AYAH

Nampak disana seorang laki-laki paruh baya yang berbadan gemuk. Lelaki itu duduk dan melepas sepatunya, sambil mentup piano kesayangannya dan dengan wajah yang kelihatan lelah dan sedikit tersenyum dia menjawab. “Sabar Nak, ayah akan melunasinya begitu ayah punya uang.”

Begitulah yang terjadi setiap malam ketika beliau pulang dari tempat kerjanya. Di keluarga kami beliau dikenal sebagai tukang hutang, sudah berulangkali Ibu berkata, “Sabar ya Nak, nanti jika ayahmu punya uang, pasti kok dikembalikan.” Entah mengapa setiap kali ayah meminta pinjaman uang, hatiku ini tak tega untuk menyembunyikan isi dompetku. Hingga sekarang, entah berapa uang yang telah beliau pinjam dariku.

Setelah mendengar kisah yang kuceritakan itu, salah seorang temanku bertanya, “Kok bisa ya ayahmu seperti itu?” Sambil mengubah posisi dudukku di pinggiran trotoar , aku menjawab, “Tau tuh… aku sendiri juga bingung rasain hobby ayahku yang satu ini, akhirnya Ibu juga harus ikut bekerja menanggung ulah ayah ini. Bahkan, sampai hari ini hutang keluarga kami pun masih belum bisa dilunasi.” Sambil kemudian kulahap pentol bakso yang tinggal sebiji dari mangkokku.

Setelah kami berempat usai menikmati bakso, seorang temanku mengeluarkan kamera dan berkata, “Ayo, kita lanjutkan shooting kita.” Ya, kami berempat sedang mengerjakan proyek kelas untuk membuat film pendek. Namun sore itu menjadi hari yang tidak pernah kami lupakan sampai selama-lamanya.

Praaaaakkk…!

Suara sebuah benda yang jatuh itu kemudian menjadi suara paling menyayat hati yang pernah kami dengar. Kamera pinjaman yang jadi andalan kami untuk membuat proyek film kelas ini tanpa sengaja jatuh dan rusak. Melihat itu, kami berempat saling bertatap-tatapan, dan kulihat wajah mereka sangat pucat, tidak terkecuali aku. Bagaimana tidak? Kamera Nikon hitam itu adalah barang pinjaman, dan harganya sangat mahal. Celaka, kami pasti tidak sanggup menggantinya!
Akhirnya kami pun pulang dan tak dapat meneruskan pengerjaan tugas untuk hari ini.

Ketika aku tiba di rumah…
Kulihat ayahku sedang duduk di teras depan rumah, dan aku tahu, aku tidak bisa menyembunyikan air mukaku darinya. “Ada apa Nak, kenapa wajahmu muram sekali?” Pertanyaan itu sudah kuduga akan segera keluar dari mulut pria yang memang suka ngepoin aku.
Dalam hatiku, ingin rasanya kututupi saja masalah yang barusan terjadi, namun cepat atau lambat beliau akan segera tahu. Akhirnya kuceritakan semua apa adanya, dengan konsekuensi aku akan dimarahi habis-habisan.

Ayah hanya diam saja mendengar kisahku. Dengan keringat dingin, kusiapkan hatiku untuk dilanda ombak kemarahan yang keluar dari lelaki berkepala botak itu, Namun tidak nampak setitik amarah pun di wajahnya. Tanpa kuduga pianis tua itu justru memasang wajah penuh senyum yang menenangkanku dan menciptakan sedikit kelegaan di dalam hatiku ini.

