Akhirnya, saya negatif dari SARS-Cov-2!

Akhirnya, 7 Februari 2021 saya dinyatakan negatif melalui PCR test.

8 Februari 2021, Mama juga menyusul negatif juga. Puji Tuhan!

 

Penantian yang panjang sejak kami berdua divonis positif terinfeksi virus SARS-Cov-2.

Hampir 1.5 bulan! Tepatnya buat saya 1 bulan 12 hari. Sungguh, ujian kesabaran sekaligus ujian iman buat kami.

 

25 Desember 2020 malam, tiba-tiba indera penciuman saya mendadak hilang. Padahal tidak sedang pilek atau alergi di hidung.

26 Desember 2020, saya segera sadar diri untuk PCR test. Karena hasilnya terlalu lama, saya nambah test swab antigen Hasilnya positif!

 

Segera saya ke IGD Siloam Surabaya malam itu. Dokter Paulus Triaji Hadiwijaya yang lagi in charge memeriksa paru-paru dan beberapa item pemeriksaan darah.

Suhu badan saya saat itu 37.8. Padahal di luar rumah sakit terukur tidak demam, 36.8. Lhaaaaa terus??

“Mau percaya ama termometer saya atau termometer di luar?” kata dokter Paulus.

Karena tergolong gejala ringan, saya disuruh isolasi mandiri selama 2 minggu. 4 jenis obat diresepkan. Anti virus, antibiotik, vitamin D3, dan multi vitamin. Sengaja gak saya sebutin merknya biar gak disalahgunakan.

 

Senin, 28 Desember 2020 saya lakukan PCR test ke Mama. Badannya semakin lemas dan pusing katanya. Esoknya keluar hasilnya. Positif!

Memang udah dari tanggal 22 Desember 2020 Mama sudah kelihatan lemes. Saya gak pernah terpikir, itu salah satu gejala Covid-19 pada lansia.

 

Selasa 29 Desember 2020, di saat saya baru saja sakit dan butuh happy biar imun segera naik, ehhh…malah harus pontang panting membawa Mama periksa ke IGD Rumah Sakit.

Nyetir mobil sendiri berdua ama Mama. Nyetirnya saat itu mungkin seperti orang mabuk. Bingung gak karuan!

 

Malam itu, 3 rumah sakit sudah menolak kami. Walau hanya untuk periksa, bukan ngamar loh!

2 jam lebih saya muter-muter jalanan di Surabaya.

Akhirnya dengan sedikit memaksa, Mama yang tahun ini berusia 91 tahun, diperiksa juga di Mitra Keluarga Kenjeran Surabaya. Standarnya cek paru-paru dan beberapa item darah di laboratorium.

Gejalanya masih tergolong ringan. Tapi yang sangat menguatirkan adalah usia Mama. Apa bisa 91 tahun bertahan melawan virus SARS Cov2?

 

Dokter Amelia meresepkan obat yang sejenis seperti yang saya minum untuk bekal isolasi mandiri di rumah. Dengan dosis lebih rendah karena memperhitungkan usia Mama.

Puji Tuhan, kami berdua tidak pernah sesak nafas. Oximeter selalu berada di angka 95-99.

 

Begitulah ceritanya mengapa saya sunyi senyap di sosial media selama ini. Menenangkan hati.

Penyakit ini lebih ke penyakit kejiwaan kok daripada penyakit fisik. Tidak ada obatnya selain imun tubuh kita sendiri.

 

Dari mana imun muncul? Ya kalau kita gak stress.

Bagaimana biar gak stress? Ya munculkan iman!

Mudahkah saya melaluinya? Ngaku deh, gak gampang! Ujian ini terasa sangat tinggi levelnya buat saya.

Lha serumah positif semua. Asisten rumah tangga kami positif juga! Duh Tuhan! Gak kuat rasanya melalui ujian seberat ini. Saya pun kesusahan menelusuri, siapa yang pertama kena duluan. 

 

Tapi saya bersyukur. Ada beberapa sahabat rasa keluarga yang banyak mendoakan kami. Saya gak akan pernah lupa kebaikan mereka satu per satu.

Saya percaya kok, mereka bukan hanya mendoakan agar kami cepat negatif dari virus. Mereka juga pasti berdoa untuk iman kami. Biar iman tetap on the right track.

Bahkan bukan doa saja yang mereka berikan. Makanan, vitamin, obat, bahkan dana untuk kami berobat selama sakit.

This image has an empty alt attribute; its file name is 1612886544559-1019x1024.jpeg

 

Panjang banget kalau kisah ini saya detailkan. Soon deh!

Di sana ada rasa sakit, ada rasa takut dan kuatir, ada putus asa yang berhinggap.

Saat saya tinggal sedikit lagi terjatuh, Tuhan cepat hadirkan tanganNya melalui segala caraNya untuk menjagai kami.

Kini saya tidak sekedar tahu dan berteori lagi soal Covid. Saya sudah mengalami sendiri. Meski tidak sampai pada gejala yang berat.

 

Kesimpulannya:

1. Jangan pernah anggap remeh SARS-Cov-2. Saya yang udah sangat rewel dengan protokol kesehatan aja toh kena juga. Apalagi mereka yang mengabaikannya!

2. Kalau toh kena juga, tenang aja. Asal Anda cepat bergerak memeriksakan diri dan berobat, virus ini tidak akan sampai berakibat fatal.

3. Iman akan membentuk imun. Penting untuk kita bergaul lebih karib denganNya. Meski hanya dari kamar isolasi.

 

Gideon Yusdianto.
Instagram @61d30n