AKIBAT BAN BOCOR

Pada satu siang, Bono sedang menyetir untuk bertemu dengan kliennya. Klien yang akan ia temui ini sangat penting dan ia akan membuat deal yang besar untuk perusahaannya. Sepanjang jalan, Bono memikirkan pertemuannya nanti.

Saat sedang berhenti di lampu merah, Bono melihat seorang nenek yang sudah cukup tua menepi. Lampu hazard mobilnya menyala dan bannya kempis. Nenek ini terlihat bingung dan menengok ke sana kemari untuk mencari bantuan.

Melihat raut wajah sang nenek yang kebingungan, Bono merasa terketuk hatinya. Belum ada seorang pun yang menolong nenek itu. Kebanyakan pengendara motor memalingkan wajah pura-pura tidak lihat. Bono pun sejenak ragu, ia harus segera berangkat untuk meeting dengan kliennya. Tapi, siapa yang bisa menolong nenek itu?

Akhirnya setelah berpikir sebentar, Bono membuka ponselnya. Ia mencari kontak kliennya dan menelepon. “Halo. Selamat siang, Pak Deddy, mohon maaf ini saya di jalan dan ada sedikit keperluan yang sangat mendadak. Saya mungkin akan terlambat kurang lebih 10 menit. Apakah tidak apa-apa?” ujar Bono. “Halo. Iya, tidak apa-apa Pak Bono, anak saya juga sedang sedikit sakit. Saya mungkin juga sedikit terlambat.”

Setelah pembicaraan itu Bono pun lega. Ia segera menepikan mobilnya dan menghampiri nenek itu. Ia segera bertanya, “Bu, ada yang bisa saya bantu?” ibu tua itu terlihat sangat bersyukur dan berterimakasih. Bono pun langsung mengambil dongkrak dan ban serep lalu membantu mengganti ban yang bocor.

Bono kemudian berkata, “Kayla itu anakmu yang sakit, Pak Eri?” “Oh, iya. Pagi ini dia tiba-tiba demam, jadi aku meminta ibuku untuk datang. Untung saja ada ibuku. Tapi kasihan, tadi pagi ban mobilnya bocor, ” cerita Pak Eri.

Dengan sedikit kaget, Bono menjawab, “Lho, tadi siang aku justru baru saja menolong seorang ibu mengganti ban mobilnya. Dia malah memberiku kue yang harusnya jadi oleh-oleh.” Pak Eri menjawab, “Wah, kok mirip sekali dengan cerita ibuku. Tadi dia datang dan minta maaf karena kue yang seharusnya untuk Kayla diberikan untuk orang asing yang membantunya, dan namanya juga Bono! Kebetulan sekali!”

“Apa nama Ibumu Arini?”

“Iya!”

“Astaga, jadi saya tadi pagi menolong ibu Anda, Pak Eri?”

“Jadi itulah alasannya kamu terlambat? Wah, saya sangat beruntung bisa berbisnis dengan orang seperti Anda. Mulai sekarang, saya akan selalu mempercayakan proyek-proyek perusahaan saya di tempat Pak Bono. Terima kasih atas bantuan bapak kepada ibu saya hari ini.”

Setelah itu, keduanya tersenyum dan mereka berjabat tangan erat.

__________________________________________

Tidak ada yang kebetulan di kisah ini !

Kebaikan itu selalu membuahkan kebaikan yang lain. Entah itu lewat orang lain dan peristiwa yang tak terduga, apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Jadi, jangan ragu untuk berbuat kebaikan, meskipun kadang kebaikan kita disalahgunakan dan disalahpahami orang lain. Tuhan tidak pernah menutup mata buat setiap kebaikan yang anda buka.