Antara Teman dan Temin, Konco dan Konci, dan Sahabat. Terus bedanya apa?

Sore kemarin saya sedang menikmati Cold White di @kawanseduh. Nyantai sejenak sebelum malamnya ada acara makan malam bersama keluarga.

Iseng-iseng saya melihat inbox Gmail saya yang penuh. Ada 38.000’an email yang tak terbaca. Whoooos….uakeh tenan Cah! (Banyak sekali!).

Rupanya hampir 90% isinya adalah notifikasi dari Facebook. Bila ada teman yang nge-wall, atau comment di status saya, maka ada notifikasi di email yang masuk. Lengkap dengan isi wall atau comment-nya.

Saya melihat beberapa nama teman-teman di Facebook yang pertama kali saya pakai di tahun 2005.

Nama-nama itu ada yang hmmm.…(nyeruput Cold White sek)….sudah meninggal dunia. Baik itu karena sakit atau ada yang bunuh diri.

Ada yang sekian lama berteman di sosial media tapi ya gak pernah ketemu hingga sekarang. Hanya sebatas gambaran virtual di dunia maya.

Ada teman-teman dari Gereja saya yang lama, dari GKI Pregolan Bunder dan dari Gereja Tiberias Indonesia. Halo teman-teman! Long time no see ya! Saya berharap tembok Gereja tidak pernah memisahkan persahabatan kita, right?!

Ada pula comment dari beberapa rekan Gereja lain yang ketemu saat saya diundang berkhotbah di Gereja mereka. Beberapa nama itu masih reguler saya jumpai di Gerejanya. Masih setia ama Gerejanya, walaupun sudah puluhan tahun. Nah, yang beginian nih sudah langkah!

Yang banyak, kami masih berelasi di Facebook saat ini dan juga ketemu di luar Facebook, Tapi ketemunya sudah di tempat pelayanan atau pekerjaan yang baru. Ya, bukankah hidup ini dinamis?!

Senyum-senyum sendiri saya memandang hape saya di tengah ramainya pengunjung coffee shop yang memang khusus berjualan kopi. Tidak ada menjual makanan di sana. Sesekali ada banana cake.

Membaca email-email jadoel itu, ada yang commentnya bijak (atau sok bijak, saya juga gak ngeh saat itu. Hehehe…). Ada yang lucu-lucu juga.

Yang jelas mereka semua ini terhubung ke akun Facebook saya karena radio-lah yang menghubungkan kita. Dahsyat emang, dari orang kuper yang gak kenal siapa-siapa, ehhh berkat acara Pelangi Bahtera Yudha FM saat itu, tiba-tiba saya ada di kumpulan kerumuman banyak akun dan banyak orang saat ini. Puji Tuhan!

Persahabatan itu memang aset berharga yang harus kita jaga baik-baik. Pepatah mengatakan seribu teman kurang, satu musuh terlalu banyak.

Anda pernah baca kisah Damon dan Phytias gak? Hah? Belum pernah baca? Ya wes nih tak ceritain. Hehehe…! Kan saya sahabat baik. Cieehhh….!

Di abad 5 SM, tersebutlah nama Damon dan Phytias. Mereka ini 2 orang sahabat sejak kecil dan tak terpisahkan.

Saat dewasa, berlayarlah mereka ke Italia daerah Siracusa. Tak disangka, Phytias rupanya menyinggung penguasa Dionisius I yang diktator. Ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati karena dianggap menghina.

Damon mendengar kabar itu dan ia pergi memohon keringanan hukuman bagi sahabatnya,. Tetapi permohonannya ditolak.

Maka sebelum dijatuhi hukuman mati, Phytias ingin menjumpai ibunya terlebih dulu dan berpamitan. Damon pun kembali menghadap pemerintah.

Ia minta bisa menggantikan posisi sementara supaya Phytias bisa pulang pamitan dengan ibunya. Sebagai jaminan, maka Damon dipenjara. Bila Phytias tidak kembali pada waktunya, Damon-lah yang akan dieksekusi.

Tapi sayang, setelah Phytias menemui ibunya, ia dirampok dan disiksa kemudian diikat. Phytias tidak merasakan lukanya. Ia hanya ingat janjinya pada Damon.

Dengan sekuat tenaga, ia melepaskan diri dan melompat ke sungai. Phytias berenang sekuat tenaga dan akhirnya sampai ke tempat Damon dipenjara.

Di Siracusa, Dionisius I, terus mencemooh kebodohan Damon. Katanya, Phytias pasti sudah melupakannya, dan Damon akan mati sia-sia. Tapi Damon tetap yakin kalau sahabatnya pasti akan memegang janjinya.

Hari mulai gelap dan eksekusi akan segera dilaksanakan. Damon dibawa dan akan dieksekusi di depan ratusan orang yang mencemooh dan mentertawakannya.

Tiba-tiba Phytias datang dengan tubuh penuh luka dan peluh. Lalu ia menceritakan kejadian sebenarnya yang menimpa dirinya. Dua orang sahabat itu pun berpelukan.

Melihat adegan persahabatan yang mengharukan itu, Dionisius I tersentuh hatinya. Begitu terharu hingga membuat ia membebaskan kedua sahabat ini dari eksekusi. Alasannya karena mereka telah menunjukkan sesuatu yang sulit didapat di dunia yaitu persahabatan yang sejati.

Ahhh..jadi ikut terharu juga begitu ngetik kisah mereka berdua ini.

Nah teman, ada banyak orang nantinya yang akan keluar masuk di hidup Anda. Tapi hanya seorang sahabat-lah yang akan meninggalkan jejak kemurahan di hati Anda.

Ada yang bilang, seorang sahabat seperti bintang. Kita tidak akan selalu melihatnya. Tapi ia selalu setia ada di sana mendukung Anda.


Gideon Yusdianto

Instagram @61d30n