain yang juga mengambil kunci dalam mobil mereka.

Wanita itu menatap gantungan baju itu dan berkata, “Saya tidak tahu bagaimana menggunakan ini.”

Lalu ia menundukkan kepala dan meminta Tuhan untuk mengiriminya bantuan.

Dalam waktu lima menit sebuah mobil tua berkarat, kotor, dan berminyak, berhenti.

Pengendaranya seorang pria berjanggut dengan kain penutup kepala bergambar tengkorak di kepalanya.

Wanita itu berpikir, “Ya Tuhan. Inikah yang kau kirimkan untuk membantuku?”

Pria itu keluar dari mobilnya dan bertanya apakah ia bisa membantu.

Wanita itu berkata, “Ya, putri saya sedang sakit. Saya mampir untuk membeli obat dan kunci saya tertinggal di dalam mobil yang terkunci. Saya harus segera pulang untuk anak saya. Tolong, bisakah Anda gunakan gantungan ini untuk membuka mobil saya.”

Pria itu berkata, “Tentu.” Ia berjalan menunju mobil, dan dalam waktu kurang dari satu menit mobil itu pun terbuka.

Wanita itu memeluk pria itu dan dengan air mata yang berlinang, ia berkata, “Terima kasih banyak. Anda adalah orang yang baik.”

Pria itu menjawab, “Bu, aku bukan orang yang baik. Aku baru saja keluar dari penjara hari ini. Aku di dalam penjara karena kasus pencurian mobil dan baru keluar sekitar satu jam yang lalu.”

Wanita itu memeluk pria itu lagi dan dengan air mata berlinang ia berteriak keras, “Terima kasih Tuhan telah mengirim seseorang yang profesional!”

(K. Tatik Wardayati)