Keesokan harinya, kami berempat berkumpul dan mendiskusikan masalah kamera kemarin. Semua temanku ternyata tidak ada yang mendapatkan lampu kuning apalagi lampu hijau, kalau orang tua mereka mau membantu mengganti kamera itu. Kudengar kisah bagaimana mereka dimarahi habis-habisan karena menceritakan kejadian kemarin dan orang tua mereka tidak mau tahu soal bagaimana bisa mengganti kamera itu. Disitu diriku menjadi lemas, aku tahu keluarga mereka lebih berada daripada keluargaku. Kalau orang tua mereka saja tidak berbuat apa-apa, apalagi orang tuaku?
Aku sadar, bahkan sesadar-sadarnya… tiada kemampuan dalam diri kedua orang tuaku untuk membantuku menyelesaikan masalah ini.

Sepulang dari sekolah, kutemukan tas kertas mungil yang cantik di meja ruang tamu di rumahku, cukup cantik untuk membuatku penasaran dan mempertanyakan apa isinya. Baru saja aku bertanya-tanya apa isi dari tas situ, ayahku keluar dari kamar…

Dan kemudian….

“Buka tas itu Nak….”

Saat kubuka, betapa terkejutnya aku ketika kutemukan sebuah kamera Nikon hitam persis seperti kamera pinjaman kami sedang duduk manis di dalamnya.

“Itu untuk mengganti kamera pinjaman itu.” Ucapnya.

“Ayah! Ini uang hutang darimana lagi!?” Sontak aku marah kepada ayahku. Aku kenal betul dompet ayahku, sejak krisis ekonomi melanda keluarga kami, dompet hitam itu setiap kulihat isinya jarang sekali lebih dari seratus lima puluh ribu. Apa yang ada di pikirannya? Aku benar-benar tidak mengerti sama sekali.

“Ayah tahu kan kondisi ekonomi keluarga kita? Kenapa ayah malah menambah hutang keluarga kita!?” Ucapku dengan nada yang memekakkan telinga.

“Aku tahu ayah berniat baik dengan mencari uang untuk mengganti kamera pinjaman itu, tapi bukan begini caranya dong!”
cerocosku dengan sangat tidak sopan.

“Hutang kepadaku saja tak mampu ayah bayar, padahal uang itu aku dapat dari kerjaku membantu Tante sebelah mengantar kue… kalau sekarang ayah berhutang lagi, akan berapa orang Dept Collector lagi yang akan mencari ayah ke rumah ini?”

Dengan ketus aku memprotes tindakan ayah yang seharusnya adalah tindakan nyata sayangnya padaku.

Dengan tenang, lelaki itu malah bertanya kembali. “Nak, ketika engkau sedang mengalami kesulitan, bukankah engkau ingin dibantu?”

“Tentu saja ayah, siapa yang tidak ingin dibantu!?” begitulah ucapku spontan dengan masih sedikit kesal karena tindakannya yang kurasa sangat bodoh.

Kemudian ayah menyeret sebuah kursi, duduklah beliau sambil bercerita, “Kau ingat? Dulu waktu ekonomi kita jatuh karena hutang, ayah merasa sangat ingin ditolong. Tapi tidak ada seorang pun yang menolong ayah….”

Dalam dua atau tiga helaan nafas, pria yang duduk berhadapan denganku itu melanjutkan bicaranya…

“Sekarang, kamu dan temanmu mengalami apa yang dulu ayah rasakan, ayah tidak tega untuk tidak menolongnya.”

Aku dibuat mati kutu oleh orang yang selama ini kubenci….

“Orang tua lain saja tidak mau berbagi dari kelebihannya, tapi ayahku mau berbagi dari kekurangannya. Memang, tidak perlu kita menunggu berduit banyak baru menolong orang lain.
Bila orang berbagi dari kelebihannya, bukankah itu adalah hal yang biasa saja? Namun bila orang berbagi ketika sebenarnya tidak ada yang bisa dibagi, itu akan menjadi kisah yang amat berkesan dan menginspirasi banyak orang.”
Demikian suara hatiku berkata.

Meski begitu, aku tetap terganggu dengan asal uang yang dipakai ayah untuk membeli kamera pengganti itu. “Pasti hutang lagi, memang mau ada duit darimana lagi?” pikirku. Namun kuakui, lelaki bermata plus ini memang paling jago membaca ekspresi wajahku, seolah mengerti jalan pikiranku beliau berkata, “Tenang Nak, ayah pakai uang ayah sendiri kali ini.”

Itu membuatku melongo, otakku berputar cepat mencoba membalas perkataan ayah barusan. “Yang benar saja yah? Setahuku, ayah tidak pernah memiliki simpanan ataupun barang berharga yang bisa dijual, kalaupun ada pasti itupun hanya pi……“. ocehanku berhenti, mataku mencari-cari piano tua kesayangan ayahku yang biasanya terletak di sudut ruang tamu ini. Mataku menjelajah ke seluruh sudut ruang itu, namun tidak dapat kutemukan sama sekali.

“Tidak perlu kaucari lagi, ayah sudah jual piano itu.” Ucapan yang lembut itu membuatku tidak dapat membendung air mata mengalir deras ke pipiku. Sebesar itukah pengorbanan yang harus kita lakukan untuk menolong orang lain? Namun kutemukan jawaban itu

“Bila kau melihat orang lain dalam masalah, tolong orang itu secepatnya. Karena bersamaan dengan waktu berlalu, masalah akan berlalu. Ketika masalah itu usai, kau akan menyesal karena kehilangan kesempatan untuk menolong orang lain.” Ucapnya dengan penuh makna padaku.

Seketika itu pula aku mengerti betapa hebatnya ayah yang kumiliki, betapa durhakanya aku kepada beliau….
Piano adalah barang berhaga satu-satunya yang dimiliknya saat ini…
Piano itu adalah barang kesayangan yang tak mungkin ia lepaskan, apalagi untuk menanggung kesalahanku.
Dan selama ini hanya pianolah tempat ia mencari hiburan jika sedang dirundung sedih karena sejuta kesulitan yang dihadapinya.
Semua harta kami telah ludes terjual untuk menyelesaikan hutang, hanya piano yang disisakan dan dipertahankan ayah….. namun….

“Ah… tak sanggup lagi aku berkata-kata…”

Aku seorang anak, namun jika memaki ayah, seolah aku ini bos dan dia tak lebih dari sekedar kacungku…
Hatiku menangis, menjerit… kecewa dan marah pada diri sendiri.
Kupeluk ayah, kusampaikan maafku yang terdalam…
Aku telah salah menilainya selama ini…

Belakangan kuketahui, hutangnya sedemikian banyak karena harus mengganti uang kepada supplier kain. Beliau ditipu habis-habisan oleh rekan kongsinya.

Oh Tuhan…..

Memang, apa yang diucapkan ayahku itu benar adanya. Nasehat itulah yang akhirnya mengubahkan paradigma hidupku dan ketiga temanku.

Memberi bukanlah masalah berkelimpahan atau berkekurangan…
Memberi bukan bicara kelayakan orang yang menerimanya….
Namun memberi adalah sebuah keputusan dan gaya hidup.

_____________________________________

Begitulah pengorbanan seorang ayah. Yang begitu rela melepaskan apapun yang dimilikinya, bahkan melepaskan harta berharga satu-satunya untuk menyelamatkan anaknya dari kesulitan apapun yang sedang dihadapi anaknya yang justru seringkali menyakiti hatinya.

Kalau Bapa yang didunia saja tahu tentang yang terbaik bagi anaknya apalagi Bapa kita di surga. Oleh sebab itu Bapa Surgawi kita menyerahkan putra-Nya yang tunggal. Meski sakit, perih dan harusnya BAPA tak rela melepaskanNya tapi DIA lakukan karena Ia sangat mengasihi kita anak-anakNya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengkaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Yohanes 3:16

by Lenny Saputra

One thought on “AYAH

  1. I don’t know about tha family’s background of this story but I think it’s not good to be always in debt. Fortunately, he still loves his child. That means there is a hope in the family and heaven in the father’s heart.

Comments are closed.