ANALOGI PENSIL

Kita bisa menganalogikan perjalanan manusia seperti pensil. Agar bahagia, kita perlu menjadi layaknya pensil dalam hidup.

Dalam hidup, kita bisa mencontoh sebatang pensil kayu yang sederhana. Ada banyak orang yang sukses dalam hidupnya, namun jangan lupa bahwa kita hanyalah sebatang pensil. Sebenarnya ada sebuah tangan yang besar dan membimbing setiap langkah hidup kita. Tangan ini adalah Tuhan. Tuhan selalu membimbing kita meraih kesuksesan. Jadi jangan pernah menyombongkan kesuksesan yang kita raih berkat pertolongan-Nya.

Saat menggunakan pensil, kita pasti pernah berhenti untuk merautnya. Pensil yang diraut akan terluka, sakit, dan bahkan kehilangan sebagian dirinya yang lama. Namun memang begitulah proses untuk menjadi lebih baik. Ketika sudah diraut, pensil akan menjadi tajam. Dengan terus mengasah diri dan melalui berbagai macam masalah dalam hidup, kita bisa menjadi lebih baik dan lebih tajam dalam menghadapi apapun. Ingatlah bahwa penderitaan dan kesedihan tidak abadi, mereka justru akan membuat kita jadi orang yang lebih tangguh.

Pensil juga tak pernah keberatan saat kita memakai penghapus. Tak pernah ada pensil yang berhasil menuliskan segala sesuatunya 100% benar. Pensil membuat kesalahan, penghapus menghapus yang salah dan pensil memperbaikinya. Ingatlah bahwa manusia selalu membuat kesalahan. Tak perlu malu atau merasa gagal. Akan selalu ada kesempatan untuk menghapus yang lalu dan menulis lagi untuk mengutarakan dan menjalankan kebenaran.

Kita juga harus ingat bahwa hal terpenting dari sebatang pensil bukanlah kulit luarnya. Orang mungkin pertama kali menilai pensil dari kayunya yang bagus, warna atau gambar yang menarik, dan sebagainya. Namun hal terpenting dari pensil tentu tetap grafit yang ada di dalamnya.

Bagian luar pensil atau penampilan luar manusia akan hilang dimakan waktu. Bagian luar ini akan terkelupas atau akan selalu ada gambar dan desain lain yang jauh lebih bagus dari milik kita. Namun ingat, yang terpenting adalah grafit. Fokuslah untuk mengembangkan diri dan menuliskan hal-hal baik dalam hidup. Penampilan luar bukanlah hal yang terpenting.

Pensil juga tak pernah merasa perlu membandingkan diri. Di dunia ini ada pensil, ballpoint, spidol, dan sebagainya. Pernahkah pensil ingin menjadi spidol? Tentu tidak. Begitu jugalah dengan manusia yang setiap individunya unik. Kita semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita memiliki peran yang unik di dunia. Jadi tak perlu membandingkan diri atau ingin menjadi seperti orang lain.

Terakhir, pensil selalu meninggalkan bekas. Pensil yang baik selalu digunakan, bahkan hingga kecil dan habis. Jangan sampai kita menjadi pensil yang seumur hidup tak pernah digunakan sehingga sama sekali tak meninggalkan jejak.

Dalam hidup, manusia harus berbuat sesuatu. Lakukanlah hal yang baik dan benar agar saat kelak kita pergi, bekas-bekas itu masih akan mengena di hati orang lain. Sadarilah setiap tindakan kita saat ini, karena itu semualah bekas yang akan tertinggal dan dikenang oleh dunia